preekslamsi

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masalah kesehatan pada ibu hamil dan ibu bersalin merupakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian utama, karena mempunyai dampak bagi kualitas generasi yang akan datang. Angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas) pada wanita hamil dan bersalin merupakan masalah besar di negara-negara berkembang salah satunya adalah Indonesia. Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan barometer pelayanan kesehatan ibu disuatu negara. Bila AKI masih tinggi berarti pelayanan kesehatan ibu di suatu Negara belum baik, sebaliknya bila AKI rendah berarti pelayanan kesehatan ibu baik (Saifuddin, 2002).

Kehamilan dan pesalinan merupakan hal yang fisiologis yang dialami oleh setiap wanita, kelahiran bayi merupakan peristiwa yang menyenangkan karena berakhirnya masa kehamilan yang telah lama dinantikan serta dimulainya kehidupan baru, tetapi kelahiran bayi juga dapat merupakan saat kritis bagi kesehatan ibu, dimana kemungkinan timbulnya suatu masalah atau penyulit yang jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat akan membahayakan kesehatan atau bahkan menyebabkan kematian bagi ibu (Prawirohardjo, 1999)

Menurut definisi WHO, kematian ibu adalah kematian seorang wanita hamil atau selama 40 hari sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab apapun terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri kehamilan (Prawirohardjo, 2002).

Kematian dan kesakitan pada wanita hamil dan bersalin selain berpengaruh pada AKI juga berpengaruh pada Angka Kematian Bayi (AKB) yang menjadi indikator derajat kesehatan masyarakat. Menurut WHO tahun 2003 di Indonesia tercatat sebagai Negara tertinggi di Asia Tenggara dalam pengumpulan angka kematian ibu mencapai 470/1000 kelahiran. Angka kematian ibu di Indonesia menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) pada tahun 2005 yaitu sebesar 290/100.000 kelahiran hidup, sedangkan AKB di Indonesia menurut (SDKI) Survei Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2004 sebesar 32/1000 kelahiran hidup. Adapun target yang ditetapkan Departemen kesehatan 2010 yaitu menurunkan AKI diharapkan menjadi 125/100.000 kelahiran hidup dan AKB menjadi 15/1000 kelahiran hidup ini merupakan suatu tantangan bagi petugas kesehatan dalam menurunkan AKI dan AKB di Indonesia (Depkes 2005).

Kehamilan dan pesalinan merupakan hal yang fisiologis yang dialami oleh setiap wanita, kelahiran bayi merupakan peristiwa yang menyenangkan karena berakhirnya masa kehamilan yang telah lama dinantikan serta dimulainya kehidupan baru, tetapi kelahiran bayi juga dapat merupakan saat kritis bagi kesehatan ibu, dimana kemungkinan timbulnya suatu masalah atau penyulit yang jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat akan membahayakan kesehatan atau bahkan menyebabkan kematian bagi ibu (Prawirohardjo, 1999).

Menurut definisi WHO, kematian ibu adalah kematian seorang wanita hamil atau selama 40 hari sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab apapun terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri kehamilan (Prawirohardjo, 2002)

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat tahun 2003 AKI di Jawa Barat yaitu 321,15 per 100.000 kelahiran hidup. Dengan penyebab kematian perdarahan 253 kasus (39,2%), preeklampsi / eklampsi 96 kasus (14,9%), Infeksi 39 kasus (6,05%), dan lain – lain sebesar 256 kasus (39,7%) (Profil Kesehatan Provinsi Jabar, 2005).

Penyebab utama kematian maternal masih disebabkan trias kematian ibu yaitu perdarahan, infeksi dan eklampsi. Penyebab langsung kematian bayi adalah aspiksia komplikasi pada bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan infeksi. Namun ada beberapa faktor tidak langsung yang juga mempengaruhi dalam hal ini yakni : pendidikan ibu, sosial ekonomi, ada istilah “ 4 terlalu”, yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering dan terlalu banyak, serta istilah lain yaitu “3 terlambat” yaitu terlambat mengambil keputusan, terlambat mengirim, dan terlambat mendapat penanganan

Berdasarkan hal tersebut diatas, adapun kebijakan dan strategi dalam menurunkan angka kematian ibu dengan cara pendekatan yang dikembangkan yaitu yang disebut : MPS atau making pregnancy safer “ tiga pesan kunci yang harus diperhatikan yaitu setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih, setiap komplikasi obstetrik dan neonatal dapat pelayanan yang memdai setiap WUS mempunyai akses terhadap pencegahan terhadap kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi. Selain itu untuk menurunkan AKI, kita telah mempunyai intervensi strategis, empat pilar Save Motherhood yaitu pelayanan keluarga berencana, pelayanan Antenatal Care, pertolongan persalinan yang bersih dan aman serta pelayanan Obstetri Esential. Salah satu upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi adalah dengan meningkatkan pelayanan kebidanan dan kesehatan ibu, remaja prahamil, KB serta pencegahan dan penanggulangan penyakit menular seksual yang semuanya terangkum dalam PKRE (Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial) juga pemerintah memasyarakatkan gerakan sayang ibu (Safe Motherhood). Wujud nyata dari upaya tersebut adalah dengan memberikan asuhan kebidanan komprehensif pada antenatal, intranatal, postnatal dan pada bayi baru lahir (Prawirohardjo, 1999).

BPS Bidan Entat Suryatika merupakan salah satu BPS di wilayah kerja Puskesmas Pabuaran Cirebon yang memberikan pelayanan pada ibu mulai masa pra nikah, masa kehamilan, persalinan, nifas dan masa antara. Pada periode Februari 2007 tercatat ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya ke BPS Bidan Entat Suryatika adalah 24 orang. Salah satu ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya ke BPS Bidan Entat Suryatika adalah Ny. E yang usia kehamilannya 36 minggu dan ini merupakan kehamilan yang kedua bagi Ny. E.

Untuk memperoleh gambaran yang sesuai dan jelas mengenai pelayanan yang dilaksanakan pada Ny. E, penulis perlu untuk melaksanakan asuhan kebidanan secara komprehensif kepada Ny. E yang dimulai pada masa kehamilan, persalinan, nifas serta bayi baru lahir, sehingga penulis mendapat pengalaman nyata di lapangan mengenai praktek pelayanan kebidanan secara komprehensif.

Berdasarkan uraian diatas penulis merasa tertarik untuk mengkaji lebih dalam tentang “Asuhan Kebidanan Komprehensif Antenatal, Intranatal, Postnatal, dan Bayi Baru Lahir pada Ny. E di Bidan Entat Suryatika Pabuaran Cirebon”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas maka rumusan masalah pada studi kasus ini adalah bagaimana asuhan kebidanan komprehensif pada Ny.E agar kehamilan, persalinan, masa nifas ibu berlangsung secara fisiologis dan melahirkan bayi yang sehat.

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Agar mengetahui gambaran mengenai asuhan kebidanan masa antenatal, intranatal, postnatal, bayi baru lahir dan prosesnya secara komprehensif

2. Tujuan Khusus

a. Dapat melakukan pengumpulan data subjektif pada klien antenatal, intranatal, postnatal dan bayi baru lahir normal pada Ny. E

b. Dapat melakukan pengumpulan data objektif atau pengkajian fisik pada klien antenatal, intranatal, postnatal, bayi baru lahir dan komplikasi yang mungkin terjadi pada Ny.E

c. Dapat melakukan diagnosa pada asuhan antenatal, intranatal, postnatal dan bayi baru lahir pada Ny.E

d. Dapat melakukan deteksi dini terhadap komplikasi pada asuhan antenatal, intranatal, postnatal dan bayi baru lahir pada Ny. E

C. Manfaat

1. Bagi Institusi Pendidikan Stikes Ahmad Yani

Penulis berharap bahwa studi kasus ini dapat bermanfaat sebagai bahan dokumentasi dan bahan perbandingan untuk studi kasus selanjutnya.

2. Bagi Bidan Praktek Swasta Bidan Entat Suryatika

Penulis berharap studi kasus ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan tentang manajemen kebidanan yang diterapkan di Bidan Praktek Swasta di Cakupan Wilayah Puskesmas Pabuaran Cirebon.

3. Bagi Penulis

Kegiatan studi kasus ini berguna untuk menambah dan meningkatkan kompetensi penulis dalam memberikan pelayanan kebidanan pada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir.

D. Ruang Lingkup

Dalam studi kasus ini dibahas mengenai asuhan kebidanan komprehensif pada Ny.E dimulai sejak kehamilan trimester 3, persalinan, masa nifas, dan Bayi Baru Lahir.

E. Lokasi dan Waktu Studi Kasus

Lokasi di BPS bidan Entat Suryatika yaitu salah satu bidan puskesmas Pabuaran Cirebon.Waktu Studi Kasus yaitu periode Februari – April 2007.

F. Sistematika Penulisan

Studi Kasus ini terdiri dari 5 bab utama yaitu ;

1. BAB I PENDAHULUAN

Dalam BAB I ini terdapat tentang apa yang melatar belakangi studi kasus ini, bagaimana perumusan masalahnya, apa yang menjadi tujuan pembuatan studi kasus ini, apa manfaatnya, apa saja ruang lingkup studi kasus ini, dimana dan kapan pelaksanaan studi kasus ini.

2. BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Berisi tentang teori apa saja yang melandasi pembuatan studi kasus ini.

3. BAB III TINJAUAN KASUS

Berisi tentang kapan dan dimana pelaksanaan studi kasus ini, sipa yang menjadi target dalam studi kasus ini, bagaimana kasusnya dan apa yang diberikan untuk mengatasi kasus tersebut.

4. BAB IV PEMBAHASAN

Berisi tentang pembahasan atau penyelesaian antara landasan teori dengan kasus yang terjadi

5. BAB V PENUTUP

Berisi tentang kesimpulan dari keseluruhan bab yang ada dalam studi kasus ini dan saran atau masukan untuk penulis, untuk instansi pendidikan dan BPS sebagai tempat studi kasus ini.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Agar mendapatkan gambaran secara menyeluruh tentang asuhan kebidanan antenatal, intranatal, postnatal, bayi baru lahir Ny.E di BPS Bd. Siti Sukma Asih.

2. Tujuan Khusus

a. Dapat melakukan Asuhan kebidanan pada masa kehamilan pada

Ny. E

b. Dapat melakukan Dapat melakukan Asuhan kebidanan pada masa persalinan pada Ny. E

c. Dapat melakukan Asuhan kebidanan pada masa masa nifas pada

Ny. E

d. Dapat melakukan Dapat melakukan Asuhan kebidanan pada bayi baru lahir pada Ny. E

C. Manfaat Asuhan Kebidanan Komprehensif

1. Bagi Penulis

Kegiatan studi kasus ini berguna untuk menambah dan meningkatkan kompetensi penulis dalam memberikan pelayanan kebidanan pada ibu hamil, bersalin dan nifas serta pada bayi baru lahir.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Penulis berharap bahwa studi kasus ini dapat bermanfaat sebagai bahan dokumentasi dan bahan perbandingan untuk studi kasus selanjutnya.

3. Penulis berharap studi kasus ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan tentang manajemen kebidanan yang diterapkan di BPS Bd.Sukma Asih.

4. Bagi Masyarakat/Klien

Klien dapat merasa puas, aman dan nyaman dengan pelayanan bermutu dan berkulitas secara berkesinambungan.

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Kehamilan

1. Pengertian

Masa kehamilan normal dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya kehamilan normal adalah 280 hari atau 40 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kadang – kadang kehamilan berakhir sebelum waktunya dan ada kalanya melebihi waktu normal (Sastrawinata, 2004).

Kehamilan melibatkan perubahan fisik maupun emosional dari ibu serta perubahan sosial di dalam keluarga. Ibu hamil sebaiknya dianjurkan mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan / asuhan antenatal (Prawirohardjo,2002).

2. Fisiologi Kehamilan

a. Tanda dan Gejala Kehamilan

1) Tanda – tanda presumtif

a) Amenore

Wanita harus mengetahui tanggal hari pertama haid terakhir supaya dapat ditaksir umur kehamilan dan taksiran tanggal persalinan yang dihitung dengan menggunakan rumus dari Naegele ;TP = hari pertama HT 7 dan bulan -3

b) Mual – muntah (nausea and vomiting)

Biasanya terjadi pada bulan – bulan pertama kehamilan hingga akhir triwulan pertama.Karena sering terjadi pada pagi hari, disebut morning sickness 9sakit pagi0. Bila mual dan muntah terlalu sering disebut hiperemesis

c) Mengidam ingin makanan khusus

Ibu hamil sering meminta makanan atau minuman ntertentu terutama pada bulan – bulan triwulan pertama.

d) Tidak tahan suatu bau – bauan

e) Pingsan

f) Tidak ada selera makan

g) Lelah

h) Payudara membesar, tegang dan sedikit nyeri, disebabkan pengaruh estrogen dan progesterone yang merangsang duktus dan alveoli payudara

i) Miksi sering, karena kandung kemih tertekan oleh rahim yang membesar.

j) Konstipasi / obstipasi karena tonus otot – otot usus menurun oleh pengaruh hormone steroid.

k) Pigmentasi kulit oleh pengaruh hormone kortikosteroid plasenta, dijumpai di muka (chloasma gravidarum),aerola payudara, leher, dan dinding perut (lines nigra = grisea)

2) Tanda – tanda kemungkinan hamil

a) Perut membesar

b) Uterus membesar; terjadi perubahan dalam bentuk, besar dan konsistensi rahim

c) Tanda Hegar

d) Tanda Chadwick

e) Tanda piscaseck

f) Kontraksi – kontraksi kecil uterus bila dirangsang = Braxton Hicks

g) Teraba ballottement

h) Reaksi kehamilan positif

3) Tanda Pasti Kehamilan

a) Gerakan janin yang dapat dilihat atau dirasa atau diraba, juga bagian-bagian janain

b) Denyut jantung janin:

(1) Didengar dengan stetoskop – monoaural Laennec

(2) Dicatat dan didengar dengan alat Doppler

(3) Dicatat dengan feto – elektrokardiogram

(4) Dilihat pada ultrasonografi

c) Terlihat tulang – tulang janin dalam foto – rontgen

3. Pemeriksaan Antenatal

Antenatal care adalah perawatan sebelum anak lain, jadi perawatan dalam kehamilan dan lebih di tujukan kepada keadan ibu. Sedangkan prenatal care berarti perawatan sebelum anak lahir, jadi perawatan yang terutama ditujukan terhadap anak dalam kehamilan dan dalam kala 1 dan kaala 2 persalinan (Prof Sulaiman Sastrawinata)

4. Tujuan Pemeriksaan dan Pemeriksaan Ibu Hamil

Tujuan umum adalah menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu dan anak selama dalam kehamilan, persalinan dan nifas sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat.

a. Tujuan Khusus

1) Mengenali dan menangani penyulit-penyulit yang mungkin dijumpai dalam kehamilan, persalinan dan nifas.

2) Mengenali dan mengobati penyakit-penyakit yang mungkin diderita sedini mungkin.

3) Menurunkan angka mordibitas dan mortalitas ibu dan anak.

4) Memberikan nasehat-nasehat tentang pola hidup sehari-hari selama kehamilan (Saefuddin, 2002).

b. Tujuan Antenatal Care Terhadap Ibu

1) Untuk mengurangi penyulit – penyulit masa antenatal

2) Untuk mempertahankan kesejahteraan kesehatan jasmani maupun rohani ibu

3) Supaya persalinan berlangsung dengan aman

4) Supaya ibu sehat dalam post partum

5) Supaya ibu dapat memahami segala kebutuhan janin.

c. Tujuan Terhadap Anak

1) Mengurangi prematuritas, kelahiran mati dan kematian neonatal

2) Kesehatan yang optimal bagi bayi (Prof Sulaiman Sastrawinata).

5. Jadwal Pemeriksaan Kehamilan

Pemeriksaan kehamilan hendaknya dilakukan sedini mungkin ialah segera setelah wanita merasakan dirinya hamil, supaya dokter atau bidan mempunyai waktu yang cukup banyak untuk mengobati atau memperbaiki keadaan yang kurang memuaskan.

Menurut kebijaksanaan teknis yang ada sebaiknya kunjungan antenatal dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan.

a. Satu kali pada trimester I

b. Satu kali pada trimester II

c. Dua kali pada trimester III (Waspodo, 2002).

Pelayanan/asuhan antenatal standar minimal (termasuk 7 T)

a. Timbang berat badan

b. Ukur tekanan darah

c. Ukur tinggi fundus uteri

d. Pemberian imunisasi tetanus toksoid yang lengkap

e. Pemberian tablet zat besi, minimum 90 tablet selama kehamilan

f. Tes terhadap penyakit menular seksual

g. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan (Saiffudin, 2002).

6. Perubahan fisiologik dan psikologis

a. Perubahan Fisiologis

1) Perubahan Hormonal

A) a) Kelenjar Hipofise

Sekresi FSH dan LH menurun mungkin karena hormon prolaktin pada kehamilan minggu ke-8, sedangkan sekresi ACTH, tirotropin, hormon melanosit dan prolaktin meningkat. Kadar prolaktin meningkat cepat sampai kehamilan minggu ke-30 dan melambat sampai aterm.

A) b) Kelenjar Adrenal

Kortikosteroid meningkat secara progresif sampai aterm. Sedikit banyak menyebabkan wanita hamil mengalami striae abdomen, glikosuria dan hipertensi.

A) c) Kelenjar Tiroid

Kelenjar tiroid membesar saat kehamilan kadang-kadang dua kali normal karena penumpukan koloid yang disebabkan penurunan kadar yodium di dalam palsma mengakibatkan meningkatnya kemampuan ginjal selama kehamilan untuk mengekskresi unsur ini. Estrogen meransang peningkatan sekresi thyroxin binding globulin akibatnya terjadi peningkatan T3 dan T4 kadar yang meningkat ini tidak menunjukkan hipertiroidisme karena kadar TSH dan tiroksin bebas berada dalam batas yang normal.

A) 2) Perubahan pada Traktus Genitalis

a) Uterus

Berat uterus meningkat dari 50 gr sebelum hamil menjadi 950 gr pada saat genap bulan. Minggu pertama kehamilan pertumbuhan berlansung karena karena hiperplasia terutama karena hipertropi serabut otot sehingga uterus berubah menjadi organ bulan yang berdinding tebal. Kehamilan minggu ke-20 pertumbuhan hampir berhenti dan uterus membesar dengan mengembang. Peregangan serabut otot disebabkan oleh efek mekanik pertumbuhan janin. Karena pengembangan ini, dinding uterus menjadi lebih tipis dan berbentuk silindris. Pembuluh darah uterus mengalami hipertropi dan menjadi lebih berkelok-kelok pada paroh kehamilan minggu pertama, tetapi setelah itu tidak ada pertumbuhan lagi dan pemanjangan tambahan yang diperlukan untuk melanjutkan pengembangan uterus diperoleh dengan meluruskan kelokan pembuluh darah.

b) Serviks

Serviks menjadi lunak dan bengkak pada kehamilan sehingga epitelium kolumnar yang melapisi kanalis servikalis terpajan terhadap sekret dari vagina. Perubahan serviks disebabkan oleh estradiol yang meningkatkan sifat higroskopik jaringan ikat serviks dan membuat encer asam mukopolisakarida pada bahan dasar yang mengikat kolagen. Prostagladin bekerja pada serabut kolagen terutama pada minggu-minggu akhir kehamilan. Serviks menjadi lebih lunak dan lebih mudah berdilatasi disebut pematangan serviks. Dengan demikian serviks mudah berdilatasi pada waktu persalinan.

c) Vagina

Mukosa vagina menjadi lebih tebal, otot vagina mengalami hipertropi dan terjadi perubahan susunan jaringan ikat di sekitarnya sehingga vagina akan lebih mudah berdilatasi dan dapat melewatkan janin saat persalinan. Perubahan-perubahan yang diawali estrogen terjadi pada awal kehamilan dan terjadi peningkatan deskuamasi sel mukosa vagina superfisial disertai dengan meningkatnya discharge dari vagina. Apabila bakteri, jamur atau parasit masuk kedalam vagina maka akan lebih mudah menimbulkan penyakit karena itu sering dijumpai vaginitis.

3) Sistem Kardiovaskuler

Massa sel darah bertambah karena untuk memenuhi kebutuhan O2 yang semangkin meningkat. Penambahan sel darah merah kurang dibanding peningkatan volume darah menyebabkan kadar Hb turun ± 120 g/l pada minggu ke 32.

Curah jantung meningkat 30-50% pada kehamilan. Peningkatan curah jantung disebabkan oleh meningkatnya isi sekuncup, Frekuensi curah jantung meningkat 15%. Tekanan darah vena meningkat menyebabkan darah vena kembali dari uterus dan akibat tekanan mekanik dari uterus pada vena kava menyebabkan varices pada vena tungkai kadang-kadang vulva terjadi pada wanita yang rentan. Peningkatan aliran darah pada kulit disebabkan oleh vasodilatasi perifer menyebabkan wanita merasa panas, mudah berkeringat/ sering berkeringat banyak dan mengeluh kongesti hidung.

4) Sistem Pernafasan

Ibu hamil pergerakan diafragma terbatas setelah minggu ke-30 sehingga wanita hamil bernafas lebih dalam dengan meningkatkan volume tidal dan kecepatan ventilasi sehingga memungkinkan percampuran gas meningkat dan konsumsi O2 meningkat 20% kemungkinan karena hormon progesteron keadaan tersebut menyebabkan pernafasan berlebihan dan P O2 arteri lebih rendah.

5) Sistem pencernaan

Di mulut gusi menjadi lebih lunak mungkin terjadi karena retensi cairan intraseluler yang disebabkan oleh progesteron. Sfingter esofagus bawah relaksasi sehingga terjadi regurgitasi isi lambung menyebabkan rasa terbakar di dada, sekresi lambung berkurang dan makanan lama dalam lambung. Otot-otot uterus rileks disertai penurunan motalitas menyebabkan absorbsi zat nutrisi lebih banyak dan dapat menyebabkan konstipasi.

6) Sistem Ginjal

Otot polos pelvis renalis dan ureter relaks sehingga terjadi dilatasi. Dilatasi ini meningkatkan kapasitas pelvis renalis dan ureter dari 12 ml menjadi 75 ml dan memperbesar kemungkinan statis urin. Otot-otot kandung kemih yang rilek juga mendorong terjadinya statis urin. Akibatnya infeksi traktus urinarius lebih sering pada kehamilan. Otot-otot sfingter uretra interna menjadi relaks dan ditambah tekanan uterus pada kandung kemih dapat menyebabkan berbagai derajat inkontinensia.

7) Sistem Imun

HCG dapat menurunkan respon imun wanita hamil. kadar IgG, IgA dan IgM serum menurun mulai dari minggu ke 10 kehamilan, hingga mencapai kadar terendah pada minggu ke-30 dan tetap berada pada kadar ini sampai aterm. Perubahan-perubahan ini dapat menjelaskan peningkatan risiko infeksi.

8) Sistem muskoloskeletal

Selama kehamilan membutuhkan sepertiga lebih banyak posfor dan kalsium. Karies gigi tidak disebabkan oleh dekalsifikasi sejak kalsium gigi terbentuk.

Sendi pelvik sedikit bergerak saat hamil. Untuk mengkompensasi penambahan berat badan bahu lebih tertarik kebelakang dan tulang belakang lebih melengkung, sendi tulang belakang lebih lentur, dapat menyebabkan nyeri punggung pada beberapa wanita.

Kram otot-otot tungkai dan kaki sering terjadi saat hamil penyebabnya tidak diketahui mungkin berhubungan dengan metabolisme kalsium dan fosfor, kurangnya drainase sisa metabolisme otot atau postur yang tidak seimbang.

b. Perubahan Psikologis

1) Trimester pertama

Ibu merasa tidak sehat dan sering sekali membeci kehamilannya, banyak ibu merasakan kekecewaan, penolakan, kecemasan dan kesedihan serta sering kali ibu berharap untuk tidak hamil. Hasrat hubungan seks berbeda-beda ada yang lebih tinggi tapi kebanyakan libido menurun maka perlu komunikasi secara terbuka dan jujur dengan suami. Hal ini berhubungan dengan kelelahan, rasa mual, pembesaran payudara, keprihatinan dan kekuatiran.

Reaksi calon ayah adalah kebanggaan atas kemampuan mempunyai keturunan bercampur dengan keprihatinan akan kesiapan menjadi ayah dan pencari nafkah untuk keluarganya. Calon ayah mungkin sangat memperhatikan keadaan ibu yang sedang hamil dan menghindari hubungan seks karena takut mencederai bayinya tapi ada pula yang hasrat seksnya relatif besar.

2) Trimester kedua

Trimester dua adalah saat ibu merasa sehat karena ibu sudah terbiasa dengan rasa tidak nyaman dan hormon yang lebih tinggi. Ibu sudah menerima kehamilan dan dapat menggunakan energi serta pemikiran secara konstruktif. Banyak ibu merasa lepas dari rasa kecemasan dan tidak nyaman serta merasakan meningkatnya libido.

3) Trimester ketiga

Disebut periode menunggu dan waspada karena ibu merasa tidak sabar menunggu kelahiran bayinya, kadang-kadang merasa khawatir bahwa bayinya akan lahir sewaktu-waktu sehingga ibu meningkatkan kewaspadaan akan timbulnya tanda dan gejala akan terjadinya persalinan, kebanyakan ibu bersikap melindungi bayinya dan akan menghindari orang atau benda apa saja yang dianggapnya yang akan membahayakan bayinya , merasakan takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang akan timbul pada waktu melahirkan, merasa dirinya aneh dan jelek, merasa sedih karena akan berpisah dari bayinya dan kehilangan perhatian khusus selama hamil.

Trimester ini adalah saat persiapan aktif untuk kelahiran bayi dan menjadi orangtua serta keluarga mulai menduga-duga apakah bayi laki-laki atau perempuan dan akan mirip siapa serta persiapan nama.

5. Pemeriksaan Ibu Hamil

Pemeriksaan Ibu Hamil harus di lakukan 4 kali dalam kehamilan yaitu :

a. Trimester 1

Data Subjektif

Anamnesa

Adalah tanya jawab antara bidan dan pasien.

Yang perlu di anamnesa pada trimester 1 sebagai berikut:

1) Anamnesa identitas istri dan suami : Nama, umur, agama, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, suku/ kebangsaan alamat dan sebagainya.

1) Anamnesa umum

a) Keluhan utama : Tentang keluhan-keluhan, nafsu makan, tidur, miksi, defekasi, perkawinan dan sebagainya.

b) Riwayat haid :

(1) Pertama kali mendapat haid (menarche) pada usia berapa.

(2) Keteraturan siklus terdiri dari :

i. Lamanya haid.

ii. Siklus haid.

(3) Banyak atau jumlah darah haid dalam satu siklus haid.

(4) Adanya rasa sakit (dismenorhoe).

c) Riwayat kehamilan dan persalinan sebelumnya

(1) Gravida berapa, sudah pernah partus berapa kali, Abortus berapa kali.

(2) Jumlah anak hidup, jumlah anak yang meninggal, dan abortus.

(3) Identitas anak yang pernah dilahirkan dan proses persalinan meliputi : jenis kelamin, berat badan lahir dan panjang badan bayi, usia kehamilan aterm atau tidak, letak janin normal atau tidak (sungsang atau melintang), bagaimana keadaan terakhir anak dan usia anak pada saat ini.

(4) Apakah terjadi komplikasi pada saat persalinan, pengeluaran plasenta, dan keadaan nifas yang terdahulu.

(5) Adakah riwayat penyakit dalam kehamilan terdahulu seperti : hiperemesis, preeklamsi, perdaraha antepartum, perdarahan post partum. Riwayat persalinan dengan menggunakan alat atau dengan operasi secsio sesaria.

(6) Adakah penyakit sistemik yang menyertai kehamilan dan persalinan terdahulu seperti : penyakit jantung, paru, ginjal, diabetes militus, hipetertensi dan penyakit kelamin yang diderita oleh ibu.

(70 Adakah penyakit keturunan keluarga seperti : Hipertensi, diabetes militus, asma, epilepsi dan lain-lain.

d). Riwayat kehamilan sekarang :

(1) Hari pertama haid terakhir (HPHT) yaitu untuk mengetahui usia kehamilan dan digunakan untuk menghitung taksiranpersalinan.

(2) Pemeriksaan antenatal :

Pemeriksaan ini meliputi pertanyaan pemeriksaan hamil pertamakali dilakukan pada usia kehamilan berapa, telah berapa kali dilakukan pemeriksaan, memperoleh pemeriksaan oleh siapa, jenis pbat yang pernah diminum, nasihat apa yang telah diterima, kapan merasakan gerakan janin yang pertama kali.

(3) Komplikasi kehamilan sekarang : Sakit kepala berat, perdarahan, kejang sampai menimbulkan ketidaksadaran.

(4) Adakah penyakit lain dalam kehamilan : Penyakit jantung, paru, diabetes militus, ginjal, penyakit kelamin, infeksi virus dan bakteri.

(5) Penggunaan alay kontrasepsi sebelum kehamilan sekarang.

Data objektif

a.Pemeriksaan umum meliputi :

1) Bagaimana keadaan umum, keadaan gizi, kelainan bentuk badan, dan kesadaran ibu.

2) Pemeriksaan tanda-tanda vital (Tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu tubuh ).

b. Pemeriksan kebidanan :

1) Inspeksi

a) Muka : Terdapat cloasma garvidarum atau tidak, keadaan konjungtiva apakah anemis atau tidak, warna seklera mata apakah terdapat ikterik atau tidak, keadaan hidung dan telinga, serta keadaan gigi dan lidah.

b) Dada : Bentuk payudara, warna (Pigmentasi ) pada areola mamae, keadaan puting susu, terdapat atau tidak pengeluaran colostrum.

c) Perut : Apakah pembesaran perut sesuai dengan usia kehamilan, keadaan pusat, pigmentasi pada linea alba, terdapat striae gravidarum atau tidak dan terdapat bekas luka atau tidak.

d) Vulva : Keadaan vulva, keadaan perinium, adakah varices atau tidak, adakah pengeluran cairan, dan tanda chadwick.

e) Ekstermitas bagian bawah : Terdapat varices atau tidak, oedem, dan adakah luka.

(Mochtar,1998).

3) Palpasi

a) Muka : Terdapat oedem atau tidak

b) Leher : Apakah terdapat pembendungan pada vena di leher, terdapat pembengkakan pada kelnjar limfe dan pembesaran pada kelenjar gondok

c) Dada: apakah ada retraksi, bagaimana bentuk pernafasan, terdapat masa atau tidak, dan bendungan pada payudara.

d) Perut : Dilakukan palpasi menurut leofold.

Ibu hamil disuruh berbaring terlentang, kepala dan bahu sedikit lebih tinggi dengan memakai bantal. Pemeriksaan berdiri disebelah kanan ibu hamil. Dengan sikap hormat lakukanlah palpasi bimanual terutama pada pemeriksaan perut dan payudara.

Palpasi perut untuk menentukan:

a) Besar dan konsistensi rahim,

b) Bagian-bagian janin, letak dan presentasi,

c) Gerakan janin,

d) Kontraksi rahim Braxton-Hicks dan his.

Manuver palpasi menurut Leopold:

Leopold I:

1 Pemeriksaan terhadap kearah muka ibu hamil

2 Menentukan TFU bagian janin dalam fundus

3 Konsistensi uterus

Variasi menurut Knebel

1 Menentukan letak kepala atau bokong satu tangan di fundus dan tangan lain diatas simfisis

Leopold II

1 Menentukan batas samping rahim kanan kiri

2 Menentukan letak punggung janin

3 Pada letak lintang tentukan dimana kepala janin

Variasi menurut Budin :

1 Menentukan letak punggung dengan satu tangan menekan di fundus

Leopold III

1 Menentukan bagian terbawah janin

2 Apakah bagian terbawah tersebut sudah masuk atau masih bisa digoyang

Variasi menurut Ahlfeld:

Menentukan letak punggung dengan pinggir tangan kiri diletakan tegak perut

Leopold IV

1 Pemeriksa menghadap kearah ibu hamil

2 Bisa juga menentukan bagian terbawah janin apa dan seberapa jauh sudah masuk pintu atas panggul.

e) Pemeriksaan dalam :

Ibu hamil dianjurkan berbaring terlentang, kepala dan bahuedikit lebih tinggi dengan memakai bantal. Pemeriksa berdiri disebelah kanan dari ibu. Dengan sikap hormat lakukan palpasi bimanual.

Pemeriksaan atau palpasi bimanual dilakukan untuk menentukan :

(1) Besara dan konsistensi rahim

(2) Bagian-bagian janin, letak dan presentasi, pemeriksan ini biasanya dilakukan pada usia kehamilan 12 minggu.

(3) Gerakan janin

(4) Kontraksi rahim Braxton-hick.

3) Perkusi

Tidak begitu banyak artinya kecuali bila ada indikasi.

4) Auskultasi

Pada tindakan ini biasanya alat yang digunakan adalah monoaural (stetoskop obstetrik) untuk mendengarkan denyut jantung janin (DJJ) sehungga didapatkan suara yang khas :

a) Dari janin

1 Djj pada bulan 4-5 normalnya 120-160x/menit

2 Bising tali pusat suara ini bersifat sepeti suara tiupan.

3 Gerakan dan tendangan janin

b) Dari ibu

1 Bising rahim (uterine souffle), besifat suaranya sama dengan suara nadi.

2 Bising aorta, frekuensi sama dengan denyut nadi ibu, maka untuk membedakan yaitu dengan memegang nadi ibu oada saat memeriksa DJJ.

3 Peristaltik usus, suatu suara yang sifatnya tidak teratur karena dipengaruhi cairan dan udara pada usus ibu.

d) Pemeriksaan Laboratorium

Ibu hamil hendaknya diperiksa air kencing dan darahnya sekurang – kurangnya 2x selama kehamilan, sekali pada permulaan dan sekali lagi pada akhir kehamilannya

e) Ultrasonografi

Dibandingkan dnegan pemeriksaan roentgen, USG tidak berbahaya untuk janin, karena memakai prinsip sonar 9bunyi0.Jadi boleh dipergunakan pada kehamilan muda. Pada layer dapat dilihat letak, gerakan dan gerakan jantung janin.

d. Analisis atau diagnosa

1) Kehamilan normal

Setelah semua pemeriksaan kehamilan telah selesai dilakukan, maka dilakukanlah penentuan diagnosa, akan tetapi tidak hanya penentuan diagnosa saja tetapi harus dapat menjawab pertanyaan sebagai berikut :

a) Hamil atau tidak

Tanda-tanda kehamilan dterbagi menjadi dua bagian yaitu :

(1) Tanda pasti kehamilan meliputi : terdengar bunyi jantung anak, melihat, meraba atau mendengar pergerakan anak oleh pemeriksa dan terlihat rangka janin oleh alat Ultrasonografi (USG) dan foto rontgen.

(2) Tanda-tanda mungkin meliputi :

i. Pembesaran, perubahan dan konsistensi rahim.

ii.Perubahan pada servik

iii.Adanya kontraksi Braxton-hick

iv.Adanya ballotment

v. Meraba bagian anak

vi. Pemeriksaan biologis

vii.Pembesaran perut

viii.Pengeluaran colostrum

ix.Hiperpigmentasi kulit

x.Terdapat tanda chadwick

xi. Terdapat amenorhoe.

xii. Mual dan muntah

xiv.Ibu merasakan gerakan janin

xv.Perasaan pada payudara berisi dan terdapat nyerixvi. Sering kencing.

b) Primigravida atau multigravida

(1) Primigravida yaitu wanita yang petama kali mengalami kehamilan.

(2) Multigravida yaitu wanita yang sudah mengalami beberapa kali kehamilan.

c) Tuanya kehamilan

Tuanya kehamilan dapat ditemikan dari

(1) Lamnya amenorhoe

(2) Dari tingginy fundus uteri

(3) Dari besar ukuran janin, terutama dari besarnya kepala janin

(4) Dari saat pertama kali merasakan pergerakan anak

(5) Dari saat pertama terdengar bunyi jantung anak.

d) Tanda-tanda kematian anal dalam rahim :

(1) Bunyi jantung anak tidak terdengar pada pemeriksaan

(2) Ukuran rahim tidak membesar malah fundus menurun

(3) Palpasi anak menjadi kurang jelas

(4) Ibu tidak mersakan gerakan janin

e) Anak tunggal atau kembar

f) Letak janin dalam rahim.

Nasehat-nasehat untuk ibu hamil

Kepada ibu hamil diberikan nasihat-nasihat untuk memelihara kesehatannya selama kehamilan.

a. Nutrisi (Diet) ibu hamil

Wanita hamil dan menyusui harus betul-betul mendapat perhatian susunan dietnya, terutama mengenai jumlah kalori, protein yang berguna untuk pertumbuhan janin dan kesehatan ibu. Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan anemia, abortus, partus prematurus, inertia uteri, perdarahan pasca persalinan, sepsis puerperalis dan lain-lain. Sedangkan makan berlebihan, karena dianggap untuk 2 orang yaitu ibu dan janin, dapat mengakibatkan komplikasi seperti gemuk, pre-eklamsi, janin besar dan sebagainya. Zat-zat yang diperlukan: protein, karbohidrat, zat lemak, mineral atau bermacam-macam garam; terutama kalsium, fosfor dan zat besi (Fe), vitamin dan air.

Makanan diperlukan antara lain untuk pertumbuhan janin, plasenta, uterus, buah dada dan kenaikan metabolisme.

Sebagai pengawasan, kecukupan gizi ibu hamil dan pertumbungan kandungannya dapat diukur berdasarkan kenaikan berat badannya. Kenaikan badan rata-rata 6,5 sampai 16 kg (10-12 kg) ( Mochtar,1995 ).

Tabel 2.2
Kebutuhan Makanan Sehari-Hari Ibu Tidak Hamil,
Ibu Hamil dan Menyusui

Kalori dan zat makanan

Tidak hamil

Hamil

Menyusui

Kalori Protein Kalsium (Ca) Zat besi (Fe) Vitamin A Vitamin D Tiamin Riboflavin Niasin Vitamin C

2000 55 g 0,5 g 12 g 5000 IU 400 IU 0,8 mg 1,2 mg 13 mg 60 mg

2300 65 g 1 g 17 g 6000 IU 600 IU 1 mg 1,3 mg 15 mg 90 mg

3000 g 80 g 1 g 17 g 7000 IU 800 IU 1,2 mg 1,5 mg 18 mg 90 mg

b. Merokok

Jelas bahwa bayi dari ibu-ibu perokok mempunyai berat badan lebih kecil dan mudah mengalami abortus dan partus prematurus. Karena itu wanita hamil dilarang merokok (Mochtar, 1995).

c. Obat-obatan

Prinsip: jika mungkin dihindari pemakaian obat-obatan selama kehamilan terutama dalam triwulan I. Perlu dipertanyakan mana yang lebih besar manfaatnya dibandingkan bahayanya terhadap janin, oleh karena itu harus dipertimbangkan pemakaian obat-obatan seperti obat yang dijual bebas sebaiknya memakai obat dengan resep bidan atau dokter ( Mochtar,1995 ).

d. Pola aktifitas

a) Gerakan Badan

Kegunaannya: sirkulasi darah menjadi baik, nafsu makan bertambah, pencemaan lebih baik dan tidur lebih nyenyak. Dianjurkan berjalan-jalan pada pagi hari dalam udara yang masih segar. Gerak badan di tempat ( Mochtar, 1995 ).

b) Kerja

1 Boleh bekerja seperti biasa.

2 Cukup istirahat dan makan teratur.

3 Pemeriksaan hamil yang teratur ( Mochtar,1995 ).

c) Bepergian

Jangan terlalu lama dan melelahkan.

Duduk lama statis vena (vena staganis)menyebabkan tromboflebitis dan kaki bengkak ( Mochtar,1995 ).

e. Personal hygiene

a) Pakaian

1 Pakaian harus longgar, bersih dan tidak ada ikatan yang berat ketat pada daerah perut.

2 Pakailah kutang yang menyokong payudara.

3 Memakai sepatu dengan tumit yang tidak terlalu tinggi.

4 Pakaian dalam yang selalu bersih ( Mochtar,1995 ).

b) Mandi

Mandi diperlukan untuk kebersihan/higiene. Terutama perawatan kulit, karena fungsi ekskresi dan keringat bertambah. Dianjurkan menggunakan sabun lembut/ringan. (Mochtar,1995).

f. Perawatan Payudara

Payudara merupakan sumber air susu ibu yang akan menjadi makanan utama bagi bayi, karena itu jauh sebelumnya harus sudah dirawat.

Untuk mencegah puting susu kering dan mudah pecah, maka puting susu dan areola payudara dirawat baik-baik dengan dibersihkan menggunakan Baby Oil. Bila putting susu masuk ke dalam, hal ini diperbaiki dengan jalan memutar dan menarik-narik keluar atau dengan cara Hoffman. (Mochtar, 1995).

g. Istirahat dan Rekreasi

Wanita pekerja harus sering istirahat. Tidur siang menguntungkan dan baik untuk kesehatan kurang lebih 1-2 jam. (Mochtar, 1995).

h. Pola Seksual/Coitus

Adalah melakukan hubungan seksual antara pasangan suami istri. Koitus tidak dihalangi kecuali bila ada riwayat:

a) Sering abortus/premature

b) Perdarahan pervaginam

c) Pada minggu terakhir kehamilan, koitus harus hati-hati

d) Bila ketuban pecah, coitus dilarang

e) Dikatakan orgasme pada hamil tua dapat menyebabkan kontraksi uterus partus prematurus. ( Mochtar,1995 ).

i. Kesehatan jiwa

Kehamilan dan persalinan adalah suatu hal yang fisiologis, namun banyak ibu-ibu yang tidak tenang. Merasa kuatir akan hal ini. Untuk itu bidan harus dapat menenemkan kepercayaan kepada ibu hamil dan menerangkan apa yang harus diketahuinya karena kebodohan, rasa takut, dan sebagainya dapat menyebabkan rasa sakit pada waktu persalinan ini akan mengganggu jalannya partus, ibu akan menjadi lelah dan kekuatan hilang. Untuk menghilangkan kecemasan harus ditanamkan kerja sama pasien-penolong

j. Pergerakan Janin

Berkurang atau hilangnya pergerakan janin dapat merupakan suatu tanda gawat janin yang dapat berakhir dengan kematian janin. Karena itu sebaiknya ibu mengerti cara menghitung pergerakan janin.

Kepentingan dari menghitung gerakan janin ini adalah agar ibu terbiasa menyadari jika ada sesuatu yang salah pada janin yang dikandungnya .Berkurangnya gerakan janin berkaitan dengan kesejahteraannya dalam rahim, jika ibu merasakan janinnya kurang bergerak, segera hubungi dr. karena kemungkinan janin ibu mengalami gangguan yang dapat menyebabkan gawat janin, jika tidak segera diatasi dapat berakibat kematian janin dalam rahim.

Pemantauan gerakan janin harus sudah dimulai sejak awal, yakni sejak ibu mulai merasa pergerakan anak, karena ibu sendirilah yang apaling tahu dan mungkin mendeteksi kesehatan janinnya, biasakan memperhatikan gerakan anak setiap hari. Dianjurkan untuk memperhatikannya pada malam hari, saat itu janin sedang bangun.

Cara menghitung pergerakan janin ;

Ibu berbaring (malam hari)dan menghitung pergerakan janin selama 20 meit . Janin yang sehat akan bergerak lebih dari 5x dalam 20 menit. Apabila ini terjadi janin ibu akan baik selama 24 jam berikutnya, sehingga dengan memantau gerakan anin ibu dapat memprediksi kesehatan janin setidaknya 24 jam ke depan. Apabila janin bergerak kurang dari 5x dalam 20 menit. Segera hubungi Rumah sakit untuk mendapatkan pemantauan yang lebih akurat dengan cara Non Stres Test

8. Tanda – tanda bahaya pada ibu hamil

a) Sakit perut yang hebat atau bertahan lama

b) Perdarahan atau terjadi bercak di vagina

c) muntah Ibu muntah terus – menerus dan tidak mau makan

d) Bengkak di kaki , tangan dan wajah atau sakit kepala disertai kejang

e) Demam tinggi

f) Keluar air ketuban sebelum waktunya

g) Bayi dalam kandungan gerakannya berkurang atau tidak bergerak

B. Intra Natal Care

1. Pengertian

Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri), yang dapat hidup kedunia luar, dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain. ( Mochtar,1998 )

Partus adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar. ( Wiknjosastro,2005 )

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri). (Manuaba,1998 ).

Persalinan adalah proses alamiah dimana terjadi dilatasi serviks, lahirnya bayi dan plasenta dari rahim ibu.( Depkes,2004 )

2. Perubahan Fisiologik Selama Persalinan

a. Efek melahirkan terhadap ibu

1) Pengeluaran energi

Banyak dikeluarkan untuk kontraksi uterus dapat meningkatkan aktifitas jantung. Wanita yang bersalin menolak makan sehingga sehingga energi didapat dari oksidasi simpanan lemak tubuh dapat menyebabkan penumpukan keton dalam darah terutama asam D-3 hidroksibuterik dan dalam jumlah kecil asam laktat dan piruvat sehingga timbul asidosis metabolik ringan.

Asidoketosis ringan hanya mempunyai sedikit makna klinis, asalkan wanita tersebut memasuki masa persalinan dalam kondisi nutrisi yang baik

2) Suhu tubuh

Suhu tubuh meningkat selama melahirkan, tetapi tetap lebuh rendah dari pada 37,8°C, jika tidak terdapat asidoketosis yang dapat meningkatkan suhu tubuh lebih tinggi.

3) Perubahan Kardiovaskuler

Curah jantung meningkat 12% diatas pencatatan sebelum persalinan pada sela-sela kontraksi dan sebesar 30% selama kontraksi. Peningkatan curah jantung dipengaruhi isi sekuncup dan frrekuensi denyut jantung. Tekanan arteri kanan meningkat 40-50 mmHg pada persalinan lanjut dan kardiopulmonal meningkat pada waktu yang sama. Hal ini dapat menimbulkan bahaya ibu yang menderita penyakit jantung dan anemia berat.

4) Traktus gastrointestinal

Selama bersalin, terjadi pelambatan pengosongan lambung sehingga makanan yang baru tercerna sebagian berada dalam lambung selama >12 jam. Mortilitas usus juga mengalami perlambatan.

5) Trauma terhadap jaringan

Vagina dan perineum sering mengalami laserasi pada primigravida karena itu sengaja dibuat episiotomi

Karena kerusakan otot pubokosigeus akibat tekanan janin pada persalinan lanjut, dapat terjadi retensi urin setelah melahirkan

6) Kehilangan darah selama melahirkan

Perkiraan klinis kehilangan darah selama melahirkan menunjukkan rata-rata 300-500 ml. Kehilangan darah pada wanita sehat tidak mempunyai makna klinis, karena lebih kecildari peningkatan volume darah yang terjadi selama kehamilan.

b. Efek kelahiran terhadap janin

Janin menderita derajat ringan hipoksia selama proses lahir. Jika mendapatkan suplai glukosa yang baik selama hamil, keadaan hipoksia hanya sedikit menimbulkan masalah kecuali pada retardasi pertumbuhan. Janin saat lahir terjadi Takikardia menetap selama 10-30 menit setelah penyebab hipoksia hilang.

3. Sebab-sebab Mulainya Persalinan

Sebab terjadinya partus merupakan teori – teori yang kompleks. Faktor – faktor humoral, pengaruh prostaglandin, stuktur uterus, pengaruh saraf dan nutrisi.

a) Teori penurunan hormon :1-2 minggu, sebelum partus mulai terjadi penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron. Progesteron bekerja sebagai penenang otot – otot polos dari rahim dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila kadar estrogen turun.

b) Teori plasenta menjadi tua: villi korialis mengalami perubahan – perubahan , sebagai kadar estrogen dan progesteron turun.

c) Teori distensi rahim : rahim yang menjadi besar dan meregang menyebabkan iskemia otot – otot rahim, sehinggga mengganggu sirkulasi uterus – plasenta, sehingga plasenta mengalami degenerasi.

d) Teori Iritasi mekanik : dibelakang serviks terletak ganglion serviks. Bila ganglion ini digeser dan ditekan, misalnya oleh kepala janin, akan timbul kontraksi uterus.

e) Induksi Partus ( induction of labour ) :

1) Gagang laminaria : Laminaria dimasukkan dalam kanalis semikalis dengan tujuan merangsang pleksus Frankenhauser.

2) Amniotomi : pemecahan ketuban

3) Oksitosin drip : pemberian oksitosin menurut tetesan per infuse (Wiknjosastro, 2005)

4. Tanda dan Gejala Inpartu

Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari rahim ibu. Persalinan dapat dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit.

Persalinan dimulai atau inpartu pada saat uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan servik (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu belum inpartu jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan pada servik.

a. Penipisan dan pembukaan servik.

b. Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan pada servik (frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit).

c. Keluarnya lendir bercampur darah (show) melalui vagina.

5. Faktor – faktor yang berperan dalam persalinan

a) Power ( kekuatan mendorong janin keluar )

His ( kontraksi uterus )

Kontraksi otot – otot dinding perut

Kontraksi diafragma

Ketegangan dan kontraksi Ligamentum rotundum

b) Passanger : janin dan plasenta

c) Passage : faktor jalan lahir

( Mochtar , 1998 )

6. Kala Persalinan

a. Kala I

1) Fase-Fase dalam Kala Satu Persalinan

Kala satu persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan servik hingga mencapai pembukaan lengkap (10 cm). Persalinan kala 1 dibagi 2 fase, yaitu fase laten dan fase aktif.

a) Fase Laten Persalinan

1 Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan servik secara bertahap.

2 Pembukaan servik kurang dari 4 cm.

3 Biasanya berlangsung hingga dibawah 8 jam.

b) Fase Aktif Persalinan

1 Frekuensi dan lama kontraksi uterus umumnya meningkat (kontraksi dianggap adekuat/memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10 menit dan berlangsung selama 40 detik atau lebih).

2 Servik membuka dari 4 ke 10 cm, biasanya dengan kecepatan 1 cm atau lebih per jam hingga pembukaan lengkap (10 cm).

3 Terjadi penurunan bagian terbawah janin

Fase aktif di bagi 3 :

(1) Fase akselerasi: dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm.

(2) Fase dilatasi maksimal: dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat dari 4 cm menjadi 9 cm.

(3) Fase deselerasi: pembukaan menjadi lambat kembali, dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap.

Fase-fase tersebut dijumpai pada primigravida. Pada multigravida pun terjadi demikian, akan tetapi fase laten, fase aktif dan fase deselerasi terjadi lebih pendek.

Mekanisme pembukaan servik berbeda antara pada primigravida dengan multigravida. Pada yang pertama ostium uteri intemum akan membuka terlebih dahulu, sehingga servik akan mendatar dan menipis. Baru kemudian ostium uteri internum sudah sedikit terbuka, ostium uteri internum dan eksternum serta penipisan dan pendataran servik terjadi dalam saat yang sama. Ketuban akan pecah sendiri ketika pembukaan hampir lengkap atau telah lengkap bila ketuban pecah sebelum pembukaan 5 cm desebut ketuban pecah dini.

Tabel 2.1

Perbedaan antara primigravida dan multigravida

Primi

Multi

Serviks mendatar (effacement) dulu baru dilatasi

Mendatar dan membuka bisa bersamaan

Berlangsung 13 -14 jam

Berlangsung 6 – 7 jam

Sumber : Wiknjosastro, 2005

Selama fase laten persalinan semua asuhan, pengamatan dan pemeriksaan harus dicatat. Hal ini dapat direkam secara terpisah dalam catatan kemajuan persalinan atau kartu menuju sehat (KMS) ibu hamil. Tanggal dan waktu dituliskan setiap kali membuat catatan selama fase laten persalinan. Semua asuhan dan intervensi harus dicatat.

Kondisi ibu dan bayi harus dicatat dengan seksama yaitu:

Denyut jantung janin : selama 30 menit

Frekwensi dan lamanya kontraksi uterus: setiap 30 menit

Nadi: setiap 30 menit

Pembukaan serviks : selama 4 jam

Tekanan darah dan suhu setiap jam

Produksi urine, aseton dan protein: setiap 2-4 jam

Jika ditemui tanda-tanda penyulit, penilaian kondisi ibu dan bayi harus lebih sering dilakukan. Lakukan tindakan yang sesuai apabila dalam diagnosis kerja ditetapkan adanya penyulit dalam persalinan. Jika frekwensi kontraksi berkurang dalam 1 atau 2 jam pertama, nilai ulang kondisi actual ibu dan bayi. Bila tidak ada tanda-tanda kegawatan atau penyulit, ibu dipulangkan dan dipesankan untuk kembali jika kontraksi meanjadi teratur dan lebih sering

Semua keadaan dalam fase aktif dicatat di dalam partograf

Adapun partograf dibagi menjad dua halaman yaitu:

Penurunan Kepala Janin Menurut Sistem Perlimaan

PERIKSA LUAR

PERIKSA DALAM

KETERANGAN

= 5/5

Kepala di atas PAP, mudah digerakkan

= 4/5

H 1 – II

Sulit digerakkan, Bagian terbesar kepala belum masuk panggul

= 3\5

H II – III

Bagian terbesar kepala belum masuk panggul

= 2\5

H III +

Bagian terbesar kepala

sudah masuk panggul

= 1\5

H III – \V

Kepala di dasar panggul

= 0\5

H IV

Di perineum

Station

Tinggi bagian presentasi ditentukan dengan mengkaji jarak antara bagian terendah dengan spina iskiadikus dalam ukuran sentimeter. Spina iskiadikus disebut sebagai tingkat 0, dengan bagian yang terendah di atasnya (-1, -2, -3, -4, -5) atau di bawahnya (+1, +2, +3, +4, +5). Spina isdiadikus mungkin sulit untuk diraba. Hal ini menyebabkannya menjadi pengukuran yang subjektif. Penting bagi bidan untuik memastikan bahwa titik tersebut merupakan bagian terendah janin yang sedang dikaji dan bukan merupakan kaput suksedaneum. Penurunan bagian terendah janin merupakan indikator kemajuan persalinan.

1) Halaman depan partograf

Halaman depan partograf mencantumkan bahwa observasi dimulai pada fase aktif persalinan dan menyediakan lajur dan kolom untuk mencatat hasil-hasil pemeriksaan selama fase aktif persalinan, termasuk :

a. Kolom tentang ibu :

Nama dan umur

Gravida, para, abortus

Nomor catatan medis/puskesmas

Tanggal dan waktu mulai dirawat (atau jika dirumah, tanggal dan waktu paersalinan mulai merawat ibu)

Waktu pecahnya selaput ketuban

b. Kondisi janin

DJJ

Warna dan adanya air ketuban

Penyusupan, molase kepala janin

c. Kemajuan persalinan

Pembukaan serviks

Penurunan bagian terbawah janinatau persentasi janin

Garis waspada dan garis bertindak

d. Jam dan waktu

Waktu mulai fase aktif persalinan

Waktu actual saat pemeriksaan atau penilaian

e. Kontraksi uterus

Frekwensi dan lamanya

f. Obat-obatan dan cairan yang diberikan

Oksitosin

Obat-obatan lainnya dan cairan IV yang diberikan

g. Kondisi ibu

Nadi, tekanan darah dan suhu tubuh

Urine (Volume, aseton dan protein)

h. Asuhan, pengamatan dan keputusan dan klinik lainnya (dicatat dalam kolom yang tersedia disisi partograf atau dicatatan kemajuan persalinan)

2) Halaman belakang partograf

Halaman belakang partograf merupakan bagian untuk mencatat hal-hal yang terjadi selama proses persalinan kala I sampai kala IV (termasuk bayi baru lahir). Itulah sebabnya bagian ini disebut sebagai catatan paersalinan. Nilai dan catatan asuhan yang diberikan pada ibu dalam masa nifas terutama selama persalinan kala IV untuk memungkinkan penolong persalinan mencegah terjadinya penyulit dan membuat keputusan klinik yang sesuai. Doumentasi ini sangat pentinguntuk membuat keputusan klinik, terutama pada pemantauan kala IV (mencegah terjadinya perdarahan pascasalin). Selain catatan persalinan (yang diisi dengan lemgkap dan tepat) dapat pula digunakan untuk menilai sejauh mana telah dilakukan asuhan persalinan yang bersih dan aman.

a. Kala II

Kala II persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala II dikenal juga dengan kala pengeluaran.

1) Tanda dan gejala kala II

a) Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi

b) Ibu merasakan semakin meningkatnya tekanan pada rektum dan vagina

c) Perineum kelihatan mennjol

d) Vulva vagina dan spingter ani terlihat membuka

e) Peningkatan pengeluaran lendir dan darah

2) Diagnosis Kala II

Diagnosis kala II dapat ditegakan atas dasar hasil pemeriksaan dalam yang menunjukan antara lain :

1) Pembukaan serviks telah lengkap

2) Terlihatnya bagian kepala bayi dan introitus vagina atau kepala janin sudah tampak di vulva dengan diameter 5-6 cm

Tabel 2.2

Kategori Kala II

Kategori

Keretangan

Kala II berjalan dengan baik

Ada kemajuan penurunan kepala bayi

Kondisi kegawatdaruratan pada kala II

Kondisi kegawat daruratan membutuhkan perubanhan dalam penatalaksanaan atau tindakan segera. Contoh kondisi tersebut termasuk eklamsi, kegawatdaruratan bayi, penurunan kepala terhenti, kelelahan ibu

(Sumber: Sinopsis Obstetri, 1998)

3) Penanganan

Kala II persalinan merupakan pekerjaan yang sulit bagi ibu. Suhu tubuh ibu akan meninggi, ia mengedan selama kontraksi dan ia kelelahan. Petugas harus mendukung ibu atas usahanya untuk melahirkan bayinya. Berikut tindakan yang harus dilakukan selama kala II

Tabel 2.3

Tindakan kala II

Tindakan

Deskripsi dan keterangan

Memberikan dukungan terus-menerus kepada bu

Kahadiran seseorang untuk ; 1. Mendampingi ibu agar merasa nyaman 2. Menawarkan minum, mengipasi dan memijit ibu

Menjaga kebersihan diri

Ibu tetap dijaga kebersihannya agar terhindar dari infeksi. Bila ada darah, lendir atau cairan ketuban segera dibersihkan.

Melakukan masase

Menambah kenyamanan bagi ibu

Memberikan dukungan mental

Untuk mengurangi kecemasan dan ketakutam ibu dengan cara : Menjaga privasi ibu Penjelasan tentang proses dan kemajuan persalinan Penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan dan keterlibatan ibu

Mengatur posisi yang nyaman buat ibu

Dalam meminpin mengedan dapat dipilih posisi: Jongkok menungging Tidur miring Setengah duduk Posisi tegak ada kaitanya dengan berkurangnya rasa nyeri, mudah mengedan, kurang trauma vagina dan perineum dan infeksi

Menjaga kandung kemih tetap kosong

Ibu dianjurkan untuk berkemih sesering mungin

Memimpin mengedan

Ibu dipinpin mengedan selama his, anjurkan kepada ibu untuk mengambil nafas Mengedan tanpa diselingi bernafas kemungkinan dapat menurunkan pH pada arteri umbilikalis yang dapat menyebabkan denyut jantung tidak normal dan nilai apgar rendah

Bernafas selama persalinan

Minta ibu untuk bernafas selagi kontraksi ktika kepala akan lahir. Hal ini menjaga agar perineum meregang pelan dan mengontrol lahirnya kepala dan mencegah robekan

Pemantauan denyut jantung janin

Periksa DJJ setelah setiap kontraksi untuk memastikan janin tidak mengalami bradikardi (<120). Selama mengedan yang lama akan terjadi pengurangan aliran darah dan oksigen ke janin

Melahirkan bayi

1.Menolong kelahiran kepala Letakan satu tangan ke kepala bayi agar defleksi tidak terlalu cepat Menahan perineum dengan satu tangan lainnya bila diperlukan Mengusap muka bayi untuk membersihkan ari kotoran lendir/ darah 2.Periksa tali pusat Bila lilitan tali pusat terlalu ketat di klem pada dua tempat kemudian di gunting antara dua klem tersebut, sambil melindungi leher bayi 3.Melahirkan bahu dan anggota seluruhnya Tempatkan kedua tangan pada kedua sisi kepala dan leher bayi Lakukan tarikan lembut ke bawah untuk melahirkan bahu depan Lakukan tarikan lembut keatas untuk melahirkan bahu belakang Selipkan satu tangan anda kebahu dan lengan bagian belakang bayi sambil menyangga kepala dan selipkan satu tangan lainnya ke punggung bayi untuk mengeluarkan tubuh bayi seluruhnya Pegang erat bayi agar janin jangan sampai jatuh

Bayi dikeringkan dan dihangatkan dari kepala sampai seluruh tubuh

Setelah bayi lahir segera selimuti dan keringkan dengan menggunakan handuk atau sejenisnya, letakan pada perut ibu dan berikan bayi untuk menetek

Lakukan rangsangan taktil pada bayi

Biasanya dengan melakukan pengeringan cukup memberikan rangsangan pada bayi Dilakukan dengan cara mengusap-ngusap pada bagian punggung atau menepuk telapak kaki bayi

(Sumber : Sinopsis Obstetri, 1998)

b. Kala III

Waktu yang paling kritis untuk mencegah perdarahan post partum adalah ketika plasenta lahir dan sesegara setelah itu. Ketika plasenta lepas atau sepenuhnya terlepas tapi tidak keluar, maka perdarahan terjadi di belakang plasenta sehingga uterus tidak dapat sepenuhnya berkontraksi karena plasenta masih didalam. Kontraksi pada otot uterus merupakan meknisme fisiologis yang menghentikan perdarahan.

Kala III batasanya adalah dimulai setelah bayi lahir dan berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban.

1) Fisiologi kala III

Pada kala III persalinan, otot uterus berkontraksi mengikuti berkurangnya ukuran rongga uterus secara tiba-tiba telah lahirnya bayi. Penyusutan rongga uterus ini menyebabkan berkurangnya ukuran tmpat iplantasi plasenta. Karena tempat implantasi menjadi semakin kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak berubah maka plasenta akan menekuk. Menebal kemudian dilepaskan dari dinding uterus. Setelah terlepas plasenta akan turun ke bagian bawah uterus atau bagian atas vagina.

Tanda – tanda pelepasan plasenta, yaitu:

1. Perubahan bentuk dan tingg fundus : uterus berbentuk bulat penuh ( diskord) dan tinggi fundus biasanya turun hingga dibawah pusat. Pada saat berkontraksi uterus menjadi bulat dan fundus berada diatas pusat

2. Tali pusat memanjang. Tali pusat terlihat keluar memanjang atau terjulur melalui vulva dan vagina (tanda ahfeld)

3. Semburan darah tiba – tiba. Menandakan bahwa darah yang terkumpul diantara tempat melekatnya plasenta dan permukaan maternal plasenta, keluar melalui tepi plasenta yang terlepas (Depkes,2004)

2) Pimpinan kala uri :

Memeriksa keadaan ibu tentang : status lokalis obstertik dengan cara palpas, Fundus uteri dan konsistensinya, memeriksa keadaan vital ibu :TD, nadi, respirasi

Mengawasi pendarahan

Mencari tanda – tanda pelepasan uri

Memberi tekanan pada fundus

Metode crede

§ 4 jari – jari pada dinding rahim belakang, ibu jari difundus depan tengah

§ Lalu pijit rahim dan sedikit dorong kebawah, tapi jangan terlalu kuat

§ Lakukan sewaktu ada his

§ Jangan tarik tali pusat, karena bisa inversio uteri.

Pengeluaran uri secepat mungkin, hanya bila ada : perdarahan yang banyak (>500cc), ada riwayat perdarahan sebelumnya, adanya retersio plasenta sebelumnya. Pengeluaran selaput ketuban : menarik pelan – pelan, memutar atau memilihnya seperti tali, memutar pada klem, manual atau digital. Setelah plasenta lahir selanjutnya harus dilakukan massage ringan pada korpus uteri untuk memperbaiki kontraksi uterus. Kemudian harus diteliti benar apakah lengkap atau tidak lengkap baik kotiledon permukaan maternal maupun permukaan letal, begitu pula apakah ada tanda – tanda plasenta suksenturiata.

3) Manajemen aktif kala tiga

Tujuannya adalah untuk menghasilkan kontraksi uteus yang lebih efektif sehingga dapat memperpendek waktu kala 3 persalinan dan mengurangi kehilangan darah dibandingkan dengan penatalaksanaan fisiologis.

Keuntungan – keuntungan manajemen aktif kala 3 :

Kala 3 persalinan yang lebih singkat

Mengurangi jumlah kehilangan darah

Mengurangi kejadian retensio plasenta.

Manajemen aktif kala 3 terdiri dari 3 langkah utama:

Pemberian suntikan oksitosin

Melakukan penegangan tali pusat terkendali

Rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri ( masase)

( Depkes, 20004 )

c. Kala IV

Batasannya adalah 2 jam setelah plasenta lahir. Masa post partum merupakan saat yang paling kritis untuk mencegah kematian ibu terutama kematian disebabkan karena perdarahan. Selama kala IV petugas harus memantau ibu setiap 15 menit pada jam pertama setelah kelahiran plasenta dan setiap 30 menit pada jam kedua setelah persalinan. Yang dipantau pada kala IV adalah tekanan darah, nadi, temperatur, tinggi fundus uteri, kontraksi uterus, kandung kemih dan perdarahan.

Darah yang keluar harus ditajar sebaik – baiknya. Kehilangan darah pada persalinan biasa disebabkan oleh luka pada pelepasan uri dan robekan pada serviks dan perineum. Rata – rata dalam batas normal, jumlah perdarahan adalah 250 cc biasanya 100-300 cc. Bila perdarahan lebih dari 500 cc ini sudah dianggap abnormal.

Sebelum meninggalkan ibu yang baru melahirkan, harus memperhatikan 7 pokok penting, yaitu:

1. Kontraksi rahim : baik atau tidak dapat diketahui dengan palpasi. Bila perlu lakukanlah masase dan berikan uterotonika

2. Perdarahan : ada atau tidak, banyak atau biasa

3. Kandung kencing : harus kosong, kalau penuh ibu disuruh kencing dan kalau tidak bisa lakukan kateler.

4. Luka -luka : jahitannya baik atau tidak, ada perdarahan atau tidak

5. Uri dan selaput ketuban harus lengkap

6. Keadaan umum ibu : Tensi, nadi, pernapasan, rasa sakit

7. Bayi dalam keadaaan baik

C. Masa Nifas

1. Pengertian

Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu.

2. Tujuan

Tujuan asuhan masa nifas adalah :

a. Memberikan layanan fisik dan kenyamanan dengan segera setelah melahirkan.

b. Memberikan layanan psikologis dan support

c. Memelihara/meningkatkan kesehatan umum: istirahat, diet seimbang dan secara berangsur-angsur kembali ke aktivitas.

d. Mencegah komplikasi yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

e. Mengenal secara dini dan mengatasi segera bila terjadi komplikasi yang mungkin timbul.

f. Menganjurkan menyusui sesegera mungkin sehingga ibu akan berhasil dalam menyusui.

g. Mendidik orang tua dalam perawatan bayi dan perkembangan keluarga baru.

h. Memberikan layanan dan kebutuhan bimbingan tentang tumbuh kembang yang normal dari BBL

i. Tindak lanjut layanan kesehatan yaitu kebutuhan ibu dan keluarga serta layanan KB (Pribadi, Asuhan Kebidanan lll).

3. Program dan Kebijakan Teknis

Paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir, dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah – masalah yang terjadi.

a. Kunjungan : pertama

Waktu : 6 – 8 jam setelah persalinan

Tujuan : Mencegah pendarahan masa nifas karena Atonia Uteri

Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan : Rujuk bila perdarahan berlanjut

Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena Atonia Uteri

Pemberian ASI awal

Menjaga bayi sehat dengan cara mencegah Hipotermia

Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama setelah kelahiran, atau sampai ibu dan bayi dalam keadaan stabil.

b. Kunjungan : Kedua

Waktu : 6 hari setelah persalinan

Tujuan :

Memastikan Involusi Uterus berjalan normal : Uterus berkontraksi, fundus dibawah Umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak bau.

Menilai danya tanda – tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal.

Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan. cairan dan istirahat.

Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari – hari.

c. Kunjungan : Ketiga

Waktu : 2 minggu setelah persalinan

Tujuan : Sama seperti kunjungan ke dua

d. Kunjungan : Keempat

Waktu : 6 minggu setelah persalinan

Tujuan :

Menanyakan pada ibu tentang penyulit – penyulit yang ia atau bayi alami.

Memberikan konseling untuk KB secara dini.

3. Perubahan Fisiologis pada Masa Nifas

Terdapat dua perubahan penting pada masa puerperium, yaitu:

a. Involusi uterus dan Pengeluaran Lochea

Involusi atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan bobot hanya 60 gram.

Proses involusi uterus adalah sebagai berikut:

1) Autolisys

Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi didalam otot uterin, enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah sempat mengendur hingga sepuluh kali panjangnya dari semula dan lima kali lebar dari semula selama kehamilan.

2) Terdapat polymorph phagolitik dan macrophages didalam system vaskuler dan system limphatik.

3) Efek oksitosin

Penyebab kontraksi dan retraksi otot uterin sehingga akan mengkompres pembuluh darah yang akan mengurangi masuknya darah ke uterus. Proses ini membantu untuk mengurangi tempat implantasi plasenta serta mengurangi perdarahan (Asuhan Kebidanan Post Partum, 2003).

Proses involusi uteri dapat dilihat pada tabel :

Tabel 2.6

Proses Involusi Uteri

Involusi

Tinggi Fundus

Berat Uterus

Plasenta lahir 7 hari (1 minggu) 14 hari (2 minggu) 42 hari (6 minggu) 56 hari (8 minggu)

Sepusat Pertengahan pusat simpilis Tak teraba Sebesar hamil 2 minggu Normal

1000 gram 500 gram 350 gram 50 gram 30 gram

Lochea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas, lochea mempunyai reaksi basa yang dapat membuat organisme berkembang lebih cepat dari pada kondisi asam yang ada pada vagina normal, lochea mengalami perubahan karena proses involusi.

Pengeluaran lochea dapat dibagi berdasarkan jumlah dan warnanya, sebagai berikut:

1) Lochea Rubra (Kruenta)

a) 1 sampai 3 hari, berwama merah hitam

b) Terdiri dari sel desidua, vemiks caseosa, rambut lanugo, sisa mekoneum, sisa darah

2) Lochea Sanginolenta

a) 3 sampai 7 hari

b) Berwama putih bercampur darah

3) Lochea Serosa

a) 7 sampai 14 hari

b) Berwama kekuningan

4) Lochea Alba

a) Setelah hari ke 14

b) Berwama putih( Mochtar,1995 ).

b. Laktasi/Pengeluaran Air Susu Ibu

Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan, ibu yang selalu ada dalam keadaan sedih, tertekan, kurang percaya diri dan berbagai bentuk ketegangan emosional akan menurunkan volume ASI bahkan memungkinkan tidak terjadi produksi ASI.

Ada 2 refleks yang dipengaruhi oleh keadaan jiwa ibu, yaitu:

1) Refleks Prolaktin

Pada waktu bayi menghisap payudara ibu, maka ibu menerima rangsangan nero hormonial pada putting dan aerola, rangsangan ini melalui nervus vagus diteruskan ke hypophysa lalu ke lobus anterior, lobus anterior akan mengeluarkan hormon prolaktin dan masuk melalui peredaran darah samapi pada kelenjar-kelenjar, pembuat ASI terangsang untuk memproduksi ASI.

2) Refleks Let Down

Refleks ini mengakibatkan memancamya ASI keluar, isapan bayi akan merangsang putting susu dan aerola yang dikirim lobus posterior melalui nervus vagus dari grandula pituitary posterior dikeluarkan hormon oksitocin kedalam peredaran darah yang menyebabkan adanya kontraksi otot-otot myoepitel dari saluran air susu, karena adanya kontraksi ini maka ASI akan terperas ke arah ampulla. (Pribadi, Asuhan Kebidanan III).

Tanda-Tanda Bahaya Pada Ibu Nifas

Sebagian besar kematian ibu terjadi selama masa post partum oleh karena itu sangatlah penting untuk membimbing para ibu dan keluarganya mengenai tanda-tanda bahaya yang menandakan bahwa ia perlu segera mencari bantuan medis, ibu juga perlu mengetahui kemana ia mencari bantuan tersebut.

Beritahulah ibu jika mengetahui adanya masalah-masalah berikut, maka ia perlu segera menemui bidan:

a. Perdarahan vagina yang luar biasa atau tiba-tiba bertambah banyak (lebih dari perdarahan haid biasa atau bila memerlukan penggantian pembalut dua kali dalam setengah jam).

b. Pengeluaran vagina yang baunya menusuk.

c. Rasa sakit dibagian bawah abdomen atau punggung.

d. Sakit kepala yang terus-menerus, nyeri ulu hati atau masalah penglihatan.

e. Pembengkakkan diwajah atau di tangan

f. Demam, muntah, rasa sakit pada waktu buang air kecil atau jika merasa tidak enak badan.

g. Payudara yang ebrubah menjadi merah, panas dan atau terasa sakit.

h. Kehilangan nafsu makan dalam waktu yang lama.

i. Rasa sakit, merah, lunak dan/atau pembengkakkan dikaki.

j. Merasa sangat sedih atau tidak mampu mengasuh sendiri bayinya atau diri sendiri.

k. Merasa sangat letih atau nafas teregah-engah.

(Asuhan Kebidanan Post Partum, 2003)

4. Asuhan Masa Nifas

a) Kebersihan diri

1) Anjurkan tetap menjaga kebersihan diri

2) Ajarkan pada ibu bagaiman membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air. Pastikan bahwa ia mengetui untuk membersihkan daerah sekiatr vulva terlebih dahulu, daridepan ke belakang. Kemudian membersihkan daerah sekitar anus dan membersikan setiap BAK atau BAB.

3) Sarankan untuk selalu mengganti pembaluta bila dirasakan sudah penuh.

4) Sarankan ibu untuk mencuci tangandengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelamin .

5) Jika mempunyai luka episiotomi atau laserasi, disarankan kepada ibu untukmenghindar menyentuh daerah luka.

b) Istirahat

1) Anjurkan ibu untuk istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan

2) Sarankan ibu untuk kembali ke kegiatan-kegiatan rumah tangga secara perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau istirahat selagi bayi tidur.

3) Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal :

Mempengaruhi jumlah ASI yang diproduksi.

Memperlambat proses involusi uteru dan memperbanyak perdarahan.

Menyebabkan depresi dan ketidak mampuan untuk merawat bayi dan dirinya.

c) Latihan

Jelaskan bahwa latihan tertentu beberapa menit setiap hari sangat membantu, seperti:

1) Tidur terlentang dengan lengan disamping. Menarik otot perut selagi menarik nafas, tahan nafas kedalam dan angkat dagu kedada, tahan satu hitungan sampai 5, rileks dan ulangi sebayak 10 x.

2) Untuk memperkuat tonus jalan lahir dan dasar panggul (latihan Kegel)

3) Berdiri dengan tungkai dirapatkan, kencangkan otot-otot pantat dan pinggul dan tahan sampai 5 hitungan, kendurkan dan ulangi latihan sebanyak 5 x.

d) Gizi menyusui

1) Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari

2) Makan dengan diet seimbang untuk mendapat protein, mineral, dan vitamin.

3) Minum sekit 3 liter/ hari(anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui)

4) Pil zat besi selama 40 hari pasca salin.

5) Minum kapsul Vit A (200.000 unit) agar dapat memberikan vit A kepada bayinya melalui ASInya.

e) Menyusui

ASI mengandung semua bahan yang diperlukan bayi, mudah dicerna, memberi perlindungan terhadap infeksi, selalu segar, bersih dan siap untuk diminum.

f) Senggama

Secara fisik amanunutk memulai hubungan suami istri begitu darah merah terhenti dan ibu dapat memasukan satu tau dua jari kedalam vagina tampa rasa nyeri, ini keadaan dimana aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap.

g) Keluarga Berencana

1) Meskipun beberapa metode KB mengandung resiko, pemakaian kontrasepsi tetaop lebih aman terutama apabila ibu sudah haid lagi.

2) Sebelum menggunakan metoda KB hal-hal yang perlu dijelaskan dahulu pada ibu :

Bagaimana metode ini dapatmencegah kehamilan dan efektifitasnya.

Kelebihan dan keuntungannya.

Kekurangan.

Efek samping

Bagaimana menggunakan metode itu.

Kapan metode itu dapat dimulai atau digunakan untuk wanita pasca salin yang menyusui

5. Kontrasepsi Pascapersalinan

a. Metode Amenorea Laktasi (Mal)

1) Profil

Metode Amenorea Laktasi (MAL) adalah kontrasepsi yang mengandalkan pemberian Air Susu Ibu (ASI).

MAL sebagai kontrasepsi bila:

a) menyusui secara penuh (full breast feeding);

b) belum haid;

c) umur bayi kurang dari 6 bulan.

d) Efektif sampai 6 bulan.

e) Harus dilanjutkan dengan pemakaian metode kontrasepsi lainnya.

2) Keuntungan:

a) Untuk bayi

· Mendapat kekebalan pasif (mendapatkan antibodi perlindungan lewat ASI).

· Sumber asupan gizi yang terbaik dan sempurna untuk tumbuh kembang bayi yang optimal.

· Terhindar dari keterpaparan terhadap kontaminasi dari air, susu lain atau formula, atau alat minum yang dipakai.

b) Untuk ibu

· Mengurangi perdarahan pascapersalinan.

· Mengurangi risiko anemia.

· Meningkatkan hubungan psikologik ibu dan bayi.

3) Keterbatasan

a) Perlu persiapan sejak perawatan kehamilan agar segera menyusui dalam 30 menit pascapersalinan.

b) Mungkin sulit dilaksanakan karena kondisi sosial.

c) Efektivitas tinggi hanya sampai kembalinya haid atau sampai dengan 6 bulan.

d) Tidak melindungi terhadap IMS termasuk virus hepatitis B/HBV dan HIV/AIDS.

b. Metode Keluarga Berencana Alamiah (Kba)

1) Profil

a) Ibu harus belajar mengetahui kapan masa suburnya berlangsung.

b) Efektif bila dipakai dengan tertib.

c) Tidak ada efek samping.

Pasangan secara sukarela menghindari sanggama pada masa subur Ibu (ketika Ibu tersebut dapat menjadi hamil), atau sanggama pada masa subur untuk mencapai kehamilan. Metode keluarga berencana alamiah berdasarkan kesadaran penuh dari siklus reproduksi Ibu tersebut.

2) Manfaat

a) Kontrasepsi

· Dapat digunakan untuk menghindari atau mencapai kehamilan.

· Tidak ada risiko kesehatan yang berhubungan dengan kontrasepsi.

· Tidak ada efek samping sistemik.

· Murah atau tanpa biaya.

b) Non-kontrasepsi

· Meningkatkan keterlibatan suami dalam keluarga berencana.

· Menambah pengetahuan tentang sistem reproduksi oleh suami dan istri.

· Memungkinkan mengeratkan relasi/hubungan melalui peningkatan komunikasi antara suami istri/pasangan.

3) Keterbatasan

a) Sebagai kontraseptif sedang (9-20 kehamilan per 100 perempuan selama tahun pertama pemakaian). Catalan untuk Metode Ovulasi Billings bila aturan ditaati kegagalan 0% (kegagalan metode/method failure dan 0-3% kegagalan pemakai/ user’s failure, yaitu pasangan dengan sengaja atau tanpa sengaja melanggar aturan untuk mencegah kehamilan).

b) Keefektifan tergantung dari kemauan dan disiplin pasangan untuk mengikuti in-struksi.

c) Perlu ada pelatihan sebagai persyaratan untuk menggunakan jenis KBA yang paling efektif secara benar.

d) Dibutuhkan pelatih/guru KBA (bukan tenaga medis).

e) Pelatih/guru KBA harus mampu membantu Ibu mengenalimasasuburnya,memo-tivasi.pasangan untuk menaati aturan jika ingin menghindari kehamilan dan me-nyediakan alat bantu jika diperlukan; misalnya buku catatnn khusus, termometer (oral atau suhu basal).

f) Perlu pantang selama masa subur untuk menghindari kehaniilan.

g) Perlu pencatatan setiap hari.

h) Infeksi vagina membuat lendir serviks sulit dinilai.

i) Termometer basal diperlukan untuk metode tertentu.

j) Tidak terlindung dari IMS termasuk HBV (Virus Hepatitis B) dan HIV/AIDS.

c. Sanggama Terputus

Sanggama terputus adalah metode keluarga berencana tradisional, di mana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis) dari vagina sebelum pria mencapai ejakulasi.

1) Manfaat

a) Kontrasepsi

· Efektif bila digunakan dengan benar

· Tidak mengganggu produksi ASI.

· Dapat digunakan sebagai pendukung metode KB lainnya.

· Tidak ada efek samping.

· Dapat digunakan setiap waktu.

· Tidak membutuhkan biaya.

b) Nonkontrasepsi

· Meningkatkan keterlibatan Suami dalam keluarga berencana.

· Untuk pasangan memungkinkan hubungan lebih dekat dan pengertian yang sangat dalam.

2) Keterbatasan

a) Efektivitas bergantung pada kesediaan pasangan untuk melakukan sanggama ter-putus setiap melaksanakannya (angka kegagalan 4-18 kehamilan per 100 perempuan per tahun).

b) Efektivitas akan jauh menurun apabila sperma dalam 24 jam sejak ejakulasi ma-sih melekat pada penis.

c) Memutus kenikmatan dalam berhubungan seksual.

d. Metode Barier

1) Kondom

a) Profil

· Kondom tidak hanya mencegah kehamilan, tetapi juga mencegah IMS termasuk HIV/AIDS.

· Efektif bila dipakai dengan baik dan benar.

· Dapat dipakai bersama kontrasepsi lain untuk mencegah IMS.

b) Manfaat

· Kontrasepsi

Efektif bila digunakan dengan benar.

Tiddk mengganggu produksi ASI.

Tidak mengganggu kesehatan klien.

Tidak mempunyai pengaruh sistemik.

Murah dan dapat dibeli secara umum.

Tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan kesehatan khusus.

Metode kontrasepsi sementara bila metode kontrasepsi lainnya harus ditunda.

· Nonkontrasepsi

Memberi dorongan kepada Suami untuk ikut ber-KB.

Dapat mencegah penularan IMS.

Mencegah ejakulasi dini.

Membantu mencegah terjadinya kanker serviks (mengurangi iritasi bahan karsi-nogenik eksogen pada serviks).

Saling berinteraksi sesama pasangan.

Mencegah imuno infertilitas.

c) Keterbatasan

· Efektivitas tidak terlalu tinggi.

· Cara penggunaan sangat mempengaruhi keberhasilan kontrasepsi.

· Agak mengganggu hubungan seksual (mengurangi sentuhan langsung).

· Pada beberapa klien bisa menyebabkan kesulitan untuk mempertahankan ereksi.

· Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual.

· Beberapa klien malu untuk membeli kondom di tempat umum.

· Pembuangan kondom bekas mungkin menimbulkan masalah dalam hal limbah.

2) Diafragma

Diafragma adalah kap berbentuk bulat cembung, terbuat dari lateks (karet) yang diinsersikan ke dalam vagina sebelum berhubungan seksual dan menutup serviks.

a) Manfaat

· Kontrasepsi

Efektif bila digunakan dengan benar.

Tidak mengganggu produksi ASI.

Tidak mengganggu hubungan seksual karena telah terpasang sampai 6 jam sebelumnya.

Tidak mengganggu kesehatan klien.

Tidak mempunyai pengaruh sistemik.

· Nonkontrasepsi

Salah satu perlindungan terhadap IMS/HIV/AIDS, khususnya apabila digunakan dengan spermisida.

Bila digunakan pada saat haid, menampung darah menstruasi.

b) Keterbatasan

· Elektivitas sedang (bila digunakan dengan spermisida angka kegagalan 6-18 kehamilan per 100 perempuan per lahun pertama).

· Keberhasilan sebagai kontrasepsi bergantung pada kepatuhan mengikuti cara penggunaan.

· Motivasi diperlukan berkesinambungan dengan menggunakannya setiap berhubungan seksual.

· Pemeriksaan pelvik oleh petugas kesehatan lerlatih diperlukan untuk memastikan ketepatan pemasangan.

· Pada beberapa pengguna menjadi penyebab infeksi saluran uretra.

· Pada 6 jam pasca hubungan seksual, alat masih harus berada di posisinya.

3) Spermisida

Spermisida adalah bahan kimia (biasanya non oksinol-9) digunakan untuk menon-aktifkan atau membunuh sperma. Dikemas dalam bentuk: aerosol (busa), tablet vaginal, suppositoria atau dissolvable film dan bentuk krim.

a) Manfaat

· Kontrasepsi

Efektif seketika (busa dan krim).

Tidak mengganggu produksi ASI.

Bisa digunakan sebagai pendukung metode lain.

Tidak mengganggu kesehatan klien.

Tidak mempunyai pengaruh sistemik.

Mudah digunakan.

Meningkatkan lubrikasi selama hubungan seksual.

Tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan kesehatan khusus.

· Nonkontrasepsi

Merupakan salah satu perlindungan terhadap IMS termasuk HB V dan HIV/AIDS.

b) Keterbatasan

· Efektivitas kurang (3-21 kehamilan per 100 perempuan per tahun pertama).

· Efektivitas sebagai kontrasepsi bergantung pada kepatuhan mengikuti cara peng-gunaan.

· Ketergantungan pengguna dari motivasi berkelanjutan dengan memakai setiap melakukan hubungan seksual.

· Pengguna harus menunggu 10-15 menit setelah aplikasi sebelum melakukan hubungan seksual (tablet busa vagina, suppositoria dan film).

· Efektivitas aplikasi hanya 1-2 jam.

e. Kontrasepsi Kombinasi

1) Profil

a) Efektif dan reversibel.

b) Harus diminum setiap hari.

c) Pada bulan-bulan pertama efek samping berupa mual dan pendarahan bercak yang tidak berbahaya dan segera akan hilang.

d) Efek samping serius sangat jarang terjadi.

e) Dapat dipakai oleh semua Ibu usia reproduksi, baik yang sudah mempunyai anak maupun belum.

f) Dapat mulai diminum setiap saat bila yakin sedang tidak hamil.

g) Tidak dianjurkan pada Ibu yangmenyusui.

h) Dapat dipakai sebagai kontrasepsi darurat.

2) Manfaat

a) Memiliki efektivitas yang tinggi (hampir menyerupai efektivitas tubektomi), bila digunakan setiap hari (1 kehamilan per 1000 perempuan dalam tahun pertama penggunaan).

b) Risiko terhadap kesehatan sangat kecil.

c) Tidak mengganggu hubungan seksual.

d) Siklus haid menjadi teratur, banyaknya darah haid berkurang (mencegah anemia), tidak terjadi nyeri haid.

e) Dapat digunakan jangka panjang selama perempuan masih ingin menggunakannya untuk mencegah kehamilan.

f) Dapat digunakan sejak usia remaja hingga menopause.

g) Mudah dihentikan setiap saat.

h) Kesuburan segera kembali setelah penggunaan pil dihentikan.

i) Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat.

j) Membantu mencegah:

· kehamilan ektopik,

· kanker ovarium,

· kanker endometrium,

· kista ovarium,

· penyakit radang panggul,

· kelainan jinak pada payudara,

· dismenore, atau

· akne.

3) Keterbatasan

a) Mahal dan membosankan karena harus menggunakannya setiap hari.

b) Mual, terutama pada 3 bulan pertama.

c) Perdarahan bercak atau perdarahan sela, terutama 3 bulan pertama.

d) Pusing.

e) Nyeri payudara.

f) Berat badan naik sedikit, tetapi pada perempuan tertentu kenaikan berat badan justeru memiliki dampak positif.

g) Berhenti haid (amenorea), jarang pada pil kombinasi.

h) Tidak boleh diberikan pada perempuan menyusui (mengurangi ASI).

i) Pada sebagian kecil perempuan dapat menimbulkan depresi, dan perubahan sua-sana hati, sehingga keinginan untuk melakukan hubungan seks berkurang.

j) Dapat meningkatkan tekanan darah dan retensi cairan, sehingga risiko stroke, dan gangguan pembekuan darah pada vena dalam sedikit meningkat. Pada pe­rempuan usia > 35 tahun dan merokok perlu hati-hati.

k) Tidak mencegah IMS (Infeksi Menular Seksual), HBV, HIV/AIDS.

f. Kontrasepsi Progestln

1) Suntikan

a) Profil

· Sangat efektif.

· Aman.

· Dapat dipakai oleh semua perempuan dalam usia reproduksi.

· Kembalinya kesuburan lebih lambat, rata-rata 4 bulan.

· Cocok untuk masa laktasi karena tidak menekan produksi ASI.

b) Keuntungan

· Sangat efektif.

· Pencegahan kehamilan jangka panjang.

· Tidak berpengaruh pada hubungan suami-istri.

· Tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius terhadap penyakit jantung. dan gangguan pembekuan darah.

· Tidak memiliki pengaruh terhadap ASI.

· Sedikit efek samping. Klien tidak perlu menyimpan obat suntik.

· Dapat digunakan oleh perempuan usia > 35 tahun sampai perimenopause.

· Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik.

· Menurunkan kejadian penyakit jinak payudara.

· Mencegah beberapa penyebab penyakit radang panggul.

· Menurunkan krisis anemia bulan sabit (sickle cell).

c) Keterbatasan

· Sering ditemukan gangguan haid, seperti:

Siklus haid yang memendek atau memanjang

Perdarahan yang banyak atau sedikit

Perdarahan tidak teratur atau perdarahan bercak (spotting)

Tidak haid sama sekali.

· Klien sangat bergantung pada tempat sarana pelayanan kesehatan (harus kembali untuk suntikan).

· Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan berikut.

· Permasalahan berat badan merupakan efek samping tersering.

· Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular seksual, hepa­titis B virus, atau infeksi virus HIV.

· Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian.

· Terlambatnya kembali kesuburan bukan karena terjadinya kerusakan/kelainan pada organ genitalia, melainkan karena belum habisnya pelepasan obat suntikan dari deponya (tempat suntikan).

· Terjadi perubahan pada lipid serum pada penggunaan jangka panjang.

· Pada penggunaan jangka panjang dapat sedikit menurunkan kepadatan tulang (densitas).

· Pada penggunaan jangka panjang dapat menirfibulkan kekeringan pada vagina, menurunkan libido, gangguan emosi (jarang), sakit kepala, nervositas, jerawat.

2) Pil (Minipil)

a) Profil

· Cocok untuk perempuan menyusui yang ingin memakai pil KB.

· Sangat efektif pada masa laktasi. .

· Dosis rendah.

· Tidak menurunkan produksi ASI.

· Tidak memberikan efek samping estrogen.

· Efek samping utama adalah gangguan perdarahan; perdarahan bercak, atau per­darahan tidak teratur.

· Dapat dipakai sebagai kontrasepsi darurat.

b) Keuntungan

· Kontrasepsi

Sangat efektif bila digunakan secara benar.

Tidak mengganggu hubungan seksual.

Tidak mempengaruhi ASI.

Kesuburan cepat kembali.

Nyaman dan mudah digunakan.

Sedikit efek samping.

Dapat dihentikan setiap saat.

Tidak mengandung estrogen.

· Non-kontrasepsi

Mengurangi nyeri haid.

Mengurangi jumlah darah haid. Menurunkan tingkat anemia.

Mencegah kanker endometrium.

Melindungi dari penyakit raciang panggul.

Tidak meningkatkan pembekuan darah.

Dapat diberikan pada penderita endometriosis.

Kurang menyebabkan peningkatan tekanan darah, nyeri kepala dan depresi.

Dapat mengurangi keluhan premenstrual sindrom (sakit kepala, perut kembun«, nyeri payudara, nyeri pada betis, lekas marah).

Sedikit sekali mengganggu metabolisme karbohidrat sehingga relatif aman dibe­rikan pada perempuan pengidap kencing manis yang belum mengalami kompli-kasi.

c) Keterbatasan

· Hampir 30 – 60% mengalami gangguan haid (perdarahan sela, spotting, amenorea).

· Peningkatan/penurunan berat badan.

· Harus digunakan setiap had dan pada waktu yang sama.

· Bila lupa satu pil saja, kegagalan menjadi lebih besar.

· Payudara menjadi tegang, mual, pusing, dermatitis atau jerawat.

· Risiko kehamilan ektopik cukup tinggi (4 dari 100 kehamilan), tetapi risiko ini lebih rendah jika dibandingkan dengan perempuan yang tidak menggunakan minipil.

· Efektivitasnya menjadi rendah bila digunakan bersamaan dengan obat tuberku-losis atau obat epilepsi.

· Tidak melindungi diri dari infeksi menular seksual atau HIV/AIDS.

· Hirsutisme (tumbuh rambut/bulu berlebihan di daerah muka), tetapi sangat jarang terjadi.

3) Implan

a) Profil

· Efektif 5 tahun untuk Norplant, 3 tahun untuk Jadena, Indoplant, atau Implanon.

· Nyaman.

· Dapat dipakai oleh semua Ibu dalam usia reproduksi.

· Pemasangan dan pencabutan perlu pelatihan.

· Kesuburan segera kembali setelah implan dicabut.

· Efek samping utama berupa perdarahan tidak teratur, perdarahan bercak dan amenorea.

· Aman dipakai pada masa laktasi.

b) Keuntungan

· Kontrasepsi

Daya guna tinggi.

Perlindungan jangka panjang (sampai 5 tahun).

Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan.

Tidak memerlukan pcmeriksaan dalam.

Bebas dari pengaruh estrogen.

Tidak mengganggu kegiatan sanggama.

Tidak mengganggu ASI.

Klien hanya perlu kembali ke klinik bila ada keluhan.

Dapat dicabut setiap saat sesuai dengan kebutuhan.

· Non-kontrasepsi

Mengurangi nyeri haid.

Mengurangi jumlah darah haid.

Mengurangi/memperbaiki anemia.

Melindungi terjadinya kanker endometrium.

Menurunkan angka kejadian kelainan jinak payudara.

Melindungi diri dari beberapa penyebab penyakit radang panggul.

Menurunkan angka kejadian endometriosis.

c) Keterbatasan

Pada kebanyakan klien dapat menyebabkan perubahan po!a haid berupa perdarahan bercak (spotting), hipermenorea, atau meningkatnya jumlah darah haid, serta ame-norea.

Timbulnya keluhan-keluhan, seperti:

· Nyeri kepala.

· Peningkatan/penurunan berat badan. 4 Nyeri payudara.

· Perasaan mual.

· Pening/pusing kepala.

· Perubahan perasaan (mood) atau kegelisahan (nervousness).

· Membutuhkan tindak pembedahan minor untuk insersi dan pencabutan.

· Tidak memberikan efek protektif terhadap infeksi menular seksual termasuk AIDS.

· Klien tidak dapat menghentikan sendiri pemakaian kontrasepsi ini sesuai dengan keinginan, akan tetapi harus pergi ke klinik untuk pencabutan.

· Efektivitasnya menurun bila menggunakan obat-obat tuberkulosis (rifampisin) atau obat epilepsi (fenitoin dan barbiturat).

· Terjadinya kehamilan ektopik sedikit lebih tinggi (1,3 per 100.000 perempuan per tahun).

4) AKDR dengan Progesterin

Jenis AKDR yang mengandung hormon steroid adalah prigestase yang mengan­dung progesteron dari Mirena yang mengandung levonorgestrel.

a) Keuntungan

· Kontrasepsi

Efektif dengan proteksi jangka panjang (satu tahun).

Tidak mengganggu hubungan suami istri.

Tidak berpengaruh terhadap ASI.

Kesuburan segera kembali sesudah AKDR diangkat.

Efek sampingnya sangat kecil.

Memiliki efek sistemik yang sangat kecil.

· Nonkontrasepsi

Mengurangi nyeri haid.

Dapat diberikan pada usia perimenopause bersamaan dengan pemberian estrogen, untuk pencegahan hiperplasia endometrium.

Mengurangi jumlah darah haid.

Sebagai pengobatan alternatif pengganti operasi pada perdarahan uterus disfungsional dan adenomiosis.

Merupakan kontrasepsi pilihan utama pada perempuan perimenopause.

Tidak mengurangi kerja obat tuberkulosis ataupun obat epilepsi, karena AKDR yang mengandung progestin kerjanya terutama lokal pada endometrium.

b) Keterbatasan

· Diperlukan pemeriksaan dalam dan penyaringan infeksi genitalia sebelum pemasangan AKDR.

· Diperlukan tenaga terlatih untuk pemasangan dan pencabutan AKDR.

· Klien tidak dapat menghentikan sendiri setiap saat, sehingga sangat tergantung pada tenaga kesehatan.

· Pada penggunaan jangka panjang dapat terjadi amenorea. Dapat terjadi perforasi uterus pada saat insersi (< 1/1000 kasus). Kejadian kehamilan ektopik relatif tinggi.

· Bertambahnya risiko mendapat penyakit radang panggul sehingga dapat menye-babkan infertilitas.

· Mahal.

· Progestin sedikit meningkatkan risiko trombosis sehingga perlu hati-hati pada perempuan perimenopause. Risiko ini lebih rendah bila dibandingkan dengan pil kombinasi.

· Progestin dapat menurunkan kadar HDL-kolesterol pada pemberian jangka pan­jang sehingga perlu hati-hati pada perempuan dengan penyakit kardiovaskular. Memperburuk perjalanan penyakit kanker payudara. Progestin dapat mempengaruhi jenis-jenis tertentu hiperlipidemia. Progestin dapat memicu pertumbuhan miomiuterus.

g. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (Akdr)

1) Profil

a) Sangat efektif, reversibel dan berjangka panjang (dapat sampai 10 tahun: CuT-380A).

b) Haid menjadi lebih lama dan lebih banyak.

c) Pemasangan dan pencabutan memerlukan pelatihan.

d) Dapat dipakai oleh semua perempuan usia reproduksi.

e) Tidak boleh dipakai oleh perempuan yang terpapar pada Infeksi Menular Seksual (IMS).

2) Keuntungan

a) Sebagai kontrasepsi, efektivitasnya tinggi. Sangat efektif à 0,6 – 0,8 kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan dalam 125 – 170 kehamilan).

b) AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan.

c) Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu di-ganti).

d) Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat.

e) Tidak mempengaruhi hubungan seksual.

f) Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil.

g) Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu AKDR (CuT-380A).

h) Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI.

i) Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus (apabila tidak terjadi infeksi).

j) Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih setelah haid terakhir).

k) Tidak ada interaksi dengan obat-obat.

l) Membantu mencegah kehamilan ektopik.

3) Kerugian

· Efek samping yang umum terjadi:

Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan berkurang setelah 3 bulan).

Haid lebih lama dan banyak.

Perdarahan (spotting) antar menstruasi.

Saat haid lebih sakit.

· Komplikasi lain:

Merasakan sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan.

Perdarahan berat pada waktu haid atau di antaranya yang memungkinkan penyebab anemia.

Perforasi dinding uterus (sangat jarang apabila pemasangannya benar).

· Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS.

· Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang sering berganti pasangan.

· Penyakit Radang Panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai AKDR. PRP dapat memicu infertilitas.

· Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelvik diperlukan dalam pemasangan AKDR. Seringkali perempuan takut selama pemasangan.

· Sedikit nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah pemasangan AKDR. Biasanya menghilang dalam 1-2 hari.

· Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri. Petugas kesehatan terlatih yang harus melepaskan AKDR.

· Mungkin AKDR keluar dari uterus tanpa diketahui (sering terjadi apabila AKDR dipasang segera sesudah melahirkan).

· Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi AKDR untuk mencegah kehamilan normal.

· Perempuan harus memeriksa posisi benang AKDR dari waktu ke waktu. Untuk melakukan ini perempuan harus memasukkan jarinya ke dalam vagina, sebagian perempuan tidak mau melakukan ini.

h. Kontrasepsi Mantap

1) Tubektomi

a) Profil

· Sangat efektif dan permanen.

· Tindak pembedahan yang aman dan sederhana.

· Tidak ada efek samping.

· Konseling dan informed consent mutlak diperlukan.

Tubektomi adalah prosedur bedah sukarela untuk menghentikan fertilitas (kesu-buran) seorang perempuan secara permanen.

b) Manfaat

· Kontrasepsi

Sangat efektif (0,2 – 4 kehamilan per 100 perempuan selama tahun pertama penggunaan).

Permanen.

Tidak mempengaruhi proses menyusui (breastfeeding).

Tidak bergantung pada faktor sanggama.

Baik bagi klien apabila kehamilan akan menjadi risiko kesehatan yang serius.

Pembedahan sederhana, dapat dilakukan dengan anestesi lokal.

Tidak ada efek samping dalam jangka panjang. iY\\j-0

Tidak ada perubahan dalam fungsi seksual (tidak ada efek pada produksi hormon ovarium).

· Non-kontrasepsi

Berkurangya risiko kanker ovarium.

c) Keterbatasan

· Harus dipertimbangkan sifat permanen metode kontrasepsi ini (tidak dapat dipulihkan kembali), kecuali dengan operasi rekanalisasi.

· Klien dapat menyesal di kemudian hari.

· Risiko komplikasi kecil (meningkat apabila digunakan anestesi umum).

· Rasa sakit/ketidaknyamanan dalam jangka pendek setelah tindakan.

· Dilakukan oleh dokter yang terlatih (dibutuhkan dokter spesialis ginekologi atau dokter spesialis bedah untuk proses laparoskopi).

· Tidak melindungi diri dari IMS, termasuk HBV dan HIV/AIDS.

2) Vasektomi

a) Profil

· Sangat efektif dan permanen.

· Tidak ada efek samping jangka panjang.

· Tindak bedah yang aman dan sederhana.

· Efektif setelah 20 ejakulasi atau 3 bulan.

· Konseling dan informed consent mutlak diperlukan.

b) Batasan

Vasektomi adalah prosedur klinik untuk menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan jalan melakukan oklusi vasa deferensia sehingga alur transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi (penyatuan dengan ovum) tidak terjadi.

c) Indikasi

Vasektomi merupakan upaya untuk menghentikan fertilitas dimana fungsi repro­duksi merupakan ancaman atau gangguan terhadap kesehatan pria dan pasangannya serta melemahkan ketahanan dan kualitas keluarga.

6. Kontrasepsi Pasca Keguguran

a. Kontrasepsi yang dianjurkan sesudah keguguran trimester I, sama dengan yang dianjurkan pada masa interval.

b. Kontrasepsi yang dianjurkan sesudah keguguran trimester II sama dengan yang dianjurkan pada masa pascapersalinan.

Tabel 2.

Mctode Kontrasepsi Pascakeguguran

Metoda Kontrasepsi

Waktu Mulai Penggunaan

Ciri-ciri Khusus

Catatan

Pil Kornbinasi

Kontrasepsi Progestin

Suntikan

Kombinasi

Implan

Segera mulai.

Dapat segera dimulai walaupun terdapat infeksi.

Sangat efektif.

Langsung efektif. Mengurangi kehilangan darah/anemia.

Jika konseling dan informasi belum cukup, tunda suntikan

pertama atau pema­sangan implan. Berikan metode sementara.

Untuk implan, perlu

tenaga terlatih.

AKDR

Trimester

• AKDR dapat langsung dipasang jika tidak ada infeksi.

•Tunda pemasangan

sampai luka atau infeksi sembuh, perdarahan diatasi, dan

anemia diperbaiki

• Jika konseling dan informasi belum cukup,

tunda pemasangan.

• Perlu tenaga terlatih

untuk pemasangan

dan pencabutan AKDR.

Trimester 11

•Tunda pemasangan 4-6 minggu pascakeguguran kecuali jika

tenaga terlatih dan

peralatan untuk insersi pascakeguguran

tersedia.

* Yakinkan tidak ada infeksi. Jika ternyata ada infeksi, tunda

pemasangan sampai

infeksi teratasi 3

bulan.

• Pada trimester II kemungkinan risiko perforasi sewaktu pema­sangan lebih besar.

KB alamiah

• Tidak dianjurkan.

• Waktu ovulasi perta-ma pascakeguguran sulit diperkirakan.

Tubektomi

• Secara teknis, tubek-tomi dapat langsung dikerjakan sewaktu terapi keguguran ke-cuali jika ada perda-rahan banyak atau in-feksi.

• Minilaparotomi sesu-dah keguguran tri­mester 1 sama de-ngan waktu interval.

• Sesudah keguguran trimester II sama de-ngan prosedur pasca-persalinan.

• Perlu konseling dan informasi yang cu-kup.

Tabcl 9-2: Panduan metode kontrasepsi pada bcbcrapa kondisi klinis

liPiiiiliRe^

Infeksi

• Tanda-tanda infeksi.

• Tanda-tanda aborsi ti-dak aman.

• Tidak dapat menying-kirkan infeksi.

AKDR: jangan dipasang sam-pai infeksi teratasi (3 bulan).

Tubektomi: jangan dilakukan sampai infeksi teratasi (3 bulan).

Kontrasepsi kombinasi: dapat segera diberikan.

Kontrasepsi progestin: dapat segera diberikan.

Barier/spermisida: dapat digu-nakan.

Perlukaan jalan lahir

• Perforasi uterus.

• Perlukaan vagina atau serviks.

AKDR: jangan dipasang sam­pai perlukaan sembuh.

Diafragma: idem.

• Spermisida: idem.

• Tubektomi: idem.

• Kontrasepsi kombinasi: dapat segera diberikan.

• Kontrasepsi progestin: dapat segera diberikan.

• Kondom: dapat digunakan

KONTRASEPSI PASCAKEGUGURAN

U-53

Perdarahan banyak

(Hb < 7g %).

Implan: tunda sampai anemia diatasi.

Kontrasepsi suntik: idem.

Kontrasepsi progestin: hati-hati.

AKDR: tunda sampai anemia diatasi.

Tubektomi: idem.

• Kontrasepsi kombinasi: dapat segera diberikan.

• AKDR: dapat digunakan.

• Spermisida: dapat digunakan. KONTRASEPSI PASCAKEGUGURAN

U-53

Perdarahan banyak

(Hb < 7g %).

Implan: tunda sampai anemia diatasi.

Kontrasepsi suntik: idem.

Kontrasepsi progestin: hati-hati.

AKDR: tunda sampai anemia diatasi.

Tubektomi: idem.

• Kontrasepsi kombinasi: dapat segera diberikan.

• AKDR: dapat digunakan.

• Spermisida: dapat digunakan.

D. Bayi Baru Lahir

1. Pengertian

Asuhan bayi baru lahir diberikan pada jam pertama setelah kelahiran dilanjutkan dengan 24 jam berikutnya.

2. Jadwal Pemeriksaan Bayi Baru Lahir

Dilakukan 3 kali yaitu :

a. Pada saat lahir

b. Pemeriksaan lanjutan yang dilakukan dalam 24 jam atau pada hari berikutnya

c. Pemeriksaan pada waktu pulang

Tujuannya :

a. Untuk menilai adaptasi neonatus dari kehidupan intrauterin ke ekstrauterin

b. Untuk mencari kelainan kongenital terutama yang perlu penanganan segera

3. Perubahan yang Terjadi pada BBL

a. Sistem Sirkulasi

Setelah bayi lahir bayi akan bemafas, ini akan menjadikan penurunan pada tekanan arteri pulmonalis, sehingga banyak darah mengalir ke paru-paru, duktus arteriosus botali menutup 1-2 menit setelah bayi bemafas. Dengan diguntingnya tali pusat maka akan terjadi penurunan pada vena cava inferior, sehingga tekanan pada atrium kanan berkurang sebaliknya tekanan pada atrium kiri bertambah maka terjadi penutupan foramen ovale.

O2 janin lebih rendah dari pada orang dewasa. Untuk mengimbangi ini peredaran janin lebih cepat, kadar Hb janin tinggi (18gr%) dan eritoctnya (5,5 juta/mm3).

Perbedaan Hb Janin dan Orang Dewasa:

1) Hb janin dibuat dalam hati, Hb dewasa pada sumsum merah

2) Hb janin lebih mudah mengambil dan menyerahkan O2 daripada orang dewasa

3) Hb janin baru diganti seluruhnya oleh Hb biasa pada umur 4 bulan atau lebih

b. Sistem Respirasi

Pernafasan bayi baru lahir tidak teratur, kedalamannya, kecepatannya dan bervariasi 30-60x/menit.

Rangsangan gerakan nafas pertama kali karena tekanan mekanis pada toraks sewaktu melalui jalan lahir sehingga terjadi kehilangan setengah dari jumlah cairan yang ada di paru-paru, sehingga sesudah lahir cairan yang hilang diganti dengan udara, paru-paru berkembang dan rongga dada kembali ke bentuk semula.

1) Penurunan tekanan oksigen dan kenaikan CO2 merangsang dengan masuknya darah dari paru-paru kedalam atrium kiri, menyebabkan foramen ovale menutup, sirkulasi janin berubah menjadi sirkulasi bayi yang hidup diluar badan ibu.

2) Kemoreseptor pada sinus karotis rangsangan dingin di daerah muka dapat merangsang permulaan gerakan pemafasan.

c. Suhu Tubuh

Saat lahir suhu bayi sama dengan suhu ibu, tapi bayi memiliki insulasi lemak, luas permukaan tubuh yang besar, sirkulasi yang relatif buruk serta belum dapat berkeringat dan menggigil maka suhu lingkungan harus diatur 36, 5-37,20C. untuk mengurangi kehilangan panas dilakukan pengaturan suhu kamar, membungkus badan dan kepala bayi, disimpan di tempat tidur hangat.

d. Nadi

Baru lahir denyut nadi 120-150x/menit, tergantung pada aktivitas. Nadi dapat menjadi tidak teratur karena stimulasi fisik atau emosional tertentu seperti gerakan involunter, menangis atau mengalami perubahan suhu yang tiba-tiba.

e. Tekanan Darah

Tekanan darah pada bayi baru lahir rendah sehingga sulit untuk di ukur secara akurat dengan spignomanometer konvensional, 80-60/45-40 mmHg dan 100/50 mmHg sampai dengan hari ke sepuluh.

f. Saluran Pencemaan

Pada kehamilan 4 bulan pencemaan telah terbentuk dan janin telah dapat menelan air ketuban dalam jumlah yang cukup, absorpsi air ketuban terjadi melalui mukosa seluruh saluran pencemaan. Bila dibandingkan dengan pencemaan orang dewasa pencemaan neonatus lebih berat dan lebih panjang. Enzim pencemaan sedah terdapat pada neonatus kecuali amilase pancreas, aktivitas lipase terjadi pada janin 7-8 bulan.

g. Susunan Saraf

Pada trimester akhir hubungan antara saraf dan fungsi otot-otot menjadi lebih sempuma, sehingga janin diatas 32 minggu dapat hidup diluar kandungan. Pada kehamilan 7 bulan mata janin sangat sensitif terhadap cahaya.

Asuhan segera pada bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan pada bayi tersebut selam jam pertama setelah kelahiran. Sebagian besar bayi baru lahir akan menunjukkan usaha pemafasan spontan dengan sedikit bantuan atau gangguan. Aspek-aspek penting dari asuhan segera bayi baru lahir :

1) Jagalah agar bayi tetap kering dan hangat

2) Usahakan adanya kontak antara kulit bayi dengan kulit ibunya sesegera mungkin segera setelah melahirkan badan bayi

3) Sambil secara cepat menilai pemafasan, letakkan bayi dengan handuk diatas perut ibu

4) Dengan kain bersih dan kering atau kasa lap darah atau lendir dari wajah bayi untuk mencegah jalan udaranya terhalang. Periksa ulang pernafasan bayi.

2. Penatalaksanaan Bayi Baru Lahir yang meliputi:

a) Pencegahan infeksi

Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi, oleh karena itu saat melakukan penanganan bayi baru lahir haruslah melakukan tindakan pencegahan infeksi berikut ini:

1) Cuci tangan secara seksama sebelum dan sesudah melakukan kontak dengan bayi.

2) Mamakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan.

3) Pastikan bahwa semua peralatan termasuk klem, gunting dan benang tali pusat telah di desinfeksi tingkat tinggi atau steril. Jika menggunakan bola karet penghisap harus yang bersih dan masih baru. Jangan pernah menggunakan bola karet penghisap untuk lebih dari satu bayi.

4) Pastikan bahwa semua pakaian, handuk, selimut serta kain yang digunakan untuk bayi dalam keadaan bersih.

5) Pastikan bahwa timbangan, pita ukur,termometer, stetoskop dan benda-benda lainnya yang akan bersentuhan dengan bayi.

b) Penilaian awal

Segera lakukan penilaian awal pada bayi baru lahir secara cepat dan tepat dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

a. Apakah bayi menangis kuat atau bernafas tanpa kesulitan

b. Apakah bayi bergerak aktif atau dalam keadaan lemas

c. Apakah warna kulit bayi merah muda, pucat atau biru

c) Pencegahan kehilangan panas

Bayi baru lahir tidak dapat mengatur suhu tubuhnya secara memadai, dan dapat dengan cepat suhu tubuh bayi menjadi turun sehingga kehilangan panas tidak dapat dicegah

Mekanisme Kehilangan Panas

Kehilangan panas tubuh pada bayi baru lahir dapat terjadi melalui mekanisme sebagai berikut :

1) Evaporasi, yaitu cara kehilangan panas yang utama pada tubuh bayi. Kehilangan panas terjadi karena menguapnya cairan ketuban pada permuaan tubuh bayi setelah bayi lahir karena tubuh bayi tidak segera dikeringkan. Hal yang sama dapat terjadi setelah bayi dimandikan

2) Konduksi, Yaitu kehilangan panas melalui kontak langsung aantara tubuh bayi dengan pemukaan yang dingin. Bayi yang diletakan diatas meja, tempat tidur atau timbangan yang dingi akan cepat mengalami kehilangan panas tubuh melalui konduksi

3) Konveksi, yaitu kehilangan panas yang terjadi pada saat bayi terpapar dengan udara sekitar yang lebih dingan. Bayi yang dilahirkan atau ditempatkan dalam ruamgan yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas juga dapat terjadi jika ada tiupan kipas angin, aliran udara atau penyejuk ruangan

4) Radiasi, kehilangan panas yang terjadi saat bayi ditempatkan dekat benda yang mempunyai temperatur tubuh yang lebih rendah dari temperatur tubuh bayi. Bayi akan mengalami kehilangan panas melalui cara ini meskipun benda yang lebih dingin tersebut tidak bersentuhan langsung dengan tubuh bayi

d) Rangsangan taktil

Mengeringkan tubuh bayi juga merupakan tindakan stimulasi. Untuk bayi yang sehat, hal ini cukup untuk merangsang terjdinya pernafasan spontan. Pada saat melakukan ramgsangan taktil, pastikan bahwa bayi diletakan pada posisi yag benar dan jalan nafasnya telah bersih. Rangsangan taktil harus dilakukan secara lembut dan hati-hati.

e) Merawat Tali Pusat

1) Mengikat Tali Pusat

Setelah plasenta dilahirkan dan ondisi ibu dianggap stabil, iat dan jepitkan klem plastik tali pusat pada puntung tali pusat

2) Perawatan tali pusat

Jangan membungkus pusar atau perut atau mengoleskan bahan atau ramuan apapun ke puntung tali pusat, dan nasehati keluarga untuk tidak memberikan apapun pada pusar bayi.

Pemakaian alkohol ataupun bethadine masih diperkenankan sepanjang tidak menyebabkan tali pusat basah atau lembab

Beri nasehat pada ibu dan keluarganya sebelum penolong meninggalkan bayi:

Lipat popok dibawah puntung tali pusat

Jika ujung tali pusat kotor, cuci secara lembut dengan air matang (desinfeksi tingkat tinggi) dan sabun. Keringkan secara seksama dengan kain bersih

Jelaskan pada ibu bahwa ia harus mencari bantuan perawatan jika pusat menjadi merah atau mengeluarkan nanah atau darah

Jika pusat mengeluarkan nanah atau darah, segera rujuk bayi tersebut ke fasilitas yang mampu untuk memberikan perawatan bayi baru lahir secara lengkap

f) Memulai pemberian Air Susu Ibu

Pastikan bahwa pemberian Air Susu Ibu dimulai dengan waktu 30 menit stelah bayi lahir. Anjurkan ibu untuk memeluk dan mencoba untuk menyusukan bayinya segera setelah tali pusat diklem dan dipotong. Tentramkan ibu bahwa penolong akan membantu ibu menyusukai bayi setelah plasenta lahir dan penjahitan laserasi selesai dekerjakan. Anggota keluarga mungkin bisa membantunya untuk memulai pemberian Air Susu Ibu lebih awal. Setelah semua prosedur yang diperlukan diselesaikan, ibu sudah bersih dan mengganti baju, bantu ibu untuk melakukan tekhnik pemberian ASI pada bayinya.

Keuntungan pemberian Air Susu Ibu secara dini:

Merangsang produksi air susu ibu (ASI)

Memperkuat reflek menghisap (reflek menghisap awal pada bayi, paling kuat dalam beberapa jam pertama setelah lahir). Memulai pemberian Air Susu Ibu secara dini akan memberikan pengaruh yang positif bagi kesehatan bayi.

Mempromosikan hubungan emosional antara ibu dan bayinya.

Memberikan kekebalan pasif segera pada bayi melalui kolostrum.

g) Jaga bayi agar tetap hangat

1) Pastikan bayi tersebut tetap hangat dan terjadi kontak antara kulit bayi dengan kulit ibu.

2) Ganti handuk/kain yang basah, dan bungkus bayi tersebut dengan selimut dan jangan lupa memastikan bahwa kepala telah dilindungi dengan baik untuk mencegahnya panas tubuh.

3) Pastikan bayi tetap hangat dengan memeriksa telapak kaki bayi selama 15 menit :

Apabila telapak bayi tetap dingin, periksalah suhu aksila bayi.

Apabila suhu kurang dari 36,5C segera hangatkan bayi tsb.

h) Kontak Dini dengan ibu

1) Berikan bayi kepada ibu secepat mungkin, kontak dini antara ibu dan bayi penting untuk :

Kehangatan untuk mempertahankan panas yang benar pada bayi baru lahir

Ikatan bathin dan pemberian ASI

2) Dorongan ibu untuk menyusukan bayinyaapabila bayi telah “siap” (dengan menunjuk refleks rooting).

i) Pernafasan

Sebagian besar bayi akan bernafas secara spontan. Pernafasan bayi sebaiknya diperiksa secara teraturuntuk mengetahui adanya masalah

1) Periksa pernafasan dan warna kulit bayi setiap 5 menit

2) Jika bayi tidak bernafas, lakukan hal sebagai berikut :

Keringkan bayi dengan selimut atau handuk yang hangat.

Gosoklah punggung bayi dengan lembut.

3) Jika bayi masih bias bernafas selama 60 detik mulai lakukan resusitasi

4) Apabila bayi sulit bernafas dan sianosis (frekuensi pernafasan <30 atau >60 x/ menit) beri oksigen pada bayi dengan kateter nasal.

j) Perawatan Mata

Obat mata Erytromisin 0,5% atau Tetrasiklin 1% dianjurkan untuk mencegah penyakit mata karena Klamida/PMS. Obat mata perlu diberikan pada jam pertama setelah melahirkan

k) Memberi Vit K

Untuk mencegah terjadi perdarahan semua bayi baru lahir normal dan cukup bulan perlu diberi Vit K peroral 1 mg/hari selama 3 hari, sedangakan pada yang beresiko tinggi diberi Vit K perenteral dengan dosis 0,5-1 mg IM.

l) Asuhan Bayi Baru Lahir

Dalam waktu 24 jam, bila bayi tidak mengalami masalah apapun, berikan asuhan sbb:

a. Pertahankan Suhu Tubuh Bayi

Mandikan bayi lebih dari 6 jam setelah dilahirkan, itu jika tidak ada masalahmedis dan jika suhunya 36,5C.

Bungkus bayi dengan kain kering dan hangat, kepala bayi harus ditutup.

b. Pemeriksaan fisik bayi

Lakukan pemeriksaan fisik yang lebih lengkap, ketika memeriksa bayi baru lahir ingat butir-butir penting berikut :

Gunakan tempat yang hangat dan bersih untuk pemeriksaan.

Cuci tangan sebelum dan sesudah pemeriksaan, gunakan sarung tangan dan bertindak lembut pada saat menangani bayi.

Lihat, dengarkan, dan rasakan tiap-tiap daerah, dimulai dari daerah kepaladan dilanjutkan secara sisitematik munuju jari kaki.

Jika ditemukan factor resiko atau masalah, carilah bantuan lebih lanjutyang memang diperlukan

Dokumentasikan hasil pengamatan dan setiap tindakan dan jika diperlukan bantuan lebih lanjut.

Tabel 2. 5

Tanda bahaya bayi baru lahir

Tanda bahaya yang harus diwaspadai pada bayi baru lahir

§ Pernafasan – sulit atau > 60 x/menit § Kehangatan – terlalu panas >38C atau terlalu dingin <36C. § Warna – kuning terutama 24 jam pertama, biru, pucat,memar. § Pemberian makanan – hisapan lemah, ngantuk berlebih, banyak muntah. § Tali pusat – merah, bengkak, keluaran cairan, bau busuk atau berdarah. § Infeksi – suhu meningkat, merah, bengkak,keluar cairan (nanah), bau busuk, pernafasan sulit. § Tinja/kemih – tidak berkemih dalam 24 jam, tinja lembek, sering, hijau tua, ada lendir atau darah pada tinja. § Aktifitas – menggigil atau tangisan yang tidak biasa, sangat mudah tersinggung, lemas, terlalu ngantuk, lunglai, kejang, kejang halus, tidak bias tenang, menangis terus menerus.

Pelayanan Kesehatan Maternal&Neonatal,2002

Imunisasi pada Bayi

Imunisasi BCG diberikan pada umur 2-3 bulan (dalam masa inkubasi) karena imunitas yang diperlukan untuk penyakit tuberkulosis terutama adalah imunitas seluler, sedangkan imunitas seluler tidak diturunkan melewati plasenta. Pada daerah-daerah bukan endemis tuberkulosis, BCG dapat diberikan pada umur yang lebih tua. Pedoman Departemen Kesehatan RI, agar imunisasi BCG diberikan pada umur antara 0-12 bulan, tetap disetujui dengan alasan untuk mendapatkan cakupan yang lebih luas.

Dosis untuk bayi kurang dari 1 tahun adalah 0,05 mL dan untuk anak adalah 0,10 mL. Imunisasi diberikan intrakutan di daerah insersi muskulus deltoideus karian. BCG ulangan tidak dianjurkan karena manfaatnya diragukan, mengingat (!) efek­tivitas perlindungan rata-rata hanya sekil.ar 40%, (2) 70% kasus tuberkulosis berat (meningitis) temyata mempunyai parut BCG, dan (3) kasus dewasa dengan BTA sputum (basil tahan asam) positif di Indonesia cukup tinggi (25-36%) walaupun telah menda­patkan BCG pada masa kanak-kanak. BCG tidak dapat diberikan pada penderita dengan gangguan kekebalan (immunccompro-miscd). seperti pada penderita leukemia, penderita dalam pengoba-tan steroid jangka panjang, dan penderita infeksi H1V. Apabila BCG diberikan pada umur lebih dari 3 bulan, sebaiknya dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu (IDAI, 1999).

Hepatitis BAda dua tipe vaksin hepatitis B yang mengandung HbsAg, yaitu (1) vaksin yang berasa1 dari plasma, dan (2) vaksin rekombinan. Kedua vaksin ini aman dan imuno-genik walaupun diberikan pada saat lahir karena antibodi anti-HBsAg ibu tidak mengganggu respons terhadap vaksin. Lebih dari 90% anak yang rentan mengembangkan respons antibodi protektif (dengan titer lebih dari 10 \ig (mcg)/mL) pasca-tiga dosis vaksin, sedangkan efektivitas vaksin untuk mencegah pengidap kronis pada kebanyakan kohort anak yang dipelajari selama lebih dari 10 tahun, lebih dari 90%.

Bayi dari ibu pengidap HBsAg-positif berespons kurang baik terhadap vaksin karena vaksinasi sering baru diberikan setelah infeksi terjadi. Efektivitas vaksin untuk mencegah pengidap Hepatitis B kronis pada bayi-bayi ini berkisar antara 75-95%. Pemberian satu dosis imunoglobulin hepatitis B (hepatitis B immunpglobulin, HBIG) pada saat lahir dapat sedikit memperbaiki efektivitasnya, tetapi HBIG tidak selalu tersedia di kebanyakan negara-negara berkembang, di samping harganya yang relatif mahal (EPI WHO, 1995).

Imunisasi Ucpauus o uiueiuuui a^^nn m^i^.v… .^ . .. . raengtngat sekitar 33% ibu melahirkan di negara berkembang adalah pengidap HBsAg positif dengan perkiraan transmisi mater­nal 40%~(lbAI, 1999).

DPT/DT—DPT merupakan vaksin yang mengandung tig; elemen, yaitu (1) Toksoid Corynebocterium diphtheriae (difteri), (2

/ Bakteri Bordetella pertussis yang telah dimatikan (seluruh sel), dan

(3) Toksoid Clostndium tetani (tetanus).

Toksoid Difteri

Toksoid difteri hampir selalu diberikan bersama dengan y toksoid tetanus dan vaksin pertusis sebagai bagian dari vaksin DPT pada seri imunisasi primer. Toksoid difteri juga tersedia sebagai komponen dari vaksin kombinasi lain atau sebagai vaksin monovalen. Vaksin DPT mengandung 10-20 Lf toksoid difteri per dosis dengan potensi toksoid difteri sekitar 30 IU per dosis. Vaksin kombinasi difteri-tetanus ada dalam dua sediaan, yaitu DT dengan 10-30 Lf per dosis untuk anak berumur 7 tahun atau kurang dan dT dengan kadar toksoid difteri. yang lebih rendah (2-5 Lf per dosis) untuk anak yang lebih tua dan orang dewasa. karena adanya hipereaktivitas terhadap toksoid difteri pada orang-orang yang telah tersensitisasi antigen. DT diberikan pada anak yang mem-punyai kontraindikasi terhadap vaksin pertusis, sedangkan dT digunakan di negara-negara yang pemberian booster toksoid in! direkomendasikan seumur hidup.

Toksoid Tetanus—Toksoid tetanus (TT) adalah preparat iksin tetanus yang diinaktifkan dengan formaldehid dan diab­sorbsi pada garam alumunium’ untuk meningkatkan antigenesi-

tasnya. Preparat TT cukup stabil, dapat bertahan paaa suhu kamar selama beberapa bulan dan pada suhu 37°C selama beberapa minggu tanpa kehilangan potensi yang berarti. TT merangsang pembentukan antitoksin untuk menetralkan toksin tetanus. Antitoksin yang melewati plasenta ke janin pasca imunisasi aktif pada ibu dapat mencegah kejadian tetanus neona-torum. Kadar antitoksin tetanus 0,01 lU/mL s<;rum yang ditentukari dengan pemeriksaan in vivo, seperti pemeriksaan netralisasi, dianggap sebagai kadar protektif minimum. Bila diukur secara in vitro, seperti EL1SA atau hemaglutinin pasif, kadar in utuo tersebut setara dengan 0,1 lU/mL antibodi hasil pengukuran in uitro. TT adalah vaksin yang sangat efektif, presentasi kegagalannya sangat kecil. Efektivitas dua dosis TT selama hamil dalam mencegah tetanus neonatorum berkisar antara 80-100% (EP1V/HO, 1993).

Vaksin Pertusis—Ada dua jenis vaksin pertusis, yaitu (1 vaksin seluruh sel, yaitu vaksin yang mengandung seluruh bakter pertusis yang dimatikan dengan bahan kimia atau panas, dan (2

; vaksin aseluler, yang baru-baru ini diperkenalkan di beberapf ; negara maju. Vaksin pertusis efektif untuk mencegah penyaki serius, tetapi tidak dapat meiindungi secara sempuma terhadai infeksi Bordetella pertussis. Efektivitas dan kadar antibodi pro tektif sesudah vaksinasi makin lama makin berkurang (Fine am Clarkson, 1987). Kadar antibodi protektif terhadap pertusis belur

^iketahui. Dari berbagai penelitian diketahui bahwa deraj?.

• Vafcsin Poliomielitis—Ada dua jenis vaksin poliomielitis, yaitu vaksin yang diberikan per oral dan yang diberikan secara suntikan. Vaksin poliomielitis oral (Sabin) mengandung tiga tipe virus polio hidup yang dilemahkan (virus polio 1, 2 dan 3). Karena harganya yang murah, mudah pemberiannya, dapat menginduksi imunitas intestinal, dan berpotensi menginfeksi secara sekunder kontak rumah tangga dan komunitas, WHO merekomendasikan pemberian vaksin polio oral trivalen sebagai vaksin pilihan untuk , pemberantasan poliomielitis.

Risiko terjadinya polio paralitik akibat vaksin (vaccine-associ ated paralytic polio. VAPPj setelah penggunaan vaksin polio ora (Sabin) pada anak yang imunokompeten adalah satu kasus untul setiap 750 000 anak yang divaksinasi. Risikonya berkurang 2( kali lipat pada pemberian selanjutnya. Risiko terjadinya VAP1 meningkat 3000 kali pada penderita gangguan sistem kekebalan

Vaksin Campafc—Vaksin campak adalah preparat virus

i J jhidupyang dilemahkan dan berasal dari berbagai strain virus V /campak yang diisolasi pada tahun 1950. Virus vaksin ditumbuhkan pada media sel embrto ayam. Titer vaksin standar mengandung tidak kurang dari 3log10 (1000) unit infeksius per dosis. Meningkatkan potensi vaksin tidak akan menaikkan tingkat serokonversi pada anak berumur 9 bulan atau lebih. Vaksin campak harus didinginkan pada suhu yang sesuai (2-8°C) karena : sinar matahari atau panas dapat membunuh virus vaksin “t campak. Bila virus vaksin mati sebelum disuntikkan, vaksin tersebut tidak akan mampu menginduksi respons imun. Banyak kegagalan vaksinansi akibat kesalahan penyimpanan. Di negara yang sedang berkembang, angka serokonversi biasanya lebih dari 85% (Diaz-Qrtega et al., 1994).

Dengan pemberian satu dosis vaksin campak, insidens campak dapat diturunkan lebih dari 90%. Namun, karena campak merupakan penyakit yang sangat menular, masih dapat terjadi wabah pada anak usia sekolah meskipun 85-90% anak sudah mempunyai imunitas. Oleh karena itu, untuk program eradikasi campak diperlukan pemberian. ulangan vaksinasi pada usia sekitar 5-7 tahun. Tujuannya adalah untuk menekan jumlah indMdu yang rentan terjangkit campak sampai di bawah 1% , 2000).

I Efek samping imunisasi campak di antaranya adalah demam tlnggi (suhu lebih dari 39,4°C) yang terjadi 8-10 hari setelah vaksinasi dan berlangsung selama sekitar 24-48 jam (insidens I sekitar 2%), dan ruam selama sekitar 1-2 hari (insidens sekitar I 2%). Efek samping yang lebih berat, seperti ensefalitis, sangat \ jarang terjadi, kurang dari 1 setiap 1-3 juta dosis yang diberikan. | SSPE (suhacute sclerosing panencephalitis) tidak pernah ditemukan

Hagi di negara-negara yang telah melaksanakan program imunisasi :ampak dengan efektif sehingga kecil sekali kemungkinan vaksin nengakibatkan SSPE (Gold, 2000).

10. Kapan imunisasi diberikan ? a. BCG

Diberikan sebelum bayi berumur 2 (dua) bulan

Bag/ yang belum, segera berikan sebelum bayi berumur 12 (dua betas) bulan

Bagi anak yang berumur lebihdari 12 (dua belas) bulan pembe-I rian imunisasi BCG, sebaiknya dikonsultasikan ketenaga kese-,’ hatan terlebih dahulu b. Hepatitis B

Imunisasi hepatitis B ini diberikan sebanyak 3 (tiga) kali yaitu :

Imunisasi I sedini mungkin setelah lahir

Imunisasi II satu atau dua bulan kemud/an setelah pemberian

pertama / Imunisasi III diberikan 6 (enam) bulan setelah pemberian kedua

Bila jadwal pemberian imunisasi terlambat, diberikan lengkap sampai 3 (tiga) kali, tetapi tidak perlu diulang

Bila sampai usia remaja belum mendapatkan imunisasi, maka perlu diberikan imunisasi lengkap, yang jadwalnya sarna dengan jadwal tersebut d/atas

c. DPT

Imunisasi dasar DPT diberikan sebanyak 3 (tiga) kali:

• Pertama: bayi berusia 2 bulan

• Kedua: bayi berusia 3 bulan

• Ketiga: bayi berusia 4 bulan

• Imunisasi ulangan „

• Keempat: saat anak berusia 18 – 24 bulan

• Kelima: saat anak usia sekolah, yaitu 5-7 tahun .

• Keenam : saat anak berusia 12 tahun

d. Polio ,,tv~..-.-:

Imunisasi dasar diberikan 4 (empat) kali:

• Pertama segera setelah lahir / sebelum meninggalkan klinik / rumah bersalin

• Kedua satu bulan setelah pemberian pertama (2-3 bulan)

• Ketiga, satu bulan setelah pemberian kedua (3-4 bulan)

• Keempat, satu bulan sesudahnya (4-5 bulan)

• Imunisasi ulangan (polio 5) pada saat masa sekolah (5-6

tahun) e. Campak j,

Imunisasi campak diberikan pada bayi berumur 9 bulan

Tidak perlu imunisasi ulangan


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”Arial Narrow”; panose-1:2 11 5 6 2 2 2 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 2048 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:507405343; mso-list-type:simple; mso-list-template-ids:1413508894;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; mso-level-legacy:yes; mso-level-legacy-indent:18.0pt; mso-level-legacy-space:0cm; margin-left:0cm; text-indent:0cm; font-family:”Arial”,”sans-serif”;} @list l1 {mso-list-id:1042561295; mso-list-type:simple; mso-list-template-ids:1413508894;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; mso-level-legacy:yes; mso-level-legacy-indent:18.0pt; mso-level-legacy-space:0cm; margin-left:0cm; text-indent:0cm; font-family:”Arial”,”sans-serif”;} @list l2 {mso-list-id:1153376096; mso-list-type:simple; mso-list-template-ids:-1602082344;} @list l2:level1 {mso-level-text:”%1\)”; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; mso-level-legacy:yes; mso-level-legacy-indent:18.0pt; mso-level-legacy-space:0cm; margin-left:0cm; text-indent:0cm; font-family:”Arial”,”sans-serif”;} @list l3 {mso-list-id:1563517630; mso-list-type:simple; mso-list-template-ids:-1280691132;} @list l3:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; mso-level-legacy:yes; mso-level-legacy-indent:18.0pt; mso-level-legacy-space:0cm; margin-left:0cm; text-indent:0cm; font-family:”Arial”,”sans-serif”;} @list l4 {mso-list-id:1720543931; mso-list-type:simple; mso-list-template-ids:1413508894;} @list l4:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; mso-level-legacy:yes; mso-level-legacy-indent:18.0pt; mso-level-legacy-space:0cm; margin-left:0cm; text-indent:0cm; font-family:”Arial”,”sans-serif”;} @list l1:level1 lfo2 {mso-level-start-at:2; mso-level-numbering:continue; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; mso-level-legacy:yes; mso-level-legacy-indent:18.0pt; mso-level-legacy-space:0cm; margin-left:0cm; text-indent:0cm; font-family:”Arial”,”sans-serif”;} @list l1:level1 lfo3 {mso-level-start-at:3; mso-level-numbering:continue; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; mso-level-legacy:yes; mso-level-legacy-indent:18.0pt; mso-level-legacy-space:0cm; margin-left:0cm; text-indent:0cm; font-family:”Arial”,”sans-serif”;} @list l0:level1 lfo5 {mso-level-start-at:2; mso-level-numbering:continue; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; mso-level-legacy:yes; mso-level-legacy-indent:18.0pt; mso-level-legacy-space:0cm; margin-left:0cm; text-indent:0cm; font-family:”Arial”,”sans-serif”;} @list l4:level1 lfo7 {mso-level-start-at:2; mso-level-numbering:continue; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; mso-level-legacy:yes; mso-level-legacy-indent:18.0pt; mso-level-legacy-space:0cm; margin-left:0cm; text-indent:0cm; font-family:”Arial”,”sans-serif”;} @list l4:level1 lfo8 {mso-level-start-at:3; mso-level-numbering:continue; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; mso-level-legacy:yes; mso-level-legacy-indent:18.0pt; mso-level-legacy-space:0cm; margin-left:0cm; text-indent:0cm; font-family:”Arial”,”sans-serif”;} @list l3:level1 lfo10 {mso-level-start-at:2; mso-level-numbering:continue; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; mso-level-legacy:yes; mso-level-legacy-indent:18.0pt; mso-level-legacy-space:0cm; margin-left:0cm; text-indent:0cm; font-family:”Arial”,”sans-serif”;} @list l3:level1 lfo11 {mso-level-start-at:3; mso-level-numbering:continue; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; mso-level-legacy:yes; mso-level-legacy-indent:18.0pt; mso-level-legacy-space:0cm; margin-left:0cm; text-indent:0cm; font-family:”Arial”,”sans-serif”;} @list l3:level1 lfo12 {mso-level-start-at:4; mso-level-numbering:continue; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; mso-level-legacy:yes; mso-level-legacy-indent:18.0pt; mso-level-legacy-space:0cm; margin-left:0cm; text-indent:0cm; font-family:”Arial”,”sans-serif”;} @list l3:level1 lfo13 {mso-level-start-at:5; mso-level-numbering:continue; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; mso-level-legacy:yes; mso-level-legacy-indent:18.0pt; mso-level-legacy-space:0cm; margin-left:0cm; text-indent:0cm; font-family:”Arial”,”sans-serif”;} @list l2:level1 lfo15 {mso-level-start-at:2; mso-level-numbering:continue; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; mso-level-legacy:yes; mso-level-legacy-indent:18.0pt; mso-level-legacy-space:0cm; margin-left:0cm; text-indent:0cm; font-family:”Arial”,”sans-serif”;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

1. Rancangan Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian analitik, yaitu survei atau penelitian yang mencoba menggalii bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan terjadi. Kemudian melakukan analisis dinamika korelasi antara fenomena, baik antar faktor risiko dengan faktor efek, antar faktor resiko maupun antar faktor efek (Notoatmodjo, 2005). Pada penelitian ini menggunakan pendekatan secara cross-sectional yaitu mempelajari hubungan antara faktor resiko dengan penyakit (efek), observasi atau pengukuran terhadap variabel bebas (faktor risiko) dan variabel tergantung (efek) dilakukan sekali dalam waktu yang bersamaan (Sastroasmoro, 2005). Dalam penelitian ini mempelajari hubungan antara preeklampsi dalam persalinan dengan kejadian asfiksia.

2. Paradigma Penelitian

Pre-eklampsia disebabkan oleh beberapa faktor predisposisi, yaitu: primigravida, grand multigravida, janin besar, kehamilan dengan janin lebih dari satu, dan obesitas. Pada wanita yang mempunyai ibu atau saudara perempuannya pernah mengalami hipertensi dalam kehamilan sebagai faktor keturunan. Preeklamsi dapat dipengaruhi oleh usia ibu yang lebih muda atau lebih tua dari biasanya. Sedangkan asfiksia disebabkan oleh jenis persalinan, umur kehamilan, gangguan plasenta.

Penyebab utama kematian neonatus akibat preeklamsi ialah insufisiensi plasenta dan solusio plasenta. Retardasi pertumbuhan dalam rahim (IUGR, intrauterin growth retardation) dijumpai pada bayi yang ibunya preeklamsi karena gangguan perfusi plasenta menimbulkan degenerasi plasenta.

Preeklamsi berat menjadikan persalinan sebagai indikasi karena berhubungan dengan kondisi gawat janin (Scott, 2002).

Untuk penderita preeklamsi diperlukan analgetik dan sedativa lebih banyak dalam persalinan. Telah diketahui bahwa pada preeklamsi janin diancam bahaya hipoksia dan pada persalinan bahaya ini semakin besar, pada gawat janin, dalam kalaI dilakukan segera seksio sesaria , pada kala II dilakukan ekstraksi dengan vakum dan masa postpartum bayi sering menunjukan tanda asfiksia neonatorum karena hipoksia intrauterin, pengaruh obat penenang, atau narkosis umum (Sarwono, 2002).

Berdasarkan hal di atas maka kerangka konsep penelitian adalah sebagai berikut:

Bagan 3.1

Kerangka Konsep

Hubungan Preeklamsi dalam Persalinan

Dengan Asfiksia Neonatorum

Keterangan:

: diteliti

: tidak diteliti

3. Hipotesis Penelitian

Hipotess dalam penelitian ini adalah :

a. Terdapat hubungan antara preelampsi ringan dalam persalinan dengan kejadian asfiksia.

b. Tidak terdapat hubungan antara preeklampsi berat dalam persalinan dengan kejadian asfiksia.

c. Tidak ada hubungan antara preeklampsi ringan dan preeklampsi berat dengan kejadian asfiksia.

4. Variabel Penelitian

Variabel penelitian ini adalah preeklamsi dalam persalinan yang mempengaruhi kejadian Asfiksia neonatorum dan dapat di ambil sub variabel dalam penelitain ini adalah:

a. Variabel independen sebagai faktor resiko terjadinya asfiksia neonatorum yaitu preeklamsi dalam persalinan.

b. Variabel dependen sebagai faktor efek yaitu kejadian asfiksia neonatorum.

Tabel 3.1

Definisi Operasional

No

Variabel

Definisi Operasional

Cara Pengukuran

Alat Ukur

Kategori

Skala

1

Asfiksia

Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan dimana bayi tidak segera bernafas secara spontan dan teratur serta terjadi jika kadar oksigen lebih rendah dibandingkan kadar karbondioksida dan asam laktat di dalam darah.

Lembar observasi

Daftar ceklis

1. Asfiksia 2. Tidak Asfiksia

Nominal

2

Preeklamsi

Preeklamsi merupakan suatu kondisi spesifik dimana hipertensi terjadi setelah20 minggu kehamilan yang tekanan sebelumnya normal dan merupakan penyakit vasospastik yang ditandai oleh hemokonsentrasi, hipertensi, dan proteinuria.

Lembar observasi

Daftar ceklis

1. Preeklamsi ringan 2. Preeklamsi berat 3. Eklamsi

Ordinal

B. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Dalam penelitian ini populasi yang diteliti adalah keseluruhan objek yang diteliti yaitu semua bayi yang lahir berjumlah 1407 bayi yang dilahirkan di Rumah Sakit BRSUD Waled Cirebon periode tahun 2006.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewaklili seluruh populasi.

Sampel pada penel;itian ini adalah semua bayi yang mengalami kejadian asfiksia dalam persalinan yang dilahirkan di Rumah Sakit BRSUD Waled Cirebon tahun 2006. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik random sampling. Menurut Notoatmodjo (2005), untuk populasi lebih kecil dari 10.000 digunakan rumus sebagai berikut:

N = besar populasi

n = besar sampel

d = tingkat kepercayaan (0,05)

Perhitungan Besar Sampel

Diketahui :

N = 228

d = 0,05

Ditanyakan:

Besar sampel?

Jadi sampel yang akan diteliti sebanyak 145 orang.

C. Pengumpulan Data

1. Teknik Pengumpulan Data

Data yang diambil adalah data sekunder yang diperoleh dari catatan harian ruang perinatologi dan bagian rekam medik Rumah Sakit BRSUD Walet Cirebon periode 1 Januari sampai 31 Desember 2006. Cara pengupulan data dengan mengumpulkan data yang sudah ada sesuai dengan kebutuhan penelitian.

2. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah dengan menggunakan lembar observasi untuk mencatat penelitian yang diperlukan dari data sekunder.

D. Prosedur Penelitian

1. Tahap Persiapan

a. Menentukan masalah dan juga penelitian

b. Memilih tempat penelitian

c. Bekerjasama dengan staf terkait di tempat penelitian untuk melakukan studi pendahuluan.

d. Studi kepustakaan tentang hal-hal yang berkaitan dengan maslah penelitian.

e. Menyusun proposal.

f. Pelaksanaan seminar proposal.

g. Mengurus surat ijin untuk melakukan penelitian.

2. Tahap Pelaksanaan

a. Mendapat ijin untuk melakukan penelitian.

a. Mengumpulkan data yang diperlukan.

b. Menyusun data yang telah terkumpul ke dalam bentuk kolom.

c. Melakukan pengolahan data dan analisadata sesuai denga rencana dan dibantu oleh para ahli dibidang statistik.

E. Pengolahan Data dan Analisis Data

Pengolahan data dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

1. Editing atau mengedit data, bertujuan mengevaluasi kelengkapan konsistensi dan penyesuaian antara kriteria data yang diperlukan untuk menguji hipotesis atau menjawab tujuan penelitian. Dengan tujuan penelitian disini bermakna bahwa tidak setiap penelitian dimaksudkan untuk membuktikan hipotesis.

2. Coding atau mengkode, bertujuan menguantifikasi dan kualitatif atau membedakan aneka karakter. Pemberian kode ini sangat diperlukan terutama dalam rangka pengolahan data, baik secara manual, menggunakan kalkulator, maupun dengan komputer.

3. Tabulasi data, tubulasi data mentah maupun tabel kerja untuk menghitung data tertentu secara statistik.

4. Uji asumsi statistik, menentukan rumus yang tepat untuk digunakan dalam rangka analisis atau pengolahan data penelitian.

5. Pembahasan atau diskusi hasil penelitian, Mengabstraksikan kembali hasil uji hipotesis, seta mengkonsultasikan dengan hasil penelitian sebelumnya (Darwis, 2003).

Setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan data, maka selanjutnya dilakukan pengolahan data. Pengolahan data berjuan untuk mengubah data mentah menjadi data yang lebih halus sehingga memberikan arah untuk pengkajian lanjut. Adapun analisa dalam penelitian ini :

a. Analais Univariat

Analisis Univariat dimaksudkan untuk mengetahui distribusi frekuensi dan proporsi dari variabel-variabel yang diamati. Data hasil pengamatan di tata dan diringkas dalam bentuk tabel yag dikenal dengan tabel distribusi frekuensi kemudian dihitung proporsi atau persentasinya dan disajikan dalam bentuk tabel.

b. Analisis Bivariat

Analisis ini dilakukan terhadap dua variabel yang diduga saling berhubungan atau berkorelasi (Natoatmojo, 2005). Variabel yang diduga berkorelasi antara preeklamsi dalam persalinan dengan kejadian asfiksia. Analisi ini dilakukan dengan menggunakan uji statistik. Adapun rumus yang dipakai adalah chi sequare dengan menggunakan tingkat kemaknaan 95 %. Atau nilai alpha 0,05 (5%) dimana kriteria pengujian adalah sebagai berikut :

1) Bila p value < alpha (0,05) maka hubungan tersebut secara statistik terdapat hubungan yang bermakna.

2) Bila p value > alpha (0,05) maka hubungan terdebut secara statistik tidak terdapat hubungan yang bermakna (Arikunto, 1998).

G. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit BRSUD Waled Cirebon. Dilaksanakan pada periode Pebruari sampai Juni 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s