bedah caesar

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bedah caesar dilakukan di Kahura, Uganda. Sebagaimana diamati oleh R. W. Felkin tahun 1879. Pada 1316, Robert II dari Skotlandia dilahirkan dengan bedah caesar, ibunya Marjorie Bruce, kemudian meninggal. Bukti pertama mengenai ibu yang selamat dari bedah caesar adalah di Siegershausen, Swiss tahun 1500: Jacob Nufer, seorang pedagang babi, harus membedah istrinya setelah proses persalinan yang lama. Prosedur bedah caesar di waktu lampau mempunyai angka kematian yang tinggi. Di Britania Raya dan Irlandia, angka kematian akibat bedah caesar pada 1865 adalah 85%. Beberapa penemuan yang membantu menurunkan angka kematian antara lain:

Pada 5 Maret 2000, Inés Ramírez melakukan bedah caesar pada dirinya sendiri dan berhasil mempertahankan nyawanya dan juga bayinya, Orlando Ruiz Ramirez. Ia dipercaya sebagai satu-satunya wanita yang melakukan bedah caesar pada dirinya sendiri.

Ada beberapa unsur yang dapat menjelaskan asal kata “caesar”.

  • Istilah dapat diambil dari kata kerja bahasa Latin caedere yang berarti “membedah”. Dengan demikian “bedah caesar” menjadi gaya bahasa retoris.
  • Istilah yang mungkin diambil dari pemimpin Romawi kuno Julius Caesar yang disebut-sebut dilahirkan dengan metode tersebut. Dalam sejarah, hal ini sangat tidak memungkinkan karena ibunya masih hidup ketika ia mencapai usia dewasa (bedah caesar tidak mungkin dilakukan pada masa tersebut terkait dengan teknologi yang tidak mendukung), tetapi legenda tersebut telah bertahan sejak abad ke-2 SM.
  • Hukum Romawi yang menjelaskan bahwa prosedur tersebut perlu dilakukan pada ibu hamil yang meninggal untuk menyelamatkan nyawa sang bayi. Hal ini dikenal dengan istilah lex caesarea, sehingga hukum Romawi mungkin menjadi asal usul istilah ini.

Secara umum, istilah “bedah caesar” merupakan gabungan dari hal-hal tersebut di atas. Kata kerja caedo dalam kalimat a matre caesus (“membedah ibunya”) digunakan pada masa Romawi untuk mendeskripsikan operasi tersebut.

B. Tujuan

· Untuk memenuhi tugas askeb II (persalinan)

· Untuk mengetahui jenis-jenis caesar

BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi

Persalinan normal adalah persalinan lewat vagina. Pada persalinan normal, proses persalinan diawali dengan rasa mulas dan keluarnya lendir bercampur darah dari vagina. Rasa mulas dan nyeri (his) biasanya datang secara teratur, semakin lama semakin kuat dan semakin nyeri, sampai anak berhasil dilahirkan. Proses kelahiran anak diikuti oleh kelahiran ari-ari. Seringkali jalan lahir mengalami robekan (ruptur perineum) dan butuh beberapa jahitan untuk memperbaikinya.

Bedah caesar (bahasa Inggris: caesarean section atau cesarean section dalam Inggris-Amerika), disebut juga dengan c-section (disingkat dengan cs) adalah proses persalinan dengan melalui pembedahan dimana irisan dilakukan di perut ibu (laparatomi) dan rahim (histerotomi) untuk mengeluarkan bayi. Bedah caesar umumnya dilakukan ketika proses persalinan normal melalui vagina tidak memungkinkan karena beresiko kepada komplikasi medis lainnya. Sebuah prosedur persalinan dengan pembedahan umumnya dilakukan oleh tim dokter yang beranggotakan spesialis kandungan, spesialis anak, spesialis anastesi serta bidan.

Bedah caesar teknik vertikal

1. Jenis-Jenis Caesar

Sebuah operasi caesar sedang dalam proses.

Sebuah operasi caesar sedang dalam proses.

Ada beberapa jenis “caesarean sections” (CS):

· Jenis klasik yaitu dengan melakukan sayatan vertikal sehingga memungkinkan ruangan yang lebih besar untuk jalan keluar bayi. Akan tetapi jenis ini sudah sangat jarang dilakukan hari ini karena sangat beresiko terhadap terjadinya komplikasi.

· Sayatan mendatar di bagian atas dari kandung kemih sangat umum dilakukan pada masa sekarang ini. Metode ini meminimalkan resiko terjadinya pendarahan dan cepat penyembuhannya.

· Histerektomi caesar yaitu bedah caesar diikuti dengan pengangkatan rahim. Hal ini dilakukan dalam kasus-kasus dimana pendarahan yang sulit tertangani atau ketika plasenta tidak dapat dipisahkan dari rahim.

· Bentuk lain dari bedah caesar seperti extraperitoneal CS atau Porro CS.

· Bedah caesar berulang dilakukan ketika pasien sebelumnya telah pernah menjalan bedah caesar. Umumnya sayatan dilakukan pada bekas luka operasi sebelumnya.

Di berbagai rumah sakit, khususnya di Amerika Serikat, Britania Raya, Australia dan Selandia Baru, sang suami disarankan untuk turut serta pada proses pembedahan untuk mendukung sang ibu. Dokter spesialis anastesis umumnya akan menurunkan kain penghalang ketika si bayi dilahirkan agar orang tua si bayi dapat melihat bayinya. Rumah sakit di Indonesia umumnya tidak memperbolehkan adanya orang lain turut serta waktu persalinan dengan bedah caesar termasuk sang suami.

2. Indikasi

Seorang bayi ketika dilahirkan melalui bedah caesar

Seorang bayi ketika dilahirkan melalui bedah caesar

Dokter spesialis kebidanan akan menyarankan bedah caesar ketika proses kelahiran melalui vagina kemungkinan akan menyebabkan resiko kepada sang ibu atau si bayi. Hal-hal lainnya yang dapat menjadi pertimbangan disarankannya bedah caesar antara lain:

· proses persalinan normal yang lama atau kegagalan proses persalinan normal (dystosia)

· detak jantung janin melambat (fetal distress)

· adanya kelelahan persalinan

· komplikasi pre-eklampsia

· sang ibu menderita herpes

· putusnya tali pusar

· resiko luka parah pada rahim

· persalinan kembar (masih dalam kontroversi)

· sang bayi dalam posisi sungsang atau menyamping

· kegagalan persalinan dengan induksi

· kegagalan persalinan dengan alat bantu (forceps atau ventouse)

· bayi besar (makrosomia – berat badan lahir lebih dari 4,2 kg)

· masalah plasenta seperti plasenta previa (ari-ari menutupi jalan lahir), placental abruption atau placenta accreta)

· kontraksi pada pinggul

· sebelumnya pernah menjalani bedah caesar (masih dalam kontroversi)

· sebelumnya pernah mengalami masalah pada penyembuhan perineum (oleh proses persalinan sebelumnya atau penyakit Crohn)

· angka d-dimer tinggi bagi ibu hamil yang menderita sindrom antibodi antifosfolipid

· CPD atau cephalo pelvic disproportion (proporsi panggul dan kepala bayi yang tidak pas, sehingga persalinan terhambat)

· Kepala bayi jauh lebih besar dari ukuran normal (hidrosefalus)

· Ibu menderita hipertensi (penyakit tekanan darah tinggi)

Harap diingat bahwa institusi yang berbeda dapat memiliki pendapat yang berbeda pula mengenai kapan suatu bedah caesar dibutuhkan. Di Britania Raya, hukum menyatakan bahwa ibu hamil mempunyai hak untuk menolak tindakan medis apapun termasuk bedah caesar walaupun keputusan tersebut beresiko terhadap kematiannya atau nyawa sang bayi. Negara lain memiliki hukum yang berbeda mengenai hal ini. Lihat pula mengenai bedah caesar berdasarkan permintaan.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh ibu yang mengambil keputusan untuk melahirkan dengan sesar tanpa indikasi medis yaitu:

1. Ibu yang melahirkan sesar harus membatasi jumlah kelahiran maksimal empat anak dan jarak antar anak minimal satu tahun (Sinsin, 2004).

2. Ibu yang pernah seksio sesar masih dapat melahirkan normal, tapi dengan resiko robekan rahim dan komplikasi persalinan lain yang lebih tinggi (Sinsin, 2004).

3. Angka kematian akibat sesar kecil tetapi tetap lebih tinggi dibanding proses kelahiran normal (Fitriana, 2007)

4. Risiko pembiusan ataupun luka operasi, infeksi, nyeri setelah melahirkan, psikologis, waktu perawatan yang lebih panjang, dan biaya yang lebih besar (Fitriana, 2007).

5. Menurut Bensons dan Pernolls, angka kematian pada operasi sesar adalah 40-80 tiap 100.000 kelahiran hidup. Angka ini menunjukkan risiko 25 kali lebih besar dibanding persalinan per vaginam. Malahan untuk kasus karena infeksi mempunyai angka 80 kali lebih tinggi dibandingkan dengan persalinan per vaginam. Komplikasi tindakan anestesi sekitar 10 persen dari seluruh angka kematian ibu (Adjie, 2002).

6. Bekas luka operasi pada rahim (uterus) dapat membuka meski kebanyakan tidak bergejala dan tidak berbahaya, yang disebut ‘window of uterus’ (Fitriana, 2007).

3. Risiko Caesar

Metode sayatan mendatar

Metode sayatan mendatar

Data statistik dari 1990-an menyebutkan bahwa kurang dari 1 kematian dari 2.500 yang menjalani bedah caesar, dibandingkan dengan 1 dari 10.000 untuk persalinan normal [1]. Akan tetapi angka kematian untuk kedua proses persalinan tersebut terus menurun sekarang ini. Badan kesehatan Britania Raya menyebutkan resiko kematian ibu yang menjalani bedah caesar adalah tiga kali resiko kematian ketika menjalani persalinan normal. Akan tetapi, adalah tidak mungkin untuk membandingkan secara langsung tingkat kematian proses persalinan normal dan proses persalinan dengan bedah caesar karena ibu yang menjalani pembedahan adalah mereka yang memang sudah beresiko dalam kehamilan.

Bayi yang lahir dengan persalinan bedah caesar seringkali mengalami masalah bernafas untuk pertama kalinya. Sering pula sang bayi menjadi ngantuk dikarenakan obat penangkal nyeri yang diberikan kepada sang ibu.

4. Prevalensi

Badan Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa angka persalinan dengan bedah caesar adalah sekitar 10% sampai 15% dari semua proses persalinan di negara-negara berkembang dibandingkan dengan 20% di Britania Raya dan 23% di Amerika Serikat. Kanada pada 2003 memiliki angka 21%.

Berbagai pertimbangan mengemuka akhir-akhir ini mengingat proses bedah caesar yang seringkali dilakukan bukan karena alasan medis. Berbagai kritik pula mengemuka karena bedah caesar yang disebut-sebut lebih menguntungkan rumah sakit atau karena bedah caesar lebih mudah dan lebih singkat waktu prosesnya oleh dokter spesialis kandungan. Kritik lainnya diberikan terhadap mereka yang meminta proser bedah caesar karena tidak ingin mengalami nyeri waktu persalinan normal.

5. Anestesia

Sang ibu tetap dalam keadaan sadar waktu bayinya dilahirkan

Sang ibu tetap dalam keadaan sadar waktu bayinya dilahirkan. Sang ibu umumnya akan diberikan anastesi lokal (spinal atau epidural), yang memungkinkan sang ibu untuk tetap sadar selama proses pembedahan dan untuk menghindari si bayi dari pembiusan.

Pada masa sekarang ini, anastesi umum untuk bedah caesar menjadi semakin jarang dilakukan karena pembiusan lokal lebih menguntungkan bagi sang ibu dan si bayi. Pembiusan umum dilakukan apabila terjadi kasus-kasus beresiko tinggi atau kasus darurat.

6. Persalinan normal setelah bedah caesar

Persalinan normal setelah bedah caesar adalah umum dilakukan pada masa sekarang ini. Di waktu lalu, bedah caesar dilakukan dengan sayatan vertikal sehingga memotong otot-otot rahim. Bedah caesar sekarang ini umumnya melalui sayatan mendatar pada otot rahim sehingga rahim lebih terjaga kekuatannya dan dapat menghadapi kontraksi kuat pada persalinan normal berikutnya. Luka bekas sayatan pada bedah caesar sekarang ini adalah terletak di bawah “garis bikini“.

Fakta-fakta eperisis terbaru menunjukan bahwa lebih kurang 80% wanita bisa melakukan normal setelah pernah dilakukan secsio sesar. Secara teoritis perlu dilihat apakah yang menjadi indikasi seorang wanita secsio pada kehamilan sebelumnya namun ada beberapa faktor yang memang mengharuskan seseorang harus di secsio pada kehamilan kedua dan seterusnya. Diantaranya indikasi mutlak seperti panggul sempit yang menyebabkan Cephalo-Pelvic Disporoporsion (CPD) pada kehamilan sebelumnya.

Indikasi-indikasi relative secsio pada kehamilan sebelumnya memungkinkan untuk melahirkan secara normal pada kehamilan berikutnya. VBAC memberikan keuntungan baik pada ibu maupun pada janin. VBAC mencegah resiko dari pembedahan dan omplikasinya seperti resiko infeksi sekunder, kehilangan darah, gangguan seluruh kemih. VBAC juga memberikan keuntungan secara ekonomis, karena melahirkan normal biayanya jauh lebih dibandingkan dengan operasi (Sescio sesar)

Rupture uteri adalah komplikasi yang sangat ditakutkan pada tindakan melahirkan normal seperti pernah melakukan section. Oleh karena itu sangat perlu diperhatikan apa yang menjadi indikasi pada secsio sesar pada kehamilan sebelumnya. Syarat-syarat lain yang juga dipenuhi untuk bisa melahirkan normal pada kehamilan selanjutnya ini adalah:

Kehamilan tersebut sikontrol secara teratur

Tidak ditemukan tanda-tanda kelainan letak, seperti letak sungsang, lintang, dll

Tidak ditemukan kelainan-kelainan patologis lain, seperti plasenta previa, mioma, dll

Adanya keinginan dan kemauan serta kesiapan psychologis ibu untuk melahirkan normal

Perencanaan melahirkan ditolong oleh tenaga kesehatan yang ahli (bidan atau dokter) yang mengontrol atau mengetahui kondisi kehamilan tersebut

Melahirkan dilakukan ditempat pelayanan kesehatan yang mempunyai fasilitas pelayanan yang optimal, jika dalam saat proses melahirkan normal ditemmukan tanda-tanda yang diharuskan untuk dilakukan tindakan maka dapat dilakukan interfensi segera

B. MUNGKINKAH MELAKUKAN IMD PADA PERSALINAN SESAR (CAESAR)?

Mungkin Sudah banyak bukti keberhasilannya! Salah satunya ya adik sahabat saya itu, Mitha. Memang tidak mungkin melakukan IMD secara standar seperti pada persalinan normal (misalnya bayi diletakkan di perut untuk merangkak menuju dada ibu, sebab perut ibu baru dibedah). Hal lain yang dapat dilakukan adalah memberikan anestesi spinal atau epidural, sehingga ibu dalam keadaan sadar supaya dapat merespon bayi selama proses tersebut.

Jika harus dilakukan anestesi umum, kontak dapat dilakukan di ruang pulih saat ibu sudah dapat merespons walaupun masih mengantuk atau dalam pengaruh obat bius. Sementara menunggu ibu sadar, ayah dapat menggantikan ibu untuk memberikan kontak kulit dengan kulit sehingga bayi tetap hangat.

Berikut Tatalaksana Inisiasi Menyusui Dini pada operasi sesar yang dikutip dari halaman 22 buku ‘Inisiasi Menyusui Dini Plus ASI Eksklusif’ (dr. Hj. Utami Roesli, SpA., MBA, IBCLC. Pustaka Bunda, 2008

  • Tenaga pelayanan Kesehatan yang suportif
  • Jika mungkin, diusahakan suhu ruangan 20-25 derajat C. Disediakan selimut untuk menutupi punggung bayi dan badan ibu. Disiapkan juga topi bayi untuk mengurangi hilangnya panas dari kepala bayi.
  • Dianjurkan suami atau keluarga mendampingi ibu saat persalinan
  • Seluruh badan dan kepala bayi dikeringkan secepatnya, kecuali kedua tangannya. Lemak putih (vernix) yang menyamankan kulit bayi sebaiknya dibiarkan.
  • Bayi ditengkurapkan di dada ibu. Biarkan kulit bayi melekat dengan kulit ibu. Posisi kontak kulit dengan kulit ini dipertahankan minimum satu jam atau setelah menyusu awal selesai. Keduanya diselimuti. Jika perlu, gunakan topi bayi.
  • Bayi dibiarkan mencari puting susu ibu. Ibu dapat merangsang bayi dengan sentuhan lembut, tetapi tidak memaksakan bayi ke puting susu.
  • Ayah didukung agar membantu ibu untuk mengenali tanda-tanda atau perilaku bayi sebelum menyusu. Hal ini dapat berlangsung beberapa menit atau satu jam, bahkan lebih. Dukungan ayah akan meningkatkan rasa percaya dini ibu.
  • Jika inisiasi dini belum terjadi di kamar bersalin, kamar operasi atau bayi harus dipindahkan sebelum satu jam maka bayi tetap diletakkan di dada ibu ketika dipindahkan ke kamar perawatan atau pemulihan. Menyusu dini dilanjutkan di kamar perawatan ibu atau kamar pulih.
  • Bayi dipisahkan dari ibu untuk ditimbang, diukur, dan dicap setelah satu jam atau menyusu awal selesai. Prosedur invasif, misalnya suntikan vitamin K dan tetesan mata bayi dapat ditunda.
  • Rawat gabung–ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar. Selama 24 jam ibu dan bayi tetap tidak dipisahkan dan bayi selalu dalam jangkauan ibu. Pemberian minuman pre-laktal (cairan yang diberikan sebelum ASI ‘keluar’) dihindarkan– sebab sesungguhnya bayi dilahirkan dengan membawa bekal air dan gula yang dapat dipakai pada saat itu.

Untuk keberhasilannya tentu saja perlu kerjasama seluruh pihak dan kesabaran.

“Just relax and enjoy one another…Don’t rush the breastfeeding.. This is the time for your baby to discover where her food will come from, not a time to fill her tummy.”

Inisiasi Menyusui Dini punya manfaat luar biasa. Berdasarkan banyak penelitian dalam dan luar negeri, selain meningkatkan kemampuan menyusu eksklusif dan lama menyusu sampai dua tahun, hasil nyatanya, IMD juga menurunkan angka kematian bayi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s