abortus

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengertian keguguran atau abortus (spontan maupun buatan) adalah tindakan penghentian kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar kandungan (sebelum usia 20 minggu kehamilan), bukan semata untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dalam keadaan darurat tapi juga karena sang ibu tidak menghendaki kehamilan itu. Keguguran atau abortus adalah musibah yang tidak diharapkan, apalagi keluarga terutama ibu yang sudah menunggu datangnya sang buah hati.

Menurut World Health Organization ( WHO ) 1998, Arbotus didefinisikan sebagai upaya terminasi kehamilan yang dilakukan sebelum janin mampu hidup di luar kandungan. Abortus yang tidak aman ( unsafe abortion ) adalah abortus yang dilakukan dengan menggunakan metode beresiko tinggi, bahkan fatal dilakukan oleh orang yang tidak terlatih atau tidak terampil serta komplikasinya merupakan penyebab langsung kematian wanita usia reproduksi.

Abortus merupakan berakhirnya kehamilan sebelum anak dapat hidup di dunia luar tanpa mempersoalkan penyebabnya. Anak baru hidup di dunia luar kalau beratnya telah mencapai lebih dari 500 gram atau umur kehamilan lebih dari 20 minggu. Abotus dibagi kedalam abortus spontan, yaitu abortus yang terjadi dengan sendirinya, dan keguguran ini merupakan kurang lebih 20% dari semua abortus, sedangkan abortus buatan (provocatus), yaitu abortus yang terjadi disengaja, digugurkan, dan 80% dari semua abortus adalah abortus provocatus ( Obstetri Patologi FK Unpad.2002 )

Abortus merupakan penyebab kematian ibu yang muncul dalam bentuk komplikasi perdarahan dan sepsis. Menurut profil Kesehatan Reproduksi Indonesia 2003, yang dikeluarkan Departemen Kesehatan RI ( DepKes RI ) tentang penyebab kematian ibu yang abortus, diketahui bahwa semua wanita hamil beresiko terhadap kematian ibu (Helianty, 2003). Penyebab langsung kematian ibu di negara-negara berkembang meliputi pendarahan, infeksi, persalinan macet, abortus atau keguguran, dan kehamilan dengan gangguan hipertensi ( Gunawan, 2000 ).

Keguguran atau abortus bisa terjadi dari faktor maternal yang dipicu oleh banyak faktor seperti adanya infeksi pada daerah genital, penyakit kronis yang diderita ibu (jantung, paru atau diabetes yang tidak terkontrol), dan faktor usia sebagai akibat semakin tua usia ibu, semakin tua sel telur (Bobak, Lowdermik, Jensen, 2004).

WHO memperkirakan di seluruh dunia, dari 46 juta kelahiran pertahun terdapat 20 juta kejadian abortus. Sekitar 13 % dari jumlah total kematian ibu di seluruh dunia diakibatkan oleh komplikasi abortus, 800 wanita diantaranya meninggal karena komplikasi abortus dan sekurangnya 95 % 19 dari setiap 20 tindak abortus) di antaranya terjadi di negara berkembang (Safe Motherhood Newsletter, 2000).

Di Indonesia angka kematian Ibu (AKI) menurut survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI 2002/2003) masih berada pada angka 307 per 100.000 kelahiran hidup. Kejadian abortus di Indonesia setiap tahun terjadi 2 juta kasus. Ini artinya terdapat 43 kasus abortus per 100 kelahiran hidup. Menurut sensus penduduk tahun 2000, terdapat 53.783.717 perempuan usia 15 – 49 tahun, dan dari jumlah tersebut terdapat 23 kasus abortus per 100 kelahiran hidup ( Utomo,2001 )

Data dari Dinas Kesehatan Jawa Barat tahun 2002, menunjukkan bahwa angka kematian bayi sebesar 152,8 per 1000 kelahiran hidup (KH), dan angka kematian ibu sebesar 403 per 1000 kelahiran hidup (KH). Sedangkan di Kabupaten Subang terdapat 22 kasus kematian ibu dari 27.501 persalinan. Kematian tersebut disebabkan oleh 50% perdarahan, eklampsia, infeksi komplikasi abortus dan partus lama, dan 50 % akibat oleh terlambat memutuskan untuk merujuk, hal ini berkaitan erat dengan masalah ekonomi, sosial, budaya dan pendidikan ( Rekam Medik RSUD Subang ).

Selain faktor-faktor di atas, menurut Kanadi ( 2002 ) ibu harus waspada terhadap usia rawan keguguran, yaitu di atas 35 tahun. Wanita yang telah mencapai usia itu harus berfikir masak sebelum memutuskan untuk hamil. Kebanyakan penyebabnya adalah masalah kelainan kromosom. Resiko keguguran memang semakin bertambah seiring dengan bertambahnya umur. Jadi wanita yang berusia 35 tahun memiliki resiko keguguran lebih tinggi dibandingkan wanita yang berusia 30 tahun. Apalagi usiannya sudah di atas 40 tahun. Menurut sebuah penelitian berdasarkan usia pasien saat mengalami abortus, terbesar adalah 31 – 35 tahun (29,7%), 21 – 25 tahun (19,4 %), dan sekitar 6 % berada pada usia 17 20 tahun (Herdayati, 1998)

Saat ini abortus masih merupakan masalah kontroversial di masyarakat Indonesia. Namun terlepas dari kontroversi tersebut, abortus diindikasikan merupakan masalah masyarakat karena memberikan dampak pada kesakitan dan kematian ibu. Sebagaimana diketahui penyebab utama kematian ibu hamil dan melahirkan adalah perdarahan, infeksi dan eklamsia. Namun sebenarnya abortus juga merupakan salah satu penyebab kematian ibu, hanya saja muncul dalam bentuk komplikasi perdarahan dan sepsis, hal ini merupakan indikasi bahwa hingga saat ini abortus masih merupakan masalah kontroversi di masyarakat.

Sejak lama diketahui bahwa abortus spontan hanyalah sebagain kecil dari kejadian abortus. Bagian terbesar adalah abortus provocatus yang dilakukan dengan sengaja akibat kehamilan yang tidak diingini. Diketahui bahwa di seluruh dunia terdapat 300 juta pasangan usia subur yang tidak ingin mempunyai anak lagi, tetapi tidak menggunakan alat kontrasepsi apapun. Mereka adalah kelompok yang sangt beresiko untuk mengalami kehamilan yang tidak diingini. Keadaan seperti ini paling mencolok diketemukan di negara-negara di Afrika, Asia, dan Amerika Latin, yang tingkat ketersediaan fasilitas pelayanan jasa abortusnya sangat rendah.

Selain itu, kehamilan yang tidak diingini dalam jumlah yang besar juga terjadi pada kelompok remaja. Para remaja yang dihadapkan pada realitas pergaulan bebas masyarakat moderen itu, tidak dibekali sedikitpun dengan pengetahuan tentang fisiologi reproduksi dan perilaku seksual yang benar. Berdasarkan data WHO diketahui bahwa di seluruh dunia, setiap tahunnya diperkirakan ada sekitar 15 juta remaja yang mengalami kehamilan, dan sekitar 60 % diantaranya tidak ingin melanjutkan kehamilan tersebut dan berupaya mengakhirinya.

Pada remaja perempuan yang hamil, kendala terbesar adalah rasa takut dan tidak tahu harus mencari konseling. Hal ini menyebabkan penundaan remaja mencari pertolongan pelayanan aman, dan sering kali terperangkap di praktek abortus yang tidak aman. Aborsi yang tidak aman adalah penghentian kehamilan yang dilakukan oleh tenaga yang tidak terlatih, atau tidak mengikuti prosedur kesehatan atau kedua-duanya. Dari 46 juta abortus/tahun, 20 juta dilakukan dengan tidak aman, 800 wanita diantaranya meninggal karena komplikasi abortus tidak aman dan sekurangnya 13 % konstribusi Angka Kematian Ibu Global (WHO, 1998).

Banyak penyebab terjadinya keguguran atau abortus, misalnya keguguran trimester pertama hampir 60 % keguguran disebabkan kelainan kromosom, faktor ini termasuk faktor yang berasal dari ibu hamil tersebut dan merupakan seleksi alam, konsepsi tidak berkembang menjadi bayi, malah keluar dengan sendirinya dan kalaupun bertahan si kecil akan cacat.

Ada beberapa alasan dan kondisi individual yang memungkinkan wanita melakukan abortus. Di berbagai daerah, pola itu bergeser secara konstan mengikuti perubahan sosial, peraturan perundang-undangan, dan moral yang berlaku. Namun demikian menurut Kodim (2001), beberapa karakteristik umum dapat diidentifikasi, diantaranya : umur, paritas dan tingkat pendidikan.

Dari segi umur, bahwa angka abortus di kalangan remaja relatif rendah di Panama dan Amerika Latin, tetapi memperlihatkan kecenderungan yang meningkat pesat dibandingkan dengan kelompok umur yang lain. Angka tertinggi justru ditemukan di kalangan wanita berusia lebih dari 35 tahun. Kaitannya dengan Paritas, dari survey yang dilakukan di India diketahui bahwa 20 % wanita yang melakukan abortus mempunyai satu atau dua anak, sekitar 30 % mempunyai 3 sampai 4 anak, dan 41 % telah mempunyai lebih dari lima anak. Di Cina justru abortus digunakan untuk mengendalikan tingkat kesuburan. sedangkan berdasarkan tingkat pendidikan, aborsi lebih sering dilakukan oleh wanita yang tidak sekolah dan tamat SD dari yang tamat SMP dan SMA.

Dari uraian di atas menarik untuk dicermati tentang kejadian abortus kaitannya dengan alasan dari pasien abortus yang mengalaminya. Oleh sebab itu telah dilakukan penelitian dengan judul “ Hubungan Karakteristik Ibu dengan Kejadian Abortus di RSUD Subang” (Penelitian Deskripsif terhadap Kasus Abortus di RSUD Subang periode April sampai Desember tahun 2005).

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana gambaran kejadian abortis di RSUD Subang periode April-Desember 2005?

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan antara karakteristik ibu dengan kejadian abortus di RSUD Subang periode April-Desember 2006.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui hubungan antara umur dengan kejadian abortus di RSUD Subang.

b. Untuk mengetahui hubungan antara paritas dengan kejadian abortus di RSUD Subang

c. Untuk mengetahui hubungan antara pendidikan dengan kejadian abortus di RSUD Subang.

D. Manfaat Penelitian

1. Secara Teoritis

Diharapkan hasil penelitian ini memberikan manfaat sebagai tambahan informasi kepada semua pihak bahwa pada dasarnya abortus itu bukan merupakan penyebab utama tingginya Angka Kematian Ibu (AKI). Mutu pelayanan kesehatan serta akses layanan kesehatan yang rendahlah yang menjadi penyebabnya. Karena itu, mestinya yang harus diupayakan oleh cendekiawan dan ulama adalah mengingatkan pemerintah sungguh-sungguh mengimplementasikan sejumlah strategi teknis dalam penatalaksanaan komplikasi kehamilan dan persalinan untuk menurunkan AKI, seperti penyediaan tenaga medis dan fasilitas bantuan pertama, terhadap perempuan perempuan hamil yang memiliki kecenderungan tinggi untuk melakukan abortus.

2. Secara Praktik

Secara praktik hasil penelitian diharapkan memberi manfaat sebagai berikut :

a. Bagi Peneliti

Untuk menambah ilmu pengetahuan dan sebagai pengalaman nyata yang sangat berharga dalam mengintegrasikan pengetahuan yang bersifat teoritik dengan kondisi sebenarnya di lapangan

b. Bagi RSUD Subang

Penelitian ini dapat memberikan tambahan informasi tentang hubungan karakteristik ibu dengan kejadian abortus di RSUD Subang.

d. Bagi Institusi Program Studi Kebidanan Stikes Jenderal Achmad Yani Cimahi

Penelitian ini dapat berguna sebagai bahan informasi dan tambahan wacana yang terus dikembangkan mengenai abortus. Lebih lanjut penulis mengharapkan agar hasil penelitian ini dijadikan dasar bagi rekan – rekan mahasiswa untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

d. Bagi Peneliti lain

Bisa bermanfaat bagi peneliti lain sebagai informasi dan bahan perbandingan tentang hasil penelitian yang berkaitan dengan kejadian abortus pada ibu hamil. .

E. Hipotesis Penelitian

Terdapat hubungan signifikan antara karakteristik ibu dengan kejadian abortus di RSUD Subang.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kehamilan dan Abortus

Setiap kejadian yang menyangkut kesehatan seseorang pasti akan membekas, baik secara fisik maupun psikis, begitu pula dengan kejadian abortus (keguguran) yang tentunya meninggalkan trauma fisik berupa kesakitan wanita dan trauma psikis berupa keengganan untuk hamil lagi. Hal tersebut seperti diungkapkan Frater dan Wright (1991), abortus adalah prosedur yang umum dan aman tetapi tetap mengguncangkan perasaan dan dapat terlihat sangat rumit.

Menurut Sastrawinata (2001), lamanya kehamilan yang normal adalah 280 hari atau 40 minggu dihitung dari hari pertama haid yang terakhir. Kadang-kadang kehamilan berakhir sebelum waktunya dan ada kalanya melebihi waktu yang normal. Berakhirnya kehamilan menurut lamanya kehamilan berlangsung, dapat dibagi sebagai berikut :

Tabel 2.1

Hubungan Lama Kehamilan dengan Berat Anak

Lamanya Kehamilan

Berat Anak

Istilah

< 22 minggu

< 500 gram

Abortus

22 – 28 minggu

500 – 100 gram

Partus Immaturus

28 – 37 minggu

1000 gram – 2500 gram

Partus praematurus

37 – 42 minggu

2500 gram – 4500 gram

Partus a’terme (matures)

> 42 minggu

> 4500 gram

Partus serotinus

Sumber : Bag. Obstetri & Ginekologi Unpad Bandung, 1981

Sejalan dengan pendapat di atas, Manuaba (1998) mengemukakan bahwa pengeluaran hasil konsepsi bervariasi pada umur kehamilan sehingga terdapat istilah-istilah sebagai berikut :

1. Keguguran, yaitu bila hasil konsepsi dikeluarkan sebelum mampu hidup di luar kandungan dengan berat kurang dari 1000 gram atau umur hamil kurang dari 28 minggu

2. Persalinan prematur, yaitu bila hasil konsepsi dilahirkan dengan berat badan kurang dari 2.499 gram atau umur hamil kurang dari 37 minggu

3. Persalinan aterm , yaitu bila hasil konsepsi dikeluarkan dengan berat di atas 2.501 gram atau pada umur hamil 38-42 minggu

4. Persalinan lewat waktu, yaitu bila pengeluaran hasil konsepsi terjadi setelah melewati umur hamil 42 minggu

Dari pendapat di atas memberi pengertian bahwa keguguran atau abortus merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehamilan seorang ibu, yaitu dikeluarkannya hasil konsepsi sebelum mampu hidup di luar kandungan dengan berat badan kurang dari 1000 gram atau umur hamil kurang dari 28 minggu. Kejadian abortus sulit diketahui, karena sebagian besar tidak dilaporkan dan banyak dilakukan atas permintaan.

Menurut WHO (1995), abortus didefinisikan sebagai upaya terminasi kehamilan yang dilakukan sebelum janin mampu hidup di luar kandungan, selanjutnya menurut WHO, abortus yang tidak aman (unsafe abortion) adalah abortus yang dilakukan dengan metode yang beresiko tinggi, bahkan fatal. Dilakukan oleh orang yang tidak terlatih atau tidak terampil serta komplikasinya merupakan penyebab langsung kematian wanita usia reproduksi. Ada tiga kriteria abortus yang tidak aman, yaitu metode beresiko tinggi, dilakukan oleh orang yang tidak terlatih, dan komplikasinya merupakan peyebab langsung kematian.

Metode abortus resiko tinggi yang dimaksud antara lain meliputi penggunaan obat atau jamu, pemijitan, memasukan alat atau benda asing ke dalam rongga vagina. Peralatan ang digunakan biasanya terkontaminasi oleh mikroorganisme atau bahan-bahan kausatif atau iritatif sehingga meskipun pasien dapat diselamatkan dari kematian, tetapi masih tetap terancam untuk mengalami cacat menetap atau gangguan organ yang serius. Sementara bahan-bahan tradisional yang sering digunakan antara lain plastik, batang kayu, akar pohon, atau tangkai daun yang mempunyai getah iritatif (Erica, 1994).

Yang dimaksud dengan individu yang tidak terlatih atau tidak terampil adalah individu, baik tenaga medis ataupun bukan yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang sangat minimal sehingga tidak dapat memperkirakan resiko yang mungkin ditimbulkan oleh tindakan yang dilakukannya. Abortus yang tidak aman bukan semata-mata masalah medis, etika atau hukum, tetapi merupakan masalah kemanusiaan yang menyangkut wanita dan pria sebagai pasangan suami isteri dan sebagai anggota masyarakat serta kelangsungan hidup janin yang dihasilkan dari hubungan suami isteri.

Penilaian besarnya masalah abortus di berbagai negara menghadapi banyak kesulitan sebagai akibat status abortus yang illegal sehingga kasus-kasus yang terjadi jarang dilaporkan. Namun tanpa gambaran yang jelas pun, abortus tetap terditeksi sebagai masalah kesehatan masyarakat yang serius. Setiap tahun ada sekitar 40 sampai 60 juta wanita yang berupaya mengakhiri kehamilan yang tidak mereka ingini. Di seluruh dunia, setiap tahun terjadi sekitar 40-70 kasus abortus per 1000 wanita usia reproduksi (WHO, 1995). Diperkirakan bahwa sekitar 20 % dari seluruh kehamilan akan berakhir dengan abortus. Kelompok wanita yang memilih jasa pelayanan abortus yang tidak aman akan menghadapi resiko kematian 100 sampai 500 kali lebih tinggi dari pada wanita yang mendapat pelayanan jasa abortus yang diberikan oleh tenaga profesional yang terlatih.

Metode yang sering digunakan oleh dokter dan perawat adalah mengeluarkan isi kandungan dengan menggunakan alat, terutama dengan dilatasi dan kuretase. Saat ini, kuretase bedah secara sangat progresif diganti oleh kuretase penghisapan, yang salah satunya adalah induksi haid. Cara lain adalah histerotomi, yaitu pengeluaran isi rahim dengan pembedahan besar yang memerlukan perawatan di rumah sakit. Prosedur lain yang digunakan secara legal di rumah sakit selama trimester kedua kehamilan adalah perangsangan konstraksi rahim dengan memasukan larutan garam atau prostaglandin. Prosedur ini memakan waktu 36-72 jam, prosedur ini tidak selalu efektif.

Untuk para pelaku abortus yang tidak professional, upaya yang dilakukan antara lain adalah memasukan cairan ke dalam uterus. Cairan yang digunakan bervariasi, mulai dari air sabun sampai desinfektan rumah tangga yang dimasukan melalui semprotan ataupun alat suntik. Di beberapa negara juga menggunakan pasta yang bersifat abortif yang mengandung zat iritatif.

Sediaan jamu dan obat-obatan per oral juga sering digunakan. Beberapa jamu dan obat yang diduga bersifat abortif dapat ditemukan di pasaran bebas di negara-negara berkembang. Metode lain yang relatif lebih berbahaya adalah memasukan alat atau benda asing ke dalam rongga rahim. Di India digunakan pucuk wortel yang telah dikeringkan, di Pilipina alat tersebut adalah pisang atau daun tumbuh-tumbuhan lokal kalachuchi.

Komplikasi dini dan yang paling sering adalah sepsis yang disebabkan oleh abortus yang tidak lengkap, yang sebagian atau seluruh produk pembuahan masih tersisa di dalam rahim. Sepsis merupakan salah satu komplikasi abortus yang paling fatal. Infeksi yang paling serius yang jarang ditemukan adalah infeksi bakteri anaerob yang menyebabkan gasgangrin dan tetanus. Keadaan ini biasanya disebabkan oleh penggunaan peralatan yang tidak bersih. Penyebab kematian kedua yang paling penting adalah perdarahan. Perdarahan dapat disebabkan oleh abortus yang tidak lengkap atau cedera organ panggul atau usus. Kemudian biasanya disebabkan oleh tidak tersedianya darah atau fasilitas transfusi rumah sakit.

Komplikasi abortus lain yang secara potensial fatal adalah bendungan sistem pembuluh darah oleh bekuan darah, gelembung udara atau cairan yag juga termasuk dalam kelompok ini adalah gangguan bekuan darah berat yang disebabkan oleh infeksi berat serta keracunan obat-obatan abortif yang menyebabkan gagal ginjal. Komplikasi lain yang tidak kalah pentingnya adalah kemandulan sebagai akibat infeksi yang berakibat dengan penutupan tuba falopii. Dikatakan bahwa kerusakan tuba merupakan penyebab utama kemandulan di negara berkembang. Penyebab lain dari penyumbatan tuba adalah peradangan panggul yang berhubungan dengan penyakit hubungan seksual (WHO, 1995).

Sebenarnya angka kejadian abortus sulit diketahui secara pasti. Biasanya, sekitar 15-40 % kejadian diketahui dari ibu yang sudah dinyatakan positif hamil, dan 60-75 % abortus terjadi sebelum kehamilan 12 minggu. Pada kehamilan 8-10 minggu, plasenta belum terbentuk dengan baik, meski begitu perlu dikenali terlebih dahulu tanda-tanda abortus, sebagai berikut :

1. Kejang atau nyeri di perut bagian bawah disertai keluarnya darah

2. Nyeri yang sangat atau menetap, dan berlangsung selama 24 jam atau lebih tanpa diserta perdarahan

3. Perdarahan banyak seperti menstruasi, namun tanpa nyeri

4. Keluar bercak ringan yang terus menerus selama 3 hari atau lebih

B. Etiologi Abortus

1. Faktor Janin (Zigot) yang Abnormal

a. Blghted Ovum atau ovum patologis yang tidak ditemukannya janin dalam kantung kehamilan

b. Kelainan kromosom

2. Faktor Maternal

a. Infeksi oleh virus dan kuman patogen seperti listeria monocytogenes dan takasoplasma, mykoplasma hominis dan urea plasma urea luticum yang terdapat pada traktus genitalia, herpes genitalis.

b. Penyakit dan kelainan yang mengakibatkan kehamilan menjadi beresiko tinggi seperti penyalit paru (TBC), anemia berat atau keracunan kehamilan.

c. Pengaruh endokrin kejadiannya sebesar 5-29 %, seperti hipertirodisme, diabetes mellitus (kencing manis) dan defisiensi progeteron.`

d. Kekurangan nutrisi berat

e. Faktor-faktor immunologis, yakni mekanisme autonium dan aloimun. Autonium adalah mekanisme timbulnya reaksi seluler atau humoral yang ditujukan pada suatu lokasi spesipik dalam tubuh hospes. Alogenesitas atau aloinum adalah ketidaksamaan genetic antara spesies yang sama, pada kejadian abortus habitualis terjadi kenaikan HLA (Human Leucocyte Antigen), dimana suami dan isteri yang sama-sama memiliki antigen yang serupa, antibody yang serupa antara antigen suami dan isteri yang dimiliki embrio, sehingga terjadi abortus

f. Umur ibu yang terlalu muda (< 20 tahun) dan terlalu tua (> 35 tahun) dimana uterus belum siap menerima zigot dikarenakan fungsi endometrium belum optimal pada umur ibu < 20 tahun dan terjadi penurunan fungsi endometrium karena atrofi terganggu vaskularisasinya saat ibu berumur > 40 tahun

g. Ibu dengan emosi yang lebih mudah mengalami gangguan kejiwaan, serta mengalami ketegangan mental akibat pengaruh lingkungan. Ketegangan lingkungan melalui selebrum akan mempengaruhi pengeluaran bahan-bahan dari eminentia mediana dan hipotalamus yang merupakan daerah otak manusia kaya akan ujung-ujung syaraf yang berhubungan langsung dengan pembuluh darah portal dari hipopisis hipotolamus menghasilkan beberapa hormon yang dikenal dengan Realising Hormon, yang akan masuk ke dalam sirkulasi darah portal dan tiba di hipofase.

C. Penggolongan Abortus

Keguguran atau abortus dapat digolongkan menjadi :

1. Berdasarkan Kejadiannya

a. Abortus Spontan, adalah abortus yang terjadi tanpa ada unsur tindakan dari luar dan dengan kekuatan sendiri.

Patofisiologi terjadinya abortus spontan mulai dari terlepasnya sebagian atau seluruh jaringan plasenta, yang menyebabkan perdarahan sehingga janin kekurangan nutrisi dan Oksigen. Bagian yang terlepas dianggap benda asing, sehingga rahim berusaha untuk mengeluarkan dengan kontraksi.

Pengeluaran tersebut dapat terjadi spontan seluruhnya atau sebagian masih tertinggal, yang menyebabkan berbagai penyulit. Oleh karena itu, abortus memberikan gejala umum sakit perut karena kontraksi rahim, terjadi perdarahan, dan disertai pengeluaran seluruh atau sebagian hasil konsepsi.

Bentuk perdarahan bervariasi, diantaranya :

- Sedikit-sedikit dan berlangsung lama

- Sekaligus dalam jumlah yang besar dapat disertai gumpalan

- Akibat perdarahan tidak menimbulkan gangguan apapun, dapat menimbulkan syok, nadi meningkat, tekanan darah turun, tampak anemis dan daerah ujung (akral) dingin.

Bentuk pengeluaran hasil konsepsi bervariasi, diantaranya :

- Umur hamil di bawah 14 minggu demana plasenta belum terbentuk sempurna, dikeluarkan seluruh atau sebagian hasil konsepsi

- Di atas 16 minggu, dengan pembentukan plasenta sempurna dapat didahului dengan ketuban pecah diikuti pengeluaran hasil konsepsi, dan dilanjutkan dengan pengeluaran plasenta, berdasarkan proses persalinannya dahulu disebutkan persalinan immaturus.

- Hasil konsepsi tidak dikeluarkan lebih dari 6 minggu, sehingga terjadi ancaman baru dalam bentuk gangguan pembekuan darah

Berbagai bentuk perubahan hasil konsepsi yang tidak dikeluarkan dapat terjadi :

- Mola karnosa : hasil konsepsi menyerap darah, terjadi gumpalan seperti daging

- Mola tuberosa : amnion berbenjol-benjol, karena terjadi hematoma antara amnion dan korion

- Fetus kompretus : janin mengalami mumifikasi, terjadi penyerapan kalsium dan tertekan sampai gepeng

- Fetus papiraseus : kompresi fetus berlangsung terus, terjadi penipisan, laksana kertas

- Blighted ovum : hasil konsepsi yang tidak dikeluarkan tidak mengandung janin, hanya benda kecil yang tidak berbentuk

Menurut Williams (1995), insiden abortus spontan sulit untuk ditentukan secara persis.

Pertama, harus dapat dicapai dulu kesepakatan mengenai kapan kehamilan secara tepat dimulai. Apakah penetrasi ovum oleh sperma sama artinya dengan suatu kehamilan ? apakah pembelahan sel pada ovum yang subur dalam membentuk blastosit merupakan tanda awal sebuah kehamilan ? atau apakah kehamilan dimulai dengan invasi blastosit kedalam endometrium ? Kedua, ketepatan teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi suatu kehamilan jelas merupakan hal yang penting.

Berdasarkan etiologi abortus spontan, lebih dari 80 % abortus terjadi dalam 12 minggu pertama kehamilan dan angka tersebut kemudian menurun secara cepat (Harlap, dkk, 1980). Anomali kromosom menyebabkan sekurang-kurangnya separuh dari abortus dini ini, dan kemudian secara pasti dan cepat angka ini akan menurun..

Resiko abortus spontan kelihatannya semakin meningkat dengan bertambahnya paritas disamping dengan semakin lanjutnya usia ibu serta ayah. Frekuensi abortus yang dikenali secara klinis bertambah dari 12 % pada wanita yang berusia kurang dari 20 tahun, menjadi 26 % pada wanita berumur di atas 40 tahun. Pengaruh pertambahan usia maternal dengan kejadian abortus, bahwa untuk usia paternal yang sama, kenaikannya adalah 12 % menjadi 20 % (Cunningham, 1995). Akhirnya insiden abortus bertambah jika kandungan wanita tersebut belum melebihi umur 3 bulan.

Mekanisme pasti yang bertanggung jawab atas peristiwa abortus tidak selalu tampak jelas, tetapi dalam beberapa bulan pertama kehamilan, ekspulsi ovum yang terjadi secara spontan hampir selalu didahului oleh kematian embrio atau janin.

Dengan alasan tersebut, pertimbangan untuk menentukan etiologi abortus dini harus melibatkan, kalau mungkin mengenai penyebab kematian janin. Dalam beberapa bulan berikutnya kehamilan, sering terjadi janin sebelum ekspulsi masih hidup dalam uterus dan harus mencari penjelasan lain yang dapat menerangkan peristiwa ekspulsi tersebut. Kematian janin dapat disebabkan oleh abnormalitas pada ovum-zigot atau oleh penyakit sistemik pada ibu, dan kadang-kadang mungkin pula disebabkan oleh penyakit dari ayahnya.

b. Abortus Buatan, yaitu abortus yang sengaja dilakukan sehingga kehamilan dapat diakhiri, Upaya menghilangkan hasil konsepsi dapat dilakukan berdasarkan :

- Indikasi Medis, menghilangkan kehamilan atas indikasi ibu untuk menyelamatkan jiwanya. Indikasi medis tersebut diantaranya ; penyakit jantung atau ginjal atau hati yang berat, gangguan jiwa ibu, dijumpai kelainan bawaan berat dengan pemeriksaan USG, atau gangguan pertumbuhan dan perkembangan rahim.

- Indikasi Sosial, yaitu pengguguran kandungan yang dilakukan atas dasar aspek sosial, seperti menginginkan jenis kelamin tertentu, tidak ingin punya anak, jarak kehamilan terlalu pendek, belum siap untuk hamil, atau kehamilan yang tidak diinginkan

2. Berdasarkan Pelaksanaanya

Berdasarkan pelaku gugur kandung, dapat dibagi atau dikelompokan :

a. Keguguran buatan terapeutik, yaitu keguguran yang dilakukan tenaga medis secara legeratis berdasarkan indikasi medis. Keguguran ini sering disebut dengan Abortus Provocatus artificialis, yaitu pengguguran kehamilan yang dilaksanakan dengan alat-alat, dengan alasan bahwa kehamilan membahayakan atau membawa maut bagi ibu

b. Keguguran buatan illegal, yaitu keguguran dilakukan tanpa dasar hukum atau melawan hukum. Keguguran ini sering disebut dengan Abortus Provocatus criminalis, yaitu pengguguran kehamilan tanpa alasan medis

3. Berdasarkan Gambaran Klinisnya

Berdasarkan gambaran klinisnya gugur kandung dibagi menjadi :

a. Keguguran lengkap (Abortus kompletus), yaitu keguguran dimana semua hasil konsepsi dikeluarkan seluruhnya

b. Keguguran tidak lengkap (Abortus inkompletus), yaitu keguguran dimana sebagian hasil konsepsi masih tersisa dalam rahim yang dapat menimbulkan penyulit

c. Keguguran mengancam (Imminen), yaitu keguguran yang sering disebut ancaman keguguran, dan konsepsi lepas sebagian atau ada perdarahan di belakang tempat penempelan (dinding rahim), dan janin masih di dalam dan hidup sehingga umumnya bisa diselamatkan

d. Keguguran tak terhalangi (Abortus insipiens), yaitu keguguran dimana sebagian jaringan di mulut rahim tapi konsepsi masih di dalam. Kecil sekali untuk melanjutkan kehamilan

e. Keguguran habitualis atau keguguran berulang-ulang, yaitu keguguran yang telah berulang dan berturut-turut terjadi, sekurang-kurangnya 3 kali berturut-turut.

f. Missed Abortions atau keguguran tertunda, yaitu keadaan dimana janin telah mati sebelum minggu ke-22 tetapi tertahan di dalam rahim selama 2 bulan atau lebih setelah janin mati.

4. Dasar Diagnosis Abortus

Dugaan keguguran atau abortus, khususnya abortus spontan diperlukan beberapa kriteria sebagai berikut :

a. Terdapat keterlambatan datang bulan

b. Terjadi perdarahan

c. Disertai sakit perut

d. Dapat diikuti oleh pengeluaran hasil konsepsi

e. Pemeriksaan hasil tes hamil dapat masih positif atau sudah negatif

Hasil pemeriksaan fisik terhadap penderita bervariasi ;

a. Pemeriksaan fisik bervariasi tergantung jumlah perdarahan

b. Pemeriksaan fundus uteri :

- tinggi dan besarnya tetap dan sesuai dengan umur kehamilan

- tinggi dan besarnya sudah mengecil

- fundus uteri tidak teraba di atas simfisi

c. Pemeriksaan dalam :

- serviks uteri masih tertutup

- serviks sudah terbuka dan dapat teraba ketuban dan hasil konsepsi dalam vakum uteri atau pada kanalis servikalis

- besarnya rahim (uterus) telah mengecil

- konsistensinya lunak

D. Diagnosis Klinis Keguguran

Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat ditetapkan diagnosis klinik keguguran (abortus)

1. Abortus imminen sering disebut ancaman abortus, abortus ini baru mengancam dan masih ada harapan untuk mempertahankannya.

Keguguran mengancam (abortus imminen) ditegakkan dengan jalan :

a. terdapat keterlambatan datang bulan

b. terdapat perdarahan, disertai perut sakit (mules)

c. pada pemeriksaan dijumpai besarnya rahim sama dengan umur hamil dan terjadi kontraksi otot rahim

d. hasil pemeriksaan dalam terdapat perdarahan dari kanalis servikalis, kanalis servikalis masih tertutup, dapat dirasakan konstraksi otot rahim

e. hasil pemeriksaan tes hamil masih positif

Penanganan abortus imminen dilaksanakan dengan :

  1. Istirahan total di tempat tidur

- meningkatkan aliran darah ke rahim

- mengurangi rangsangan mekanis

  1. Obat-obatan yang akan diberikan

- penenang ; Penobarbital 3 x 30 mgr, valium

- anti perdarahan, Adona, Transamin

- Vitamin B Kompleks

- Hormonal, Progesteron

- Penguat plasenta, Gestanon, Duphaston

- Anti konstraksi rahim, Duvadilan, Papaverin

  1. Evaluasi

- perdarahan jumlah dan lamanya

- tes kehamilan dapat diulangi

- konsultasi pada dokter ahli untuk penanganan lebih lanjut dan pemeriksaan Ultrasonografi

2. Abortus Insipien

Abortus insipien atau keguguran membakat ini dapat dihentikan, karena setiap saat dapat terjadi ancaman perdarahan dan pengeluaran hasil konsepsi. Abortus insipien ditandai dengan :

a. perdarahan lebih banyak

b. perut mules (sakit) lebih hebat

c. pada pemeriksaan dijumpai perdarahan lebih banyak, kanalis servikalis terbuka dan jaringan/hasil konsepsi dapat diraba

Penanganan abortus insipien dapat dilakukan dengan :

a. pada umur hamil kurang dari 14 minggu, dapat segera dilakukan kuretase, sehingga hasil konsepsi seluruhnya dapat dikeluarkan

b. pada kasus dengan perdarahan banyak, dikeluarkan secara ligital

3. Abortus inkompletus (keguguran tidak lengkap)

Abortus inkomplektus (tidak lengkap) ditandai dengan dikeluarkannya sebagian hasil konsepsi dari uterus sehingga sisanya memberikan gejala klinis. Gjala klinis yang mungkin terjadi :

a. perdarahan memanjang sampai terjadi keadaan anemis

b. perdarahan mendadak banyak menimbulkan keadaan gawat

c. terjadi infeksi dengan ditandai suhu tinggi

d. dapat terjadi degenerasi ganas (korio karsinoma)

Pada pemeriksaan abortus inkompletus dijumpai gambaran sebagai berikut :

a. kanalis serkalis terbuka

b. dapat diraba jaringan dalam rahim atau di kanalis servikalis

c. kanalis servikalis tertutup dan perdarahan berlangsung terus

d. dengan pemeriksaan sonde perdarahan bertambah

Penangan abortus inkompletus dilakukan sebagai berikut :

a. dalam keadaan gawat karena kekurangan darah, dapat dipasang infus dan transfusi darah, untuk memulihkan keadaan umum.

b. diikuti kerokan, langsung pada umur hamil kurang dari 14 minggu, dan dengan induksi pada umur hamil di atas 14 minggu.

c. Pengobatan, dengan diberikan uterotonika dan anti biotika untuk menghindari infeksi

4. Abortus kompletus

Abortus kompletus berarti seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan, sehingga tidak memerlukan tindakan. Gambaran klinisnya adalah uterus telah mengecil, perdarahan sedikit, dan kanalis servikalis tetap tertutup.

5. Abortus Infeksius

Abortus infeksius merupakan keguguran yang disertai infeksi sebagian besar dalam bentuk tidak lengkap dan dilakukan dengan cara kurang legeartis. Abortus dengan infeksi memerlukan tindakan medis khusus, sehingga perlu dilakukan konsultasi dengan dokter untuk penanganannya. Disamping itu penatalaksanaan khusus diperlukan pada abortus habitualis dan missed abortion

Dari uraian mengenai abortus di atas, abortus atau keguguran secara umum memiliki penyulit sebagai berikut :

a. Perdarahan

- dapat terjadi sedikit dalam waktu panjang

- dapat terjadi mendadak, sehingga menimbulkan syok

b. Infeksi

- pada penangan yang tidak legeartis

- keguguran tidak lengkap

c. Degenerasi ganas

- abortus dapat menjadi korio karnisoma sekitar 15 – 20 %

- gejala korio karnisoma adalah terdapat perdarahan berlangsung lama, terjadi pembesaran/ karnisoma adalah terdapat perdarahan berlangsung lama, terjadi pembesaran/perlunakan rahim (Trias Acosta Sison), terdapat metafase ke vagina atau lainnya

d. Penyulit saat melakukan kuterase, dapat terjadi perforase dengan gejala :

- kuret terasa tembus

- penderita kesakitan

- penderita syok

- dapat terjadi perdarahan dalam perut dan infeksi dalam abdomen

E. Beberapa Hasil Penelitian

Di bawah ini akan diuraikan phasil penelitian yang berkaitan dengan kejadian abortus berdasarkan umur ibu, paritas, dan pendidikan

1. Umur ibu

Umur adalah lamanya waktu hidup atau ada atau sejak dilahirkan dihitung dalam tahun (KBBI, 1989). Dan salah satu factor yang penting dalam kehamilan adalah umur ibu untuk kepentingan ibu maupun janinnya (Depkes RI, 1994).

Karena umur ibu mempengaruhi proses kehamilan bahkan berpengaruh pada kehamilan yang beresiko, terutama adanya kemungkinan terjadi abortus. Resiko terjadi abortus spontan menurut Fraser (1964) dan Wilson, dkk (1986), lebih sering dengan umur ibu < 20 tahun (12 %), dan umur > 40 tahun (26 %).

Umur terbaik bagi wanita untuk hamil dan melahirkan adalah antara 20 sampai 30 tahun, sesangkan kehamilan di atas umur 35 tahun m,emiliki resiko tinggi terutama apabila terdapat kelainan bawaan pada ibu, dan umur di atas 40 tahun harus dipertimbangkan. Usia lanjut dapat berpengaruh terhadap persalinan, seperti halnya pada usia lanjut akan lebih banyak memiliki penyakit, seperti darah tinggi atau kencing manis, perdarahan karena plasenta previa atau gangguan kontraksi rahim lainnya.

2. Paritas

Paritas adalah pengelompokan wanita yang telah melahirkan sejumlah anak hidup atau pernah punya anak yang meninggal saat dilahirkan (Morby’s Medical and Nursing, 1983). Resiko abortus spontan meningkat seiring dengan bertambahnya paritas serta umur ibu atau ayah, dan menurut Hartanto, 2003), kehamilan menjadi sangat beresiko tinggi pada wanita yang mempunyai paritas > 4, dan diantaranya kehamilan setelah 4 kelahiran (terlalu banyak anak).

Selain itu mengetahui riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu penting untuk mengetahui resiko-resiko kehamilan sekaran dan yang akan dating. Riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu dapat memprediksi kehamilan sekarang, dan yangakan dating, seperti : 1) riwayat operasi plastik fistel atau tumor vagina dan sesarea, ¹) riwayat kehamilan telur, abortus berulang IUFD, perdarahan saat kehamilan, infeksi saat hamil, anak terkecil > 5 tahun tanpa KB, riwayat mofa hidafidosa dan kariokarsinoma, dan 3) riwayat persalinan, prematuritas, BBLR, persalinan lahir mati, persalinan induksi, manual placenta, perdarahan post partum, persalinan dengan tindakan vakum ekstrasi atau forcep ekstrasi, versi ekstrasi, dan sesaria (Manuaba, 1998)

3. Pendidikan

Umumnya ibu yang mengalami abortus mempunyai pendidikan 1-9 tahun dan memungkinkan abortus pada pendidikan terendah lebih besar disbanding kelompok yang berpendidikan lebih tinggi. Menurut Prawirohardjo (1999), bahwa kejadian abortus pada wanita yang berpendidikan lebih rendah lebih banyak.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Saifudin, dkk (2002) bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan makin rendah kejadian abortus, yaitu tertinggi pada golongan berpendidikan 10-12 tahun (SMA), secara teoritis diharapkan wanita yang berpendidikan lebih tinggi cenderung lebih memperhatikan kesehatan diri dan keluarganya.

F. Kerangka Teori

Dari uraian sebelumnya dikemukakan bahwa yang dapat menyebabkan terjadinya abortus adalah faktor pertumbuhan hasil konsepsi, kelainan pada plasenta, penyakit ibu, kelainan yang terdapat dalam rahim serta faktor maternal. Kerangka teori yang menggambarkan terjadinya abortus dapat dilihat pada kerangka di bawah ini.

KerangkaTeori

Faktor * Faktor kromosom

Pertumbuhan hasil * Faktor lingkungan

Konsepsi endometrium

(manuaba, 1998)

Kelainan pada * Infeksi pada plasenta

Plasenta *Gangguan pembuluh darah

(Manuaba, 1988) plasenta

* Hipertensi

Penyebab Penyakit ibu * Penyakit infeksi

Abortus (Manuaba, 1998) * Anemia Ibu

* Penyakit menahun ibu

Kelainan yang

Terdapat dalam rahim

(Manuaba, 1998)

Etiologi Abortus Faktor Maternal

(Cunningham,1995) Umur

· >35 tahun

· 20-35 tahun

· <20 tahun

Paritas

· >4

· 2–4

· <2

Gambar 2.1 Kerangka Teori


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan suatu keadaan secara objektif (Notoatmojo, 2002).

Menurut Arikunto (2002), bahwa penelitian deskriptif bermaksud untuk mengetahui keadaan sesuatu mengenai keadaan apa, bagaimana, berapa banyak dan sejauh mana sehingga bersifat menjelaskan dan menerangkan suatu hal . Jadi dalam penelitian ini penulis menggambarkan hubungan antara umur, paritas, dan pendidikan dengan kejadian abortus.

1. Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah studi korelasi, yaitu penelitian atau penelaahan hubungan antara dua variabel pada suatu situasi atau kelompok subjek (Notoatmojo, 2002). Alasan memilih jenis penelitian studi korelasi ini adalah untuk mengetahui korelasi antara suati variabel dengan variable yang lain diusahakan dengan mengindentifikasi variabel yang ada pada objek, kemudian diidentifikasi pula variabel lain yang ada pada objek yang sama dan dilihat apakah hubungan antara keduanya, yaitu hubungan antara umur, paritas, dan pendidikan dengan kejadian abortus

Mengingat keterbatasan data dan waktu, penulis hanya meneliti hubungan antara umur, paritas, dan pendidikan dengan kejadian abortus yang dapat dilihat pada skema berikut :

.

Karakteristik Ibu

1. Umur Spontan

· < 20 & >35 (resiko)

· 20-35 (tdk resiko)

Kejadian

2. Paritas Abortus

· < 2 & >5 (resiko)

· 2 – 5 (tdk resiko) Buatan

3. Tingkat Pendidikan

· Rendah (resiko)

· Menengah (tdk resiko)

Variabel Independen Variabel Dependen

Gambar 3.1 Rancangan Penelitian

2. Paradigma Penelitian

Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum janin dapat hidup diluar kandungan (sebelum usia 20 minggu kehamilan), bukan semata untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dalam keadaan darurat tapi juga bisa karena sang ibu tidak menghendaki kehamilan itu ( Wijono, 2000 ). Resiko abortus kelihatan semakin meningkat dengan bertambah lanjutnya usia ibu. Frekuensi abortus yang dikenali secara klinis bertambah dari 12 % pada wanita melahirkan yang berusia kurang dari 20 tahun, menjadi 26 % pada umur wanita melahirkan di atas 40 tahun ( Cunningham, 1995 )

Berdasarkan katagori klinik abortus terdiri dari abortus imminens konsepsi (hasil pembuahan) lepas sebagian atau ada pendarahan di belakang tempat penempelan, yaitu dinding rahim; abortus inkomplit sebagian jaringan di mulut rahim, tapi konsepsi masih di dalam; abortus inkomplit sebagian jaringan konsepsi sudah terlepas dari dinding rahim dan ada yang sudah berada di mulut rahim; abortus komplit janin sudah terlepas sama sekali dari dinding rahim; abortus tertunda.

Apapun kejadian abortus yang dilakukan seorang ibu hamil berhubungan dengan karakteritik ibu hamil itu sendiri, yaitu umur ibu, paritas yang dimiliki ibu serta tingkat pendidikan. Ada dua macam abortus, yaitu abortus spontan terjadi secara alami, tanpa intervensi tindakan medis, dan abortus yang direncanakan dimana dilakukan melalui tindakan medis dengan obat-obtan saja (jamu, dsb), atau tindakan bedah, atau tindakan lain yang menyebabkan pendarahan lewat vagina.

Tidak sedikit masyarakat yang menentang abortus beranggapan bahwa abortus sering dilakukan oleh perempuan yang tidak menikah karena alasan hamil di luar nikah atau alasan-alasan lain yang berhubungan dengan norma khususnya norma agama. Beberapa data yang dihimpun Utomo (2001) mennjukkan bahwa 71 % perempuan yang melakukan abortus adalah perempuan menikah (Dewi, 1997), 98,8 % perempuan yang melakukan abortus di sebuah klinik swasta di Jakarta, telah menikah dan rata-rata telah memiliki anak (Herdayati, 1998), alasan yang umum adalah sudah tidak ingin memiliki anak lagi. Data ini diperkuat oleh survey yang dilakukan oleh Biro Pusat Statistik, bahwa 75 % wanita usia reproduksi berstatus kawin tidak menginginkan tambahan anak (BPS, DepKes,1988).

Dari data di atas mengindikasikan bahwa pelaku-pelaku abortus adalah perempuan-perempuan yang memiliki umur bervariasi serta alasan jumlah anak yang telah dimilikinya, dan cara atau pilihan abortus yang dilakukannyapun berbeda-beda. Oleh karena itu, hingga saat ini Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih menduduki urutan teratas di Asia Tenggara sebagai akibat kejadian abortus (390 per 100.000 kelahiran tahun 2000), walaupun konstribusi abortus sering tidak dilihat sebagai salah satu faktor tinggiya angka tersebut. Abortus sendiri masih tetap merupakan suatu wacana yang selalu mengundang pro dan kontra baik hukum maupun agama yang mungkin tidak akan habis jika tidak ada peraturan baru tentang abortus aman khususnya yang tegas dan jelas.

3. Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini adalah meliputi :

1. Umur

2. Paritas

3. Tingkat Pendidikan

4. Kejadian Abortus (Spontan dan Buatan)

4. Definisi Operasional

Untuk membatasi ruang lingkup atau penelitian variabel-bariabel yang diteliti, perlu sekali variable-variabel tersebut diberi batasan atau definisi operasional. Definisi operasional ini juga bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap variabel-variabel serta pengembangan instrumen (Notoatmojo, 2002).

Tabel 3.1

Batasan-Batasan Variabel Penelitian

No

Variabel

Definisi Operasional

Kategori

Alat Ukur

Skala

1

Umur

Lama waktu hidup ibu yang dihitung dalam tahun saat dilakukan pengkajian

1. Resiko

(< 20 & > 35)

2. Tdk resiko

(20-35 tahun)

Rekam medik di RSUD Subang

Ordinal

¹

Paritas

Jumlah anak yang dilahirkan ibu baik yang lahir hidup maupun mati saat dilakukan pengkajian

1. Resiko

< 2 & > 5

2. Tdk resiko

2 – 5

Rekam medik di RSUD Subang

Ordinal

3

Tingkat pendidikan

Jenjang pendidikan yang telah dijalani ibu sampai saat dilakukan pengkajian

1. Tdk sekolah dan SD (rendah)

2. SMP & SMA (menegah)

1. Resiko

(tidak sekolah

sampai SD)

2. Tdk resiko

(SMP – SMA)

Rekam medik di RSUD Subang

Ordinal

4

Kejadian

Abortus

Tindakan penghentian kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar kandungan

1. Spontan

2. Buatan

Rekam medik di RSUD Subang

Nominal

B. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2002). Populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil yang mengalami abortus periode April sampai Desember 2005 di RSUD Subang, sebanyak 288 orang.

2. Sampel

Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik Random Sampling secara Systematic Sampling, yaitu membagi jumlah atau anggota populasi dengan perkiraan jumlah sampel yang diinginkan. Hasilnya adalah interval sample. Sampel yang diambil dengan membuat daftar elemen atau anggota populasi secara acak antara 1 sampai n, kemudian membagi dengan jumlah sampel yang diinginkan. Adapun jumlah sampel yang akan diambil adalah dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

N

X =

n

Keterangan :

X : Interval

N : besar populasi

n : Besar sampel

288

X =

167

= 1,725

Sampel pada penelitian ini adalah subjek studi seluruh ibu hamil yang mengalami kejadian abortus spontan dan buatan di RSUD Subang periode April sampai Desember 2005 sebanyak 288 kasus, jumlah sampel dihitung dengan rumus :

N

n = (Notoatmojo, 2002)

1 + N (d) 2

Keterangan : N = besar populasi

n = besar sampel

d = tingkat kepercayaan/ketetapan yang diinginkan (0,05)

Sehingga :

288

n =

1 + 288 (0,05) 2

= 167,4, dibulatkan menjadi 167

C. Teknik Pengumpulan Data dan Prosedur Penelitian

1. Teknik Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan adalah berupa data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari Catatan Rekam Medik kejadian abortus di RSUD Subang periode April sampai Desember 2005.

2. Prosedur Penelitian

a. Tahap Persiapan

1) Pemilihan lahan penelitian

2) Melakukan studi kepustakaan

3) Membuatan data check list

4) Seminar proposal

b. Tahap Pelaksanaan

1) Melakukan pengumpulan data

2) Melakukan pengolahan data

3) Menarik kesimpulan

c. Tahap Akhir

1) Menyusun hasil akhir penelitian

2) Penyajian hasil

3. Pengolahan Data

a. Editing

Memilih atau menyortir data sedemikian rupa sehingga hanya data yang terpakai saja yang tinggal. Hal ini bermaksud untuk merapihkan data agar bersih, rapi dan tinggal mengadakan pengolahan lanjutan

b. Coding

Tahap ini merubah data yang dikumpulkan ke dalam bentuk yang lebih ringkas. Memberi kode untuk masing-masing variabel terhadap data yang diperoleh dari sumber data yang telah diperiksa kelengkapannya

c. Entry

Data yang telah diberi kode kemudian dimasukan ke dalam komputer

d. Cleaning

Merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah dimasukan, dilakukan bila terdapat kesalahan dalam memasukan data yaitu dengan melihat distribusi frekuensi dari variable dan menilai kelogisannya

D. Analisis Data

Adapun data dianalisis secara univariat dan bivariat

1. Analisis univariat dimaksudkan untuk mengetahui distribusi frekuensi dari variable-variabel yang diamati, yaitu umur, paritas, dan pendidikan.

2. Analisis bivariat dilakukan terhadap dua variable yang diduga berhubungan atau berkorelasi. Yaitu variable umur, paritas dan pendidikan dengan kejadian abortus. Dalam analisis ini dapat dilakukan pengujian statistk, dengan Chi-Square (c 2 ) dengan tingkat kepercayaan 0,05 (Sugiyono, 2001)

E. Lokasi dan Jadwal Penelitian

Lokasi penelitian merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari suatu kegiatan penelitian. Agar dicapai efisiensi dan efektivitas dalam melakukan penelitian, baik dari segi waktu, tenaga dan biaya, penulis mengambil lokasi penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Subang. Lokasi tersebut ditetapkan sebagai tempat penelitian dikarenakan tempat tinggal penulis adalah di Kabupaten Subang yang tidak jauh dari RSUD. Disamping itu penentuan lokasi tersebut berkaitan dengan keinginan penulis untuk lebih mengenal mengenai peta pelayanan kesehatan terhadap masyarakat kabupaten Subang, khususnya pelayanan yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

2. Jadwal Penelitian

Penelitian dilakukan dengan penjadwalan kegiatan sebagai berikut :

Tabel 3.2

Jadwal Kegiatan Penelitian

No

Jenis Kegiatan

Tahun 2006

April

Mei

Juni

Juli

Agustus

1

Persiapan

X

2

Pengajuan proposal

X

3

Seminar proposal

X

4

Pengumpulan data

X

X

5

Pengolahan data

X

X

6

Penulisan KTI

X

X

X

7

Ujian Sidang KTI

X

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, dari penelitian ini dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Terdapat hubungan antara karakteristik ibu dengan kejadian abortus di RSUD Subang periode April sampai Desember 2005.

2. Analisis univariat, menunjukkan bahwa kejadian abortus spontan menunjukkan nilai yang lebih tinggi, yaitu 161 kasus (96,4 %) dibandingkan dengan kejadian abortus buatan, yaitu 6 kasus (3,6 %)

3. Analisis univariat, menunjukkan bahwa umur kurang dari 20 dan lebih dari 35 tahun (resko) menunjukkan angka 46 (28,6 %) untuk abortus spontan dan 2 (33,3 %) untuk abortus buatan, sedangkan umur antara 20 sampai 35 tahun (tidak beresiko) menunjukkan angka 115 (71,4 %) untuk abortus spontan dan 4 (66,7 %) untuk abortus buatan.

4. Analisis univariat, menunjukkan bahwa paritas kurang dari 2 dan lebih dari 5 (Resiko) menunjukkan angka 49 (30,4 %) untuk abortus spontan dan 2 (33,3 %) untuk abortus buatan, sedangkan paritas antara 2 sampai 5 (Tidak beresiko) menunjukkan angka 112 (69,6 %)untuk abortus spontan dan 4 (66,7 %) untuk abortus buatan.

5. Analisis univariat, menunjukkan bahwa pendidikan rendah (Resiko) menunjukkan angka 89 (55,3 %) untuk abortus spontan dan 4 (66,7 %) untuk abortus buatan, sedangkan pendidikan menengah (tidak beresiko) menunjukkan angka 72 (44,7 %) untuk abortus spontan dan 2 (33,3 %) untuk abortus buatan.

6. Analisis bivariat dengan menggunakan Chi-square, menunjukan a) tidak terdapat hubungan antara umur dengan kejadian abortus, dengan diperolehnya nilai p Value sebesar 1,000 yang lebih besar dari nilai alpha 0,05 b) tidak terdapat hubungan antara paritas dengan kejadian abortus, dengan diperolehnya nilai p value sebesar 1,000 yang lebih besar dari nilai alpha 0,05 dan c) tidak terdapat hubungan antara pendidikan dengan kejadian abortus di RSUD Subang, dengan diperolehnya nilai p value sebesar 0,694 yang lebih besar dari nilai alpha 0,05.

B. Saran

Dalam penelitian ini terdapat karakteristik ibu seperti umur, paritas dan pendidikan, dimana setelah dilakukan menunjukkan hubungan yang tidak signifikan dengan kejadian abortus di RSUD Subang, akan tetapi tidak menutup kemungkinan apabila dilakukan terhadap seluruh populasi atau tidak dengan pengambilan sampel atau apabila penelitian ini dilakukan di tempat lain akan memiliki hubungan yang signifikan.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat dikemukakan beberpa saran sebagai berikut :

1. Bagi RSUD Subang

Abortus sebaiknya dilakukan di Rumah Sakit atau Klinik yang memenuhi persyaratan dan mendapat izin. Melihat angka-angka yang ada dalam kejadian abortus, diharapkan pihak RSUD lebih meningkatkan pelayanan terhadap pasien abortus melalui pelatihan-pelatihan , sehingga banyak pelayanan medis menambah pengalamannya, khususnya di dalam menangani pasien-pasien abortus.

2. Bagi Tenaga Kesehatan

Angka kematian ibu yang disebabkan oleh kejadian abortus masih cukup tinggi dan masih terbilang besar untuk ukuran rumah sakit daerah. Oleh sebab itu pada pelayanan terhadap ibu hamil, para bidan dapat memberikan informasi mengenai pencegahan terjadinya abortus pada ibu hamil, dan menyarankan agar setiap ibu yang akan merencanakan kehamilan untuk lebih memperhitungkan aspek-aspek yang mempengarihinya.

3. Bagi Pendidikan

Buku sumber yang berkaitan dengan permasalahan abortus sebaiknya tersedia di institusi pendidikan, karena pengetahuan dan perkembangan yang berkaitan dengan kejadian abortus terus meningkat. Baik kejadian abortus yang terjadi di dalam negeri maupun di luar negeri, perlu terus diikuti perkembangannya oleh mahasiswa, khususnya mahasiswa yang berkepentingan dengan ibu hamil dan kejadian abortus.

4. Bagi Peneliti

Penelitian ini mempunyai kelemahan dan keterbatasan pada penentuan sampel, sumber data dan variabel penelitian sehingga diharapkan peneliti lain dapat melakukan penelitian yang lebih sempurna dengan memperbaiki keterbatasan dan kelemahan yang ada dalam penelitian ini

5. Bagi Masyarakat

Untuk meminimalkan terjadinya abortus, apalagi abortus buatan, masyarakat dapat berperan serta dalam upaya penurunan kejadian abortus tersebut, dengan ikut serta dalam program keluarga berencana, sehingga dapat merencanakan waktu yang tepat untuk hamil dan memiliki anak .


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoBodyTextIndent2, li.MsoBodyTextIndent2, div.MsoBodyTextIndent2 {mso-style-unhide:no; mso-style-link:”Body Text Indent 2 Char”; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; text-indent:35.45pt; line-height:200%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoBodyTextIndent3, li.MsoBodyTextIndent3, div.MsoBodyTextIndent3 {mso-style-unhide:no; mso-style-link:”Body Text Indent 3 Char”; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:70.9pt; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; text-indent:-70.9pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} a:link, span.MsoHyperlink {mso-style-unhide:no; color:blue; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; color:purple; mso-themecolor:followedhyperlink; text-decoration:underline; text-underline:single;} span.BodyTextIndent2Char {mso-style-name:”Body Text Indent 2 Char”; mso-style-unhide:no; mso-style-locked:yes; mso-style-link:”Body Text Indent 2″; mso-ansi-font-size:12.0pt;} span.BodyTextIndent3Char {mso-style-name:”Body Text Indent 3 Char”; mso-style-unhide:no; mso-style-locked:yes; mso-style-link:”Body Text Indent 3″; mso-ansi-font-size:12.0pt;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 {size:21.0cm 842.0pt; margin:4.0cm 3.0cm 3.0cm 4.0cm; mso-header-margin:70.9pt; mso-footer-margin:2.0cm; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

DAFTAR PUSTAKA

Bobak, Lowdermilk, Jensen. (2004). Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Edisi 4 Alih Bahasa oleh Maria A. Wijayarini dan Peter I Anugrah. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG.

Cunningham. (1995). Obstetri Williams. Jakarta : RCG

Depdiknas. (2001). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Depdiknas.

Dinkes (2005). Profil Kesehatan Jawa Barat tahun 2004. Bandung :Dinas Kesehatan Jawa Barat .

.Erica, (1994). Epidemiologi. http://situs.kesrepto.info/gendervaw/jun/2002/utama03.htm

Handayani, D. (2006). Abortus, Cari Penyebab. http://www.jawapos.com/Indeks

Hartanto (2003). Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan

Kodim, Nasrin. (2001). Epideminologi Abortus yang Tidak Aman. http://www.tempo.co.id/medika/arsip/012001/top-1.htm.

Manuaba, IBG. (1998). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.

NN. (2005). Buku Saku pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Bandung : Tim Penggerak PKK Propinsi Jawa Barat.

Natoatmojo, S. (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

Prawiroharjo. (1999). Pelayanan Kesehatan Maternal dan Dan Sikonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.

Saifudin (2002). Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

Sastrawinata, Sulaeman (1981). Obstetri Patologi. Bandung : Bagian Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.

Soegiyono, (2001). Metode Penelitian Administrasi. Bandung : Alfabeta.

Utomo, B. et.al. (2001). Incidence and Social Psychological Aspects of Abortion in Indonesia : A Communit-Bassed Survey in 10 Major Cities and 6 Districts, Year 2000. Jakarta : Center for Health Research University of Indonesia.

WHO. (1995). Complication of Abrtion, technical and Managerial for Preventing and Treatment. Geneva

Wijono. (2000). Abortus di Indonesia.

http://situs.kesrepro.info/gendervaw/jun/2002/utama03.htm.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s